JEMBER, Tugujatim.id – Muhammad Feriyanto atau akrab dipanggil Feri, penyandang difabel Cerebral Palsy (CP) telah melewati perjalanan hidup yang penuh tantangan.
Pupusnya harapan Feri untuk sekolah di salah satu SMA Negeri yang berada di Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember, tidak menumbangkan semangatnya untuk terus belajar agar dapat mengenyam pendidikan di tempat yang diinginkan.
Feri menjelaskan, alasan dirinya tidak diterima di SMA Negeri itu karena pihak sekolah merasa belum mampu memenuhi fasilitas yang diperlukan penyandang disabilitas seperti dirinya. “Bahkan, saat itu pihak sekolah membolehkan saya di situ dengan syarat membawa pendamping,” ujar Feri pada Selasa (8/10/2024).
Persyaratan itu terlalu berat untuk Feri dan keluarga penuhi. Melihat, di rumah, Feri hanya tinggal bersama sang ibu, sedangkan ayah Feri telah lama berpulang. Anak bungsu dari tiga bersaudara itu juga enggan merepotkan orang tua tunggal yang setiap harinya harus bekerja sebagai tulang punggung keluarga.
“Kakak pertama, sudah tinggal bersama keluarganya, kalau kakak kedua, ada di luar kota, kerja dan jarang pulang,” jelas Feri.
Meski tidak mendapat kesempatan mengenyam SMA Negeri, kini Feri menjadi mahasiswa baru di salah satu Perguruan Tinggi Negeri Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) yang berada di Jember, Program Studi Hukum Keluarga, Fakultas Syariah.
Setiap hari, Feri berangkat menuju kampus ditemani sepeda onthel beroda tiga. Feri mengayuh sepeda itu dari rumah ke kampusnya yang berjarak sekitar dua kilometer. Tidak lupa, Feri juga membawa tongkat untuk membantunya berjalan.
Di perjalanan, Feri harus melewati gang sempit hingga jalan besar dengan ramainya lalu lalang kendaraan. Tidak jarang, Feri selalu meminta bantuan orang lain untuk sekadar menyebarang di jalan yang ramai lalu lintas.
“Kalau lewat di rel kereta itu, kadang-kadang sering nyangkut. Feri biasanya sering minta tolong ke orang-orang yang ada di situ,” terangnya. Bagi Feri, sepeda onthel itu ibarat teman yang selalu menemaninya pergi sejak duduk di Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga sekarang.
Secercah harapan Feri, kelak bisa memiliki sepeda motor beroda tiga, agar memudahkannya dalam beraktivitas. Selain itu, juga membantunya memangkas waktu pergi ke kampus. Melihat, dengan sepeda onthelnya saat ini, Feri membutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk sampai ke kampus.
“Kemarin sempat coba naik sepeda motor milik temah disabilitas yang lain, alhamdulillah Feri sekarang bisa naik sepeda motor,” jelasnya.
Alih-alih mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakkan dari orang lain, Feri mengaku, keberadaannya, baik di tempat umum hingga kampus Feri selalu disambut dengan baik. Terlebih ketika di kampus, kedatangan Feri selalu disambut teman-teman yang bergegas membantunya masuk ke ruang kelas.
Saat ini, Feri tengah memperjuangkan agar mendapat beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K), untuk meringankan beban keluarga untuk membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) Golongan 2, yakni sebesar Rp 1,5 juta setiap semesternya.
Meski, pada awalnya Feri mendapat penolakan dari keluarga untuk melanjutkan sekolah ke jenjang perguruan tinggi. Bahkan dilarang keras dengan alasan takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
“Akhirnya keluarga setuju karena Feri dapat meyakinkan jika hal itu tidak akan terjadi dan alhamdulillah setelah kuliah pun teman-teman Feri juga baik dan mendukung,” pungkas Feri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Diki Febrianto
Editor: Darmadi Sasongko








