JEMBER, Tugujatim.id – Prestasi gemilang ditorehkan kontingen Wing Chun Jawa Timur dalam perhelatan Kejurnas Wing Chun 2025 yang berlangsung secara virtual, Minggu pekan lalu (26/10/2025).
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Jatim berhasil meraih posisi puncak klasemen umum dengan koleksi delapan medali, tiga emas, tiga perak, dan dua perunggu. Dari total perolehan tersebut, tujuh medali disumbang oleh para petarung dari Jember, sedangkan satu medali lainnya dipersembahkan atlet Surabaya.
Capaian ini menegaskan dominasi Kabupaten Jember dalam kancah Wing Chun nasional. Christine Puspawardani Gunawan, pelatih tim Wing Chun Jember, mengungkapkan bahwa sepuluh atlet asal Jember lolos tahap seleksi sebagai wakil Jatim.
Dari jumlah tersebut, empat nama berhasil naik podium, termasuk Indri Dwi Wulandari dari SMAN 4 Jember yang meraih emas di nomor Siu Limtao Remaja Putri dan perak di Biu Gee Remaja Putri.
“Ada juga Aura Shizuka Maharani dari SMAN 2 Jember yang meraih posisi ketiga di kategori eksibisi. Meski tanpa medali, poinnya tetap berkontribusi,” ujarnya saat dikonfirmasi pada Minggu (2/11/2025).
Menurutnya, pencapaian juara umum tahun ini sangat bersejarah mengingat ajang ini telah bergulir selama satu dekade sejak 2015, ketika Surabaya menjadi tuan rumah perdana.
“Selama ini Jakarta yang mendominasi. Tahun lalu saja Jatim baru bisa finish di posisi runner-up,” katanya.
Christine mengenang, periode 2015-2019 atlet Wing Chun Jatim masih dikuasai Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo. Namun ketika pandemi COVID-19 melanda awal 2020, banyak atlet di daerah lain yang berhenti berlatih. Berbeda dengan Jember, para atletnya justru tetap bertahan dan berlatih tanpa henti.
“Banyak dari mereka bergabung sejak bangku sekolah dasar dan kini sudah SMA bahkan kuliah, namun tetap rutin latihan. Konsistensi itulah kunci kesuksesan kami,” jelasnya.
Senki Desta Galuh, pembina tim Wing Chun Jember, menjelaskan mekanisme kompetisi virtual yang mengharuskan peserta mengunggah rekaman video penampilan mereka. Meski peserta bisa mengulang pengambilan video berkali-kali jika melakukan kesalahan, bukan berarti kompetisi menjadi lebih mudah.
“Setiap atlet punya keterbatasan fisik dalam mengeksekusi gerakan. Mau diulang sebanyak apapun, pasti ada saja kekurangannya. Jadi hasil akhir tetap murni cerminan kemampuan masing-masing, tidak mungkin direkayasa,” tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Diki Febrianto
Editor: Darmadi Sasongko








