Iri Melihat Teman Sukses, Awas Gejala Crab Mentality

Iri Melihat Teman Sukses, Awas Gejala Crab Mentality

  • Bagikan
Kesuksesan orang lain terkadang menimbulkan perasaan iri/tugu jatim
Kesuksesan orang lain terkadang menimbulkan perasaan iri. (Foto: Canva)

Oleh: Muhammad Afif Aminudien*

Tugujatim.id – Belakangan ini aku merasa terbebani dan merasa terlalu ketinggalan jauh dari teman temanku. Mereka sudah sukses, lebih pintar dan banyak prestasi. Sudah bisa berlibur ke luar negeri bahkan mendapatkan beasiswa sekolah di luar negeri.

Tapi aku juga beruntung memiliki teman yang pintar dan sukses seperti mereka. Aku berharap bisa seperti mereka. Jadi apa penyebabnya aku bersikap seperti ini?

Pernah kah kamu punya perasaan yang mirip sepertiku? Kesuksesan merupakan sesuatu yang ditunggu-tunggu oleh kita yang tengah berjuang. Kita adalah satu dari sekian orang yang sedang menanti sukses. Tetapi, bagaimana kalau temanmu ternyata mencapai sukses lebih dulu daripada kamu, padahal dulu pernah berjuang bersama.

Perasaan iri bukan tidak mungkin dimiliki oleh semua orang. Iri timbul karena situasi usaha rendah yang menyebabkan kesuksesan dibandingkan dengan situasi usaha tinggi yang menyebabkan kesuksesan.

Perasaan iri terhadap kesuksesan teman ini juga sering disebut dengan mental kepiting atau crab mentality.  Jika kamu mengamati kepiting dalam sebuah ember, kaki dan tangan mereka saling menarik satu sama lain apabila salah satu kepiting hampir mencapai ujung ember.

Mereka seperti punya tujuan baik, karena tidak ingin ada satu kepiting yang keluar dan menjadi santapan hewan lain. Dibandingkan melarikan diri, kepiting rela untuk mati bersama. Namun crab mentality ini dianalogikan sebagai perilaku egois dan iri terhadap kesuksesan orang lain. Maka dari itu, ketika salah satu di antara kepiting itu berusaha keluar, kepiting lainnya akan berusaha menahan kepiting tersebut.

Penyebab Crab Mentality

Ada beberapa hal yang menyebabkan fenomena crab mentality terjadi, salah satunya sifat ketergantungan kita dalam hidup berkelompok. Di samping memudahkan satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama, hidup berkelompok juga ada persaingan untuk menunjukkan siapa yang lebih baik.

Hal ini disebabkan oleh rasa cemburu, malu, dendam, harga diri, serta sifat kompetitif yang tinggi. Meski sindrom ini menghasilkan perasaan positif terhadap orang yang melakukannya, namun efeknya mungkin tidak akan berlangsung lama karena pada dasarnya pasti selalu ada orang yang lebih pintar, kaya, dan beruntung dari orang lain.

Cara Mengatasinya

Sebagai manusia tentunya wajar selalu borkompetisi khususnya dalam belajar dan bekerja. Kita selalu berusaha memperoleh hasil terbaik. Apabila kita menemukan pencapaian yang tidak sebanding dengan teman kita, rasa iri merupaka hal yang wajar karena kita sedang bertanding dan memperebutkan kemenangan yang sama. Maka untuk mengatasinya kita harus bisa menahan diri dan lapang dada.

*Penulis adalah anggota Pondok Inspirasi

  • Bagikan