News  

Jadi Korban Tragedi Kanjuruhan Malang, Kisah Aremania asal Tutur Pasuruan Baru Rayakan Ultah Sweet Seventeen

Aremania asal Tutur Pasuruan.(Foto: Dok keluarga/Tugu Jatim)
Sosok Muhammad Rian Akbar, 17, Aremania asal Desa Andonosari, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, semasa hidup yang jadi korban tragedi Kanjuruhan Malang pada Sabtu (01/10/2022). (Foto: Dok keluarga)

PASURUAN, Tugujatim.id – Sebanyak 8 Aremania asal Kabupaten Pasuruan jadi korban tragedi Stadion Kanjuruhan Malang dalam pertandingan Arema FC vs Persebaya Surabaya pada Sabtu (01/10/2022). Meninggalnya sejumlah Aremania asal Tutur Pasuruan selain menorehkan duka mendalam bagi keluarga, ternyata juga menyimpan kisah tragis.

Salah satu kisah tragis ini dituturkan oleh keluarga almarhum Muhammad Rian Akbar, 17, Aremania asal Tutur Pasuruan. Sri, ibu korban warga asal Desa Andonosari, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, ini menceritakan tidak lama sebelum tragedi Kanjuruhan Malang, anaknya baru saja merayakan ulang tahun ke-17.

“Baru saja tiga hari kemarin anak saya berulang tahun ke-17,” ujar Sri pada Senin (03/10/2022).

Keluarga juga sudah merasakan firasat tidak enak ketika korban meminta izin ingin menonton pertandingan di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang. Bahkan, Sri menjelaskan, dirinya sudah melarang anaknya untuk pergi menonton pertandingan Arema FC vs Persebaya.

Aremania asal Tutur Pasuruan. (Foto: Laoh Mahfud/Tugu Jatim)
Pihak orang tua korban Muhammad Rian Akbar saat ditemui di rumah duka di Desa Andonosari, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, pada Senin (03/10/2022). (Foto: Laoh Mahfud/Tugu Jatim)

Namun, Aremania asal Tutur Pasuruan ini tetap merengek agar diperbolehkan menonton pertandingan Arema, tim idolanya. Bahkan, dia sempat berujar ini adalah terakhir kalinya menonton pertandingan sepak bola.

“Sempat dilarang, tapi tetap minta nonton dan janji kalau ini yang terakhir dan nggak nonton lagi,” jelasnya.

Sri tidak menyangka anaknya akan pergi meninggalkannya secepat itu. Dia juga masih terngiang-ngiang momen pertemuan terakhir ketika anaknya meminta izin menonton.

Menurut Sri, dirinya tidak merasakan firasat dan gelagat berbeda dari Muhammad Rian Akbar jelang kepergiannya.

“Rian juga seperti biasanya. Nggak ada yang aneh atau gimana-gimana. Ya normal-normal saja,” ujarnya.