Kant Sarungan, ACT dan Begal Kelamin (1)

Kant Sarungan, ACT dan Begal Kelamin (1)

  • Bagikan
Ach. Dhofir Zuhry, pengasuh pesantren Luhur Baitul Hikmah Malang.
Ach. Dhofir Zuhry, pengasuh pesantren Luhur Baitul Hikmah Malang. (Foto: Dokumen/Tugu Jatim)

Oleh: Ach Dhofir Zuhry* 

Tugujatim.id – Saya berhutang budi kepada sepupu jauh saya, Immanuel Kant, sekurang-kurangnya karena dua hal. Pertama, sebilah tanya mengenai apa yang membuat manusia manjadi baik? Dengan demikian, Kant menolak model-model etika yang digagas para bijak bestari dan pemikir terdahulu yang lebih terkonsentrasi pada ajaran bagaimana manusia menjalani hidup agar ia bahagia.

Kedua, kehendak baik. Kant menjangkarkan ajarannya perihal etika bahwa hanya ada satu kenyataan yang sungguh-sungguh baik tanpa batas, yakni baik pada dirinya sendiri. Bagaimana menguji pernyataan Kant ini, Puan dan Tuan?

Mari seruput kopi. Apa yang nampak baik dan terpuji? Misal: persaudaraan, keberanian, rela berkorban dan toleransi. Ini semua menjadi jalan bebas hambatan bagi sekian kejahatan, prilalu koruptif dan bahkan perusakan lingkungan manakala dilandasi dengan niat jahat.

Tengok saja, misalnya, penyalahgunaan dana umat melalui lembaga donor Aksi Cepat Tanggap (ACT) baru-baru ini yang diplesetkan menjadi Aksi Cepat Tilep, Aksi Cuma Tipu, Akai Cepat Tajir, Aksi Cuan Terus, untuk menyumbang ISIS, terorisme, dll di mana para petinggi ACT me-nilep sebagian donasi umat untuk membiayai gaya hidup mewah dan kawin siri. Wuihhh… gimana ya rasanya? Gimana gitu. Kabar terbaru PPATK memblokir 300-an rekening yayasan ACT di 33 bank. Hedeh.

Kilas-balik sejarah rasionalitas dalam lanskap filsafat Barat mencapai fase yang paling penting dan c(em)erlang pasca zaman pencerahan atau aufklarung, setidaknya di Jerman, Perancis, Inggris dan tentu saja Italia.

Slogan Sapere aude (berani berpikir dan berpendapat) menjadikan manusia tak lagi tunduk pada segala bentuk kemapanan dalam segala bidang, termasuk dalam beragama, yang cenderung mengekang, dan tak jarang dijadikan kendaraan politik untuk mengepul suara (elektoral) dan sumbangan, sebut saja, selain ACT dengan jualan tagar semacam #saveKashmir #saveRohingya #savepoligami #saveanuitu, tipu-tipu umroh, investasi 212 mart, investasi bodong kebun kurma, perumahan syariah, tipu-tipu model sedekah, donasi kapal selam, donasi Gaza, Palestina, dlsb.

Hal ini bukan lantas bermakna perlawanan dan permusuhan manusia terhadap agama, tetapi kepada kemapanan itu sendiri yang boleh jadi berselubung dan berlindung di balik teks-teks suci agama. Benderang sekali bahwa keberanian menggunakan rasio tak tanya mendobrak kemapanan, tapi lebih dari itu manusia semakin merdeka.

Jelas ini kabar baik bagi sains dan teknologi, juga cara hidup sehat untuk labih merdeka berpikir dan bahagia tentu saja. Tanpa semangat pencerahan, abad 21 hampir dipastikan sepi dan kering. Teknologi layar, internet of thing, media sosial, era cardless dan paperless tentu tidak akan pernah kita dapati. Amat boleh jadi, kita akan tetap hidup dalam tempurung purbasangka bernama mitos, dongeng, legenda, dll yang terus kita anggap sebagai “kesadaran” dan kebermaknaan hidup.

Memang, Kant mengajarkan bahwa menjadi bahagia itu dengan cara membahagiakan orang lain. Ajaran mulia ini kemudian disalahgunakan oleh petinggi ACT untuk membahagiakan isteri-isteri siri/mudanya dengan ngemplang dana umat, juga lembaga donor sejenis yang biasa mengepul sumbangan dan sedekah dengan embel-embel agama dan kavling surga plus aroma ketiak bidadari. Apa solusi Kant untuk penyalahgunaan semacam ini?

Tentu saja mengikuti moral, bertindak tanpa pamrih. Pasti berat dan banyak cobaan? Jelas dong. kalau sedikit namanya cobain, bukan cobaan! Butuh kehendak kuat untuk malawan kepentingan pribadi dan nafsu berkuasa, imajinasi hormonal yang ngajak kawin terus, serta memperbudak diri dan sesamanya demi entah nafsu yang mana. Sudah cukup? Belum. Berpikir dan bertindak yang pantas dan layak sehingga kita layak mendapat kebahagiaan hakiki, bukan pseudo kebahagiaan dan quasi kenikmatan.

Terus sarungnya di mana? Judul tulisan ini bukannya “Kant Sarungan'”, mas Bro? baiklah, sarung adalah pakaian ajaib dengan sirkulasi udara terbaik di dunia. Sarung adalah perlambang “syar’un” atau aturan atau syariat, bukan tipu-tipu dan tilep-tilep berkedok syar’i.

Bersarung itu artinya tahu aturan, selaras dengan norma dan nilai. Dengan sarung ala Kant ini, manusia tahu martabat diri dan hidupnya, sehingga kebahagiaan seseorang dan gerombolan tertentu tidak menjadi bencana orang lain dan musibah bagi kelompok lain. Itulah mengapa, meski menjomblo sampai wafat, Kant mengidolakan Jean-Jacques Rousseau. Ada kontrak sosial dalam hidup.

Hidup tak harus dinikmati secara ugal-ugalan seolah menang lotre setiap hari. Kebahagian pribadi tak boleh menjadi tujuan dalam hidup bersama. Oleh karena tindakan baik tak jatuh dari langit, manusia harus terus berusaha dengan tekun mengupayakannya.

Kant, mengajarkan kita untuk menjadi lajang yang keren dan bermartabat, asketik (zuhud), sederhana dan bersahaja, disiplin dan sangat menghargai waktu, puas dengan sedikit yang ia punya, tak pernah mengeluh dan justru bahagia menunaikan kewajiban sebagai umat beragama dan bernegara. Ini kan santri banget, Sis. Kaum sarungan. Kant Sarungan.

Nah, bagaimana dengan imajinasi hormonal sang begal kelamin bernama MSAT alias mas Bechi? Bechi Ketitik Ala Ketara? Nah, bersambung…

*Pengasuh pesantren Luhur Baitul Hikmah Malang sekaligus pendiri STF Al Farabi Kepanjen


Terima kasih sudah membaca artikel kami. Ikuti media sosial kami yakni Instagram @tugujatim , Facebook Tugu Jatim
Youtube Tugu Jatim ID , dan Twitter @tugujatim

 

 

  • Bagikan