JEMBER, Tugujatim.id – Menyandang julukan sebagai Kota Cerutu, Kabupaten Jember, terkenal dengan episentrum cigar Indonesia dan dunia. Ini tidak terlepas dari keberadaan industri tembakau yang besar dan tersebar di berbagai wilayah Jember.
Khususnya di Dusun Kedung Sumur, Desa Jambearum, Kecamatan Puger, di sepanjang Jalan Bagon menjadi salah satu sentra tembakau pasat. Salah seorang petani tembakau setempat, Kholifah menjelaskan, tembakau pasat masih diolah dengan cara tradisional.
Mulai dari penanaman, perawatan, masa panen, hingga pengelolaan dari daun menjadi tembakau kering, dilakukan secara mandiri oleh para petani di Dusun Kedung Sumur. Bahkan, proses pembibitan tembakau masih dilakukan oleh para petani secara mandiri.
Baca Juga: Truk di Mojokerto Kecelakaan Tunggal Tiba-Tiba Pecah Ban, Muatan Padi Berserakan
“Jadi, mulai dari pembibitan hingga setelah panen kami secara mandiri melakukannya dengan cara-cara tradisional untuk mendapatkan hasil yang maksimal,” jelas Kholifah pada Senin (28/10/2024).
Kholifah mengaku, warga di Dusun Kedung Sumur mayoritas menjadi petani tembakau. Hasil panen daun tembakau setiap kepala keluarga, kemudian diolah secara mandiri di masing-masing rumah warga di desa tersebut.
Sebelum masa panen, setidaknya para petani tembakau akan mengolah lahan pertaniannya, mulai dari menyiapkan lahan, melakukan pembibitan, menanam, membuat dangir atau memberi jalan air di antara tanaman tembakau, hingga membuang pucuk tanaman tembakau (empat kali) selama masa tanam.
“Kalau sudah panen, kita pasat (rajang, Red) daun tembakau, lalu dilakukan penjemuran langsung di bawah sinar matahari langsung, sampai proses pengemasan kita lakukan secara mandiri. Biasanya membutuhkan waktu selama tiga hari proses tersebut,” kata Khoifah.
Lanjut Kholifah, dalam satu kemasan biasanya berisi dua kilogram tembakau saya sudah melalui proses pengeringan. Adapun penjualan tembakau tersebut disalurkan ke pasar-pasar tradisional dan melalui tengkulak.
“Kalau ke tengkulak itu, dalam satu kemasan harganya Rp250 ribu,” tegas Kholifah.
Baca Juga: Tragedi Tambang di Tuban, Dua Pekerja Tewas: Keluarga Terima Santunan
Kendati demikian, proses tradisional pengolahan tembakau yang telah ditekuni sejak lama itu menuai persoalan. Itu juga yang membuat ibu dua anak itu menggantungkan penghasilan keluarganya dari cuaca.
“Penghasilan kami itu mengandalkan cuaca, jadi kalau panas cepat proses pengeringan tembakaunya, tapi kalau cuaca hujan, proses pasat hingga pengemasan harus ditunda,” imbuhnya.
Meski beberapa warga, menurut Kholifah, memanfaatkan berbagai teknologi pengeringan daun tembakau, dirinya menilai hal itu akan membuat kualitas tembakau pasat berbeda dari sebelumnya. Oleh karena itu, pihaknya selalu mempertahankan cara-cara tradisional pengolahan tembakau.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Diki Febrianto
Editor: Dwi Lindawati








