Khotbah: Dari Tauhidul Ibadah Menuju Tauhidul Ummah - Tugujatim.id

Khotbah: Dari Tauhidul Ibadah Menuju Tauhidul Ummah

  • Bagikan
Sholikin Jamik, Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bojonegoro. (Foto: Dokumen)
Sholikin Jamik, Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bojonegoro. (Foto: Dokumen)

Oleh: Sholikin Jamik, Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bojonegoro

Tugujatim.id – Kaum Muslimin yang berbahagia, marilah kita panjatkan puji syukur ke Hadhirot Allah SWT, atas limpahan karunia-Nya yang tiada terhingga kita bisa merayakan iedul adha 1442 H. Kita merayakan Iedul adha dalam suasana keprihatinan karena masih merebaknya wabah Covid-19 di tengah tengah kita semua. Tapi walaupun demikian kita hendaknya tetap bersyukur atas segala karunia Allah SWT, Kita bersyukur karena masih diberi kesempatan hidup sampai detik ini, masih sehat wal afiat., masih bisa beraktifitas melaksanakan ibadah dan bersilaturahmi bersama keluarga dan handai tolan.

Kaum Muslimin yang berbahagia. Saudara-saurdara kita yang menjalankan ibadah haji sedang menuju Mina, Suara talbiyah sudah bergema sejak tanggal 8 dzulhijjah, ketika rombongan jamaah haji meninggalkan Makkah menuju Arafah. Saat itu para penumpang bis, pemakai taksi, atau pejalan kaki depanjang jalan tidak henti-hentinya berdzikir:

Labbaik, allahuma labbaik. Labbaika la syarika laka, labbaik. Innal-hamda wan-ni’ mata laka wal-mulk, la syarika laka.

(Kami datang memenuhi panggilan-Mu, kami datang memenuhi panggilan-Mu; ya Allah kami datang memenuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu; sesungguhnya segala pujian, karunia dan kekuasaan semua kepunyaan-Mu)

Jamaah haji dari bermacam-macam bangsa dan bagasa sekarang berdzikir dengan bahasa yang sama. Pakaian mereka pakaian ihram yang sama. Laki-laki semua memakai putih, tidak berjahit dan membuka setengah dada. Tidak ada beda raja dengan hamba sahaya, pembesar dengan rakyat jelata, sarjana dengan orang biasa. Semua gelar kebanggaan yang sering di gunakan untuk merendahkan orang sekarang ditinggalkan: segala pakaian, kekayaan yang sering ditampakkan untuk melukai hati kaum fukara, sekarang dilepaskan; seluruh pangkat kebesaran yang sering ditonjolkan untuk menakut-nakuti orang, kini dilemparkan. Semua sama dihadapan Allah Rabbul ‘Alamin, semua kecil didepan penguasa alam semesta.

Inti Ajaran Islam

Ibadah haji sesungguhnya mengungkapkan inti ajaran Islam: tauhidul ibadah dan tauhidul ummah, mempersatukan pengabdian dan mempersatukan ummah. Bayangkan, setiap hari jutaan manusia beribadah dengan cara yang sama, dan membaca bacaan yang sama. Bahkan ketika saudara-saudara wuquf pula dengan melakukan ibadah puasa. Ketika mereka menggemakan takbir di bukit-bukit Mina, disini kita gemakan takbir yang sama. Ddari kesatuan ibadah inilah lahir kesatian ummah.

Islam bukan saja mengajarkan bahwa semua manusia adalah sama dihadapan Allah, tetapi Islam juga mengutuk sikap mental yang melebihkan satu kelompok manusia atas kelompok yang lain. Merasa mempunyai derajat yang lebih tinggi daripada orang lain karena keturunan, kekuasaan, pengetahuan dan kecantikan, dikutuk oleh Islam sebagai takabur. Rasulullah saw bersabda:

“ Akan dihimpun orang-orang yang sewenang-wenang dan takabur pada hari kiamat sebagai butir-butir debu, mereka akan diinjak-injak oleh manusia, karena sangat hinanya disisi Allah Ta’ala”

Itulah sebabnya, pada suatu hari Rasulullah saw. Murka, ketika Abu Dzar bertengkar dengan Bilal dan memanggilnya:

“Hai anak dari perempuan hitam”

Rasulullah saw menepuk bahu Abu Dzar seraya berkata:

“Terlalu, terlalu. Tidak ada kelebihan orang putih atas orang hitam, kecuali karena amal saleh”

Abu Dzar segera menjatuhkan dirinya ke tananh, diratakanya pipinya dengan debu, dan dimintanya Bilal menginjak kepalaya sebagai tebusan atas kesombonganya. Abu Dzar tahu bahwa dalam Islam menyombongkan diri karena keturunan adalah dosa besar. Sejak itu Abu Dzar menjadi orang yang sangat rendah hati. Dipilihnya hidup seperti orang miskin, dan bergaul juga dengan orang-orang miskin-kelompok yang sering direndahkan oleh masyarakat. Abu Dzar sering mewakili kepentingan orang-orang lemah. Ketika salah seorang sahabat Abu Dzar memberi peringatan: “ Engkau angkut bata-baya diatas tengkuk manusia.) Dengan itu, Abu Dzar ingin mengingatkan orang-orang kaya, bahwa mereka menjadi kaya karena keringat dan jerih payah orang-orang miskin. Dengan itu pula, Abu Dzar infin mengajarkan bahwa orang kaya sepatutnya memberi penghormatan mereka kepada orang miskin.

Cambuk Keadilan Islam

Setelah Rasulullah saw meninggal dunia, asas persamaan dan keadilan ini dilanjutkan oleh sahabat-sahabatnya. Suatu hari, seorang rakyat kecil berangkat dari Mesir menuju Madinah. Di tempuhnya jarak yang jauh, hanya untuk mengadukan halnya kepada Umar bin Khattab. “ Ya Amitul Mukminin” ujar tamu dari Mesir ini, “ suatu hari aku bertanding menunggang kuda dengan anak Amr bin Ash, Gubernur Islam di Mesir. Ia memukulku dengan cambuknya sambil menyombongkan diri, ‘aku anak orang yang mulia!’ Berita ini sampai kepada bapaknya. Karena kuatir aku datang melapor kepadamu, ayahnya memasukkan aku ke penjara. Aku berhasil lolos, dan sekarang datang mengadu kepadamu”

Kaum Muslimin yang berbahagia. Umar segera mengirim surat kepada Gubernur Amr bin Ash. Dimintanya ia dan anaknya datang pada musim haji. Setelah selesai haji, di muka orang banyak, Umar melemparkan cambuk kepada orang kecil dari Mesir: “Pukul anak orang mulia itu.” Sekarang anak orang besar itu harus meraung-raung dalam cambukan keadilan Islam. Umar bahkan menyuruh agar bapaknya dicambuk pula. “ pukulkan cambuk itu atas rusuk Amr” Namun pengadu itu berkata : “ Aku sudah cukup memukul orang yang memukulku” Ketika, itu Umar berkaya kepada Amr bin Ash dengan suatu perkataan yang baru digunakan di Eropa pada Revolusi Prancis, dan digunakan di Amerika ketika Declaration of independence ditulis: “ Wahai Amr bin Ash, mengapa kau perbudak manusia, padahal mereka dilahirkan ibunya dalam keadaan merdeka?” Memperbudak manusia berarti melanggar tauhidul ummah yang menjadi batu penyangga ajaran Islam. Memperbudak manusia berarti mendehumasisasikannya, merendahkan martabatnya, merampas hak-hak asasinya, dan memperlakukanya seperti robot tanpa pikiran dan perasaan. Memperbudak manusia berarti memasung kebebasan untuk menyatakan pendirianya, menjalankan keyakinanya, dan mengejar cita-cita hidupnya.

Perusak Tauhidul Ummah

Dalam perjalanan sejarah, paling tidak ada tiga hal yang sering merusak tauhidul ummah, yang sering menyebabkan sekelompok masyarakat memperbudak kelompok lain. Ketiga hal itu ialah keturunan, kekuasaan, dan kekayaan.

Kebanggaan karena keturunan, bukan saja telah menimbulkan feodalisme, tetapi juga imperialisme. Selama berabad-abad orang kulit putih mengira bahwa mereka adalah manusia istimewa yang ditakdirkan untuk “membudayakanya” bangsa-bangsa berwarna. Gerakan Eugenics, gerakan yang menggunakan topeng pengetahuan untuk menunjang kelebihan satu ras atas ras yang lain, sampai sekarang masih banyak pengikutnya. Paham inilah yang menjerumuskan jutaan manusia kedalam belenggu penjajahan dan penindasan. Sebelum perang dunia kedua, di Jerman, Hitler mengajarkan keunggulan bangsa Aria, dan melempar jutaan manusia yang tiada berdaya ke dalam kamar-kamar penyiksaan dan kamp-kamp konsentrasi. Bangsa Jepang pernah menganggap dirinya keturunan Dewa Matahari, dan “memimpin” orang timur paling maju, seperti kata Martin Luther King, “Orang Negro masih dengan sedih dipasung dalam belenggu segrerasi dan diskriminasi.” Sedangkan di Indonesia, keturunan masih dipergunakan untuk melegitiminasikan hak-hak istimewa dan menyingkirkan orang-orang yang tidak dikehendaki.

Umat manusia harus menundukkan kepala dan merenungkan kembali sabda Rasulullah saw:
“Tidak ada kelebihan otang kulit putih atas orang kulit hitam, kecuali karena amal saleh”

Setelah keturunan, kekuasaan sering dipakai untuk menindas orang lain. Sering, lantaran mempunyai wewenang, orang bertindak sewenang-wenang. Allah SWT mengingatkan kita tentang fir’aun yang menyeret ribuan budak belian untuk membangun piramid, kuburan para raja. Fir’aun memberikan hak istimewa kepada suatu kelompok masyarakat untuk menindas kelompok lain.

“Sesungguhnya Fir’aun berbuat sombong di bumi, dipecah-pecahnya masyarakat menjadi bermacam-macam golongan, sebagian menindas golongan yang lain; membunuh laki-lakinya, dan membiarkan perempuanya. Sesungguhnya ia termasuk orang yang berbuat kerusakan.” (Al-Qashash 4)

Dewasa ini masih banyak kita lihat Fir’aun kecil tertawa gembira diatas penderitaan orang lain; Fir’aun-Fir’aun kecil yang menggunakan wewenang untuk berbuat sewenang-wenang. Hari ini, Suara Umar bin Khattab kepada Amr bin Ash terdengar nyaring kembali: “Mengapa engkau perbudak manusia, padahal ibunya melahirkan mereka dalam keadaan merdeka?”

Selain kekuasaan, kekayaan sering dijadikan sebagai alat untuk memeras orang lain Allah SWT berfirman :

“Sesungguhnya manusia itu sewenang-wenang bila ia merasa dirinya berkecukupan” (Al-Alaq 6-7)

Banyak orang kaya mengira bahwa dengan uangnya ia dapat berbuat apapun. Karena jumlah pencari kerja begitu banyak, terkadang kita tidak segan-segan mengupah mereka dengan upah yang tidak akan mencukupi kebutuhanyua. Tenaga mereka kita peras, supaya keuntungan kita bertambah. Karena kaya, kita sering memperbudak pembantu kira, yang bukan saja harus bekerja dari pagi sampai sore, tetapi juga harus siap dicaci maki kalau berbuat kesalahan. Karena kita kaya, sering kita palingkan muka dari kaum fuqara, dan memilih bergaul hanya dengan orang kaya saja; mengucapkan kata halus kepada sahabat-sahabat kita, dan kata-kata kasar buat sopir dan tukang kebun kita. Marilah kita resapkan kembali ucapan Abu Dzar : “Engkau angkut bata-bata diatas tengkuknya orang lain.”

  • Bagikan