Kisah Murwati Handayani, Warga Pacitan yang Rela Rogoh Kocek Pribadi hingga Dicibir Warga untuk Rawat ODGJ - Tugujatim.id

Kisah Murwati Handayani, Warga Pacitan yang Rela Rogoh Kocek Pribadi hingga Dicibir Warga untuk Rawat ODGJ

  • Bagikan
Murwati Handayani, relawan ODGJ, ketika menyambangi Bambang, ODGJ yang tinggal di gedung tua di depan SMAN Punung Kabupaten Pacitan. (Foto: Risma Wigati/Tugu Jatim)
Murwati Handayani, relawan ODGJ, ketika menyambangi Bambang, ODGJ yang tinggal di gedung tua di depan SMAN Punung Kabupaten Pacitan. (Foto: Risma Wigati)

PACITAN, Tugujatim.id – Tak ada siapa pun yang ingin mengalami sebagai orang dalam gangguan jiwa (ODGJ). Apalagi ODGJ kerap kali dianggap sebelah mata sebagai orang yang kurang waras, berambut gimbal, dan lusuh. Namun, melalui sosok Murwati Handayani dan timnya, ODGJ Pacitan pun mereka sebut sebagai sahabat jiwa. Seperti apakah kisahnya?

Beberapa tahun terakhir, Bu Titik, sapaan akrab Murwati Handayani, mulai fokus merawat para ODGJ, khususnya yang berada di Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan. Lantas apa yang mendorongnya bersedia melakukan hal tersebut?

“Kalau bukan kita siapa lagi, kalau tidak sekarang kapan lagi. Kalau semua hanya memberi belas kasihan tanpa aksi turun tangan langsung, kapan mereka akan menjadi bersih?” ungkapnya kepada Tugu Malang, partner Tugu Jatim, di kediamannya di Desa Kendal, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan, Minggu (10/10/2021).

Titik mengatakan, kepedulian yang dia lakukan berawal dari inisiatifnya untuk memberikan makanan sekadarnya ketika ada ODGJ yang lewat sejak beberapa tahun yang lalu. Dia melanjutkan, niatnya pun semakin memuncak ketika masa awal pandemi, ada kejadian ODGJ yang terbaring di jalan dan telah sakaratul maut ketika dirinya menghampiri dengan membawa makanan dan minuman. Hal itulah yang memicu dan menggerakkan hatinya untuk peduli kepada mereka.

“Banyak orang yang mampu, tapi jarang ada yang mau membantu mereka (ODGJ, red),” kata dia.

Ketika ditanya tentang kegiatannya sebagai relawan ODGJ, perempuan yang menjabat sebagai ibu ketua RT tersebut mengungkapkan, kegiatan rutinnya yaitu bersih-bersih dengan mencukur rambut, memotong kuku, memandikan, memberi makanan dan minuman dua kali sehari, hingga memberi pakaian. Menurut dia, satu lagi kegiatan yang tak kalah penting yaitu mengajak para ODGJ berkomunikasi. Sebab, dengan sering ngobrol dan berbincang-bincang diharapkan dapat merangsang kesembuhan jiwa mereka.

Dalam melancarkan aksi sosialnya, perempuan yang juga menjabat sebagai ASN di salah satu sekolah menengah pertama (SMP) di Kecamatan Punung tersebut mengaku tidak sendirian melakukannya.

“Yang pasti ada dukungan dari keluarga. Tanpa izin suami, kami (tim, red) tidak bisa keluar rumah. Ketika kebutuhan anak belum tercukupi, kami tidak bisa berangkat. Kami juga dibantu oleh relawan dan masyarakat sekitar tempat ODGJ tersebut berada,” ujarnya.

Dia membeberkan, masyarakat juga memberikan makanan dan minuman. Jika ada ODGJ yang sakit, tapi masyarakat tidak bisa merawat secara intensif sehingga relawan yang turun tangan untuk merawatnya.

