JOMBANG, Tugujatim.id – Di tengah arus modernisasi yang mendorong banyak orang beralih ke cara-cara instan, kisah Sutaji justru berjalan sebaliknya. Dengan sepeda pancal yang setia menemaninya sejak puluhan tahun lalu, penjual kerupuk di Jombang itu berhasil mewujudkan mimpinya pergi haji ke Tanah Suci.
Sejak 1970, Sutaji menekuni pekerjaannya sebagai penjual kerupuk keliling. Rutinitasnya sederhana, tetapi penuh makna.
Baca Juga: 376 Jemaah Haji Tuban Kloter 26 Resmi Berangkat, Bupati Titip Doa untuk Daerah
Pria berusia 66 tahun asal Dusun Budug, Desa Tugusumberjo, Kecamatan Peterongan, itu setiap pagi mengambil sekitar 5 kg kerupuk dari pabrik di Desa Senden, lalu berkeliling menjajakan dagangannya ke wilayah Peterongan hingga Mojongapit.
Meski usianya tidak lagi muda, dia tetap setia mengayuh sepeda, menolak beralih ke kendaraan bermotor seperti kebanyakan pedagang lainnya.
“Biasanya dalam waktu satu jam, sudah habis,” ujarnya dengan senyum tenang, Senin (27/04/2026).
Namun, di balik kesederhanaan itu, tersimpan disiplin luar biasa yang telah dia jalani selama puluhan tahun. Sejak awal 1980-an, Sutaji sudah mulai menabung untuk biaya pergi haji.
Konsisten