• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Ach. Dhofir Zuhry, pengasuh pesantren Luhur Baitul Hikmah Malang.

Ach. Dhofir Zuhry, pengasuh pesantren Luhur Baitul Hikmah Malang. (Foto: Dokumen/Tugu Jatim)

Kant Sarungan, ACT dan Begal Kelamin (1)

Herlianto A by Herlianto A
4 years ago
in Catatan
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ach Dhofir Zuhry* 

Tugujatim.id – Saya berhutang budi kepada sepupu jauh saya, Immanuel Kant, sekurang-kurangnya karena dua hal. Pertama, sebilah tanya mengenai apa yang membuat manusia manjadi baik? Dengan demikian, Kant menolak model-model etika yang digagas para bijak bestari dan pemikir terdahulu yang lebih terkonsentrasi pada ajaran bagaimana manusia menjalani hidup agar ia bahagia.

You might also like

NU

Tak Perlu Silau: Seni Ber-NU ala Mbah Muchit Muzadi

16/06/2026 12:02 PM
MBG

MBG dan Ironi Negeri : Anak Dikasih Makan, Uang Rakyat Dimakan

16/06/2026 9:43 AM

Kedua, kehendak baik. Kant menjangkarkan ajarannya perihal etika bahwa hanya ada satu kenyataan yang sungguh-sungguh baik tanpa batas, yakni baik pada dirinya sendiri. Bagaimana menguji pernyataan Kant ini, Puan dan Tuan?

Mari seruput kopi. Apa yang nampak baik dan terpuji? Misal: persaudaraan, keberanian, rela berkorban dan toleransi. Ini semua menjadi jalan bebas hambatan bagi sekian kejahatan, prilalu koruptif dan bahkan perusakan lingkungan manakala dilandasi dengan niat jahat.

Tengok saja, misalnya, penyalahgunaan dana umat melalui lembaga donor Aksi Cepat Tanggap (ACT) baru-baru ini yang diplesetkan menjadi Aksi Cepat Tilep, Aksi Cuma Tipu, Akai Cepat Tajir, Aksi Cuan Terus, untuk menyumbang ISIS, terorisme, dll di mana para petinggi ACT me-nilep sebagian donasi umat untuk membiayai gaya hidup mewah dan kawin siri. Wuihhh… gimana ya rasanya? Gimana gitu. Kabar terbaru PPATK memblokir 300-an rekening yayasan ACT di 33 bank. Hedeh.

Kilas-balik sejarah rasionalitas dalam lanskap filsafat Barat mencapai fase yang paling penting dan c(em)erlang pasca zaman pencerahan atau aufklarung, setidaknya di Jerman, Perancis, Inggris dan tentu saja Italia.

Slogan Sapere aude (berani berpikir dan berpendapat) menjadikan manusia tak lagi tunduk pada segala bentuk kemapanan dalam segala bidang, termasuk dalam beragama, yang cenderung mengekang, dan tak jarang dijadikan kendaraan politik untuk mengepul suara (elektoral) dan sumbangan, sebut saja, selain ACT dengan jualan tagar semacam #saveKashmir #saveRohingya #savepoligami #saveanuitu, tipu-tipu umroh, investasi 212 mart, investasi bodong kebun kurma, perumahan syariah, tipu-tipu model sedekah, donasi kapal selam, donasi Gaza, Palestina, dlsb.

Hal ini bukan lantas bermakna perlawanan dan permusuhan manusia terhadap agama, tetapi kepada kemapanan itu sendiri yang boleh jadi berselubung dan berlindung di balik teks-teks suci agama. Benderang sekali bahwa keberanian menggunakan rasio tak tanya mendobrak kemapanan, tapi lebih dari itu manusia semakin merdeka.

Jelas ini kabar baik bagi sains dan teknologi, juga cara hidup sehat untuk labih merdeka berpikir dan bahagia tentu saja. Tanpa semangat pencerahan, abad 21 hampir dipastikan sepi dan kering. Teknologi layar, internet of thing, media sosial, era cardless dan paperless tentu tidak akan pernah kita dapati. Amat boleh jadi, kita akan tetap hidup dalam tempurung purbasangka bernama mitos, dongeng, legenda, dll yang terus kita anggap sebagai “kesadaran” dan kebermaknaan hidup.

Memang, Kant mengajarkan bahwa menjadi bahagia itu dengan cara membahagiakan orang lain. Ajaran mulia ini kemudian disalahgunakan oleh petinggi ACT untuk membahagiakan isteri-isteri siri/mudanya dengan ngemplang dana umat, juga lembaga donor sejenis yang biasa mengepul sumbangan dan sedekah dengan embel-embel agama dan kavling surga plus aroma ketiak bidadari. Apa solusi Kant untuk penyalahgunaan semacam ini?