Setelah lama menjadi relawan dan menangani para ODGJ, dia mendapat banyak pelajaran berharga. Bahkan, dia menemukan adanya jiwa solidaritas dan semangat berbagi yang luar biasa dari salah satu ODGJ yang dirawat.

“Ternyata orang-orang yang dianggap kurang waras, justru bisa lebih waras dari kita. Setelah diamati, ada ODGJ yang sangat peduli kepada sesamanya. Ketika memiliki makanan berlebih, dia bersedia memberikan makanannya kepada orang lain. Jiwa berbagi dan solidaritasnya luar biasa. Bahkan, kepada orang-orang istimewa yang lewat dia mau memberikan makanannya. Lebih dari itu, ketika saya mengatakan, Mas maaf yo, aku ora ngoleh-olehi jeruk. Nyapo, Mbak? Aku rande duit. Uang yang ada di kantongnya ditawarkan kepada saya. Yang awalnya saya ingin tertawa, justru berubah jadi terharu,” ujar perempuan yang sangat inspiratif tersebut.

Dia melanjutkan, dirinya dan relawan menganggap para ODGJ ini memiliki pikiran-pikiran luar biasa. Mereka mengingat kekurangan, kesulitan orang lain, bahkan mengingat sisa makanannya sendiri. Hingga ODGJ yang bernama Bambang pernah mengatakan bahwa minta dibelikan ayam karena nasi sisa makanannya sayang untuk dibuang.

Sementara itu, dia juga menjelaskan salah satu kebiasaan ODGJ lain bernama Suparman dengan julukan Gibol, yang suka bersalawat, wiridan, berzikir, dan melafalkan ayat-ayat dan asma Allah.

“Ketika kesepian, dia justru bersalawat dan berzikir. Tidak meracau sembarangan. Jika diminta mengucap bismillah, dia mengucap bismilah. Ketika dipancing syahadat, dia juga dapat mengucapkannya. Ketika dipancing salawat, dia justru bisa melanjutkan dengan ayat Alquran yang panjang, dengan bacaan tajwid yang sempurna. Tentu saja hal ini menampar kita, orang yang menganggap diri kita lebih waras dari mereka,” katanya.

Ditanya soal respons orang-orang sekitar terhadap kegiatan sosial yang telah dijalaninya selama ini, Titik mengatakan, selain ada tanggapan positif, tak jarang dia mendengar tanggapan negatif.

“Ada yang mengatakan pencitraan, cari muka, tebar pesona, demi konten, bahkan yang agak menyakitkan, insentifnya berapa? Padahal, semua mestinya tahu kami berdiri sendiri dan mengeluarkan biaya sendiri. Kami tidak bisa membungkam cibiran dari mereka untuk tidak mengatakan itu. Tapi, kami yang harus menutup telinga agar tidak mendengarkannya,” ujarnya.

Hingga kini, sudah banyak ODGJ yang telah dirawat olehnya sebagai relawan. Ada yang memang menetap, ada pula yang hanya datang sebentar kemudian berlalu.

Dia pun menuturkan, hampir semua biaya perawatan ditanggung oleh keuangan pribadi, meski dirinya tidak menafikkan ada sumbangan dari beberapa donatur, berupa alat potong rambut, pakaian, dan lain-lainnya. Hingga saat ini sudah ada respons dari pemerintah, yakni dari dinas sosial dan dinas kesehatan, meski belum ada anggaran atau dana secara langsung yang dikucurkan untuk pembiayaan perawatan ODGJ kepada Titik dan timnya.

Terakhir, Titik dan timnya berharap para ODGJ ini bisa segera sembuh, bertemu keluarganya, dan masih diakui oleh keluarganya. Selain itu, semoga lebih banyak lagi orang yang mau peduli kepada para ODGJ di mana pun berada.

“Semoga lebih banyak lagi orang yang mau peduli kepada para ODGJ di mana pun berada dan membantu mereka,” ujarnya.

 

  • Bagikan