JEMBER, Tugujatim.id – Suara dengung mesin Vespa klasik memecah keheningan sore di sebuah gang sempit Jalan Halmahera, Jember. Di balik pintu kayu sederhana bertuliskan “#BukanBengkel”, tersimpan cerita luar biasa Agus Sakti tentang bagaimana sebuah mimpi lokal berhasil menembus tiga benua.
Agus Sakti, pria berusia 35 tahun dengan latar belakang akademis yang unik, S1 Psikologi, S2 Pemasaran, dan kini sedang menempuh program doktor pemasaran di Universitas Jember, tidak pernah menyangka bahwa hobi lamanya terhadap Vespa klasik akan membawanya ke panggung internasional.
“Dulu saya hanya ingin punya Vespa yang bagus untuk sendiri, tapi ternyata, dari mencari-cari komponen yang bagus, kini malah jadi bikin produk sendiri,” kenang Agus Sakti sambil memperlihatkan koleksi CDI di basecamp-nya, Kamis (12/06/2025).
Dari Hobi Menjadi Industri
Perjalanan smallframejember dimulai dari frustrasi sederhana. Sebagai pencinta Vespa klasik, Agus Sakti kerap kesulitan mendapatkan komponen pengapian berkualitas yang cocok untuk mesin-mesin tua namun bertenaga. CDI (Capacitor Discharge Ignition) yang tersedia di pasaran seringkali tidak konsisten performanya atau harganya terlalu mahal.

“Awalnya kami riset sendiri, kemudian memberanikan berkolaborasi dengan Lab Elektro di Singosari, Malang, menggunakan komponen dari Jepang, dari Eropa. Test RPM rendah sampai tinggi. Sampai ketemu formula yang pas,” ujar Sakti, sapaan akrabnya, menjelaskan proses yang memakan waktu berbulan-bulan itu.
Hasilnya adalah dua produk unggulan: CDI Sonic seharga Rp250.000 untuk seri Vespa Exclusive, Excel, Spartan, hingga PX Sport; dan CDI Joker seharga Rp200.000 untuk Vespa Super, Sprint, PTS, dan VBB. Keduanya dirancang khusus untuk menggantikan sistem pengapian platina konvensional dengan teknologi yang lebih andal.
Ketika Jember Sampai ke Tiga Benua
Yang membuat kisah ini istimewa bukan hanya soal produk, tetapi jangkauan pasarnya. Hingga Mei 2025, lebih dari 800 unit CDI telah terjual, tidak hanya ke seluruh Indonesia dari Aceh hingga Papua, tetapi juga ke Mesir (April 2024) dan Brazil (Maret 2025).
“Yang bikin bangga, nama ‘Jember’ tetap kami pertahankan di brand. Jadi ketika barang sampai di tangan collector Vespa di Rio de Janeiro atau Kairo, mereka tahu ini produk dari Jember,” kata Sakti dengan nada bangga.

Kesuksesan ini tidak berhenti di CDI. Mei 2025 menjadi bulan yang sibuk bagi tim smallframejember. Mereka meluncurkan spul pengapian hasil riset menggunakan kawat lilitan Helenic dari Jerman, dijual seharga Rp200.000.
Tidak lama kemudian, knalpot khusus Vespa Smallframe seharga Rp1.700.000 dirilis secara soft launching dan dalam seminggu, 16 unit langsung ludes terjual melalui Marketplace. Terbaru, saat tim Tugujatim.id menemuinya, Sakti tengah menyiapkan satu buah knalpot untuk dikirim ke Malaysia.
Strategi Digital dari Gang Sempit
Keberhasilan smallframejember tidak lepas dari strategi pemasaran digital yang cerdas. Ini melibatkan kemampuan Sakti saat menekuni dunia digital marketing. Berbekal berpengalaman untuk produksi dan branding, Sakti mengelola distribusi secara digital melalui berbagai platform media sosial.
“Kami sadar, dari gang sempit ini, satu-satunya cara menjangkau dunia ya lewat digital, tapi kuncinya bukan cuma jualan online. Produk harus benar-benar bagus, ada risetnya, ada ceritanya,” kata inspiratif Sakti.
Filosofi inilah yang membedakan smallframejember dari kompetitor lain. Setiap produk melalui proses riset panjang, pengujian lapangan yang ketat, dan storytelling yang kuat tentang passion terhadap dunia Vespa klasik.
Tantangan dan Harapan
Meski meraih kesuksesan, perjalanan smallframejember tidak selalu mulus. Sakti menyebut tantangan terbesar adalah masalah legalitas dan perlindungan desain, terutama untuk produk knalpot yang sering ditiru oleh brand lain.
“Bentuk knalpot Vespa itu iconic, tapi sering disalahgunakan. Kami butuh perlindungan paten dan desain yang lebih kuat. Pendampingan dari pemerintah daerah dan kampus sangat kami harapkan,” keluhnya.
Jember: Kota Sejuta Potensi
Kisah smallframejember ini menjadi bukti bahwa Jember tidak hanya dikenal karena kopi dan tembakau. Kombinasi antara semangat lokal, dukungan intelektual kampus, dan gairah kreatif komunitas menciptakan ekosistem yang subur untuk industri kreatif.
“Jember itu unik. Ada kampus, ada komunitas kreatif, ada semangat anak muda yang tidak mau kalah. Tinggal bagaimana kita bisa saling mendukung,” refleksi Sakti di penghujung wawancara.
Ketika sore mulai beranjak malam dan suara Vespa kembali memenuhi gang sempit Jalan Halmahera, satu hal menjadi jelas, yaitu mimpi tidak mengenal batas geografis. Dari basecamp kecil di Jember, smallframejember membuktikan bahwa dengan passion, riset yang solid, dan strategi yang tepat, produk lokal bisa bersaing di panggung dunia.
Dan yang terpenting, nama “Jember” kini bergema hingga ke Rio de Janeiro dan Kairo, dibawa oleh dengung mesin Vespa klasik yang semakin bertenaga berkat sentuhan teknologi anak negeri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Diki Febrianto
Editor: Dwi Lindawati