Tentu saja mengikuti moral, bertindak tanpa pamrih. Pasti berat dan banyak cobaan? Jelas dong. kalau sedikit namanya cobain, bukan cobaan! Butuh kehendak kuat untuk malawan kepentingan pribadi dan nafsu berkuasa, imajinasi hormonal yang ngajak kawin terus, serta memperbudak diri dan sesamanya demi entah nafsu yang mana. Sudah cukup? Belum. Berpikir dan bertindak yang pantas dan layak sehingga kita layak mendapat kebahagiaan hakiki, bukan pseudo kebahagiaan dan quasi kenikmatan.

Terus sarungnya di mana? Judul tulisan ini bukannya “Kant Sarungan'”, mas Bro? baiklah, sarung adalah pakaian ajaib dengan sirkulasi udara terbaik di dunia. Sarung adalah perlambang “syar’un” atau aturan atau syariat, bukan tipu-tipu dan tilep-tilep berkedok syar’i.

Bersarung itu artinya tahu aturan, selaras dengan norma dan nilai. Dengan sarung ala Kant ini, manusia tahu martabat diri dan hidupnya, sehingga kebahagiaan seseorang dan gerombolan tertentu tidak menjadi bencana orang lain dan musibah bagi kelompok lain. Itulah mengapa, meski menjomblo sampai wafat, Kant mengidolakan Jean-Jacques Rousseau. Ada kontrak sosial dalam hidup.

Hidup tak harus dinikmati secara ugal-ugalan seolah menang lotre setiap hari. Kebahagian pribadi tak boleh menjadi tujuan dalam hidup bersama. Oleh karena tindakan baik tak jatuh dari langit, manusia harus terus berusaha dengan tekun mengupayakannya.

Kant, mengajarkan kita untuk menjadi lajang yang keren dan bermartabat, asketik (zuhud), sederhana dan bersahaja, disiplin dan sangat menghargai waktu, puas dengan sedikit yang ia punya, tak pernah mengeluh dan justru bahagia menunaikan kewajiban sebagai umat beragama dan bernegara. Ini kan santri banget, Sis. Kaum sarungan. Kant Sarungan.

Nah, bagaimana dengan imajinasi hormonal sang begal kelamin bernama MSAT alias mas Bechi? Bechi Ketitik Ala Ketara? Nah, bersambung…

*Pengasuh pesantren Luhur Baitul Hikmah Malang sekaligus pendiri STF Al Farabi Kepanjen

—
Terima kasih sudah membaca artikel kami. Ikuti media sosial kami yakni Instagram @tugujatim , Facebook Tugu Jatim , 
Youtube Tugu Jatim ID , dan Twitter @tugujatim

 

 

Tags: Gus DhofirImmanuel KantKantPesantren Luhur Baitul HikmahSTF Al Farabi
Herlianto A

Herlianto A

Related Stories

NU

Tak Perlu Silau: Seni Ber-NU ala Mbah Muchit Muzadi

by Mochamad Abdurrochim
16/06/2026 12:02 PM
0

Oleh: Abdur Rahim* Tugujatim.id - Ada sebuah gejala psikologis yang belakangan ini kerap menjangkiti sebagian kader Nahdlatul Ulama (NU). Di...

MBG

MBG dan Ironi Negeri : Anak Dikasih Makan, Uang Rakyat Dimakan

by Mochamad Abdurrochim
16/06/2026 9:43 AM
0

Tugujatim.id - Artikel MBG dan Ironi Negeri : Anak Dikasih Makan, Uang Rakyat Dimakan Oleh Muhamad Ulil Arham, Founder Omah...

NU.

Suket Teki, Gus Yahya, dan Tantangan Governing NU

by Dwi Linda
06/06/2026 4:45 PM
0

Oleh: Abdur Rahim* Tugujatim.id - KH A Hasyim Muzadi, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 1999-2010 pernah melontarkan...

Gus Yahya.

Menakar Dua Periode Gus Yahya: Mungkinkah?

by Dwi Linda
30/05/2026 8:27 PM
0

Oleh: Abdur Rahim** Tugujatim.id - Kepemimpinan di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sedang berada di persimpangan yang tidak mudah. Ketegangan...

Next Post
Content creator. (Foto: Pexels/Tugu Jatim)

4 Tips Content Creator Konsisten Bikin Karya di Media Sosial

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID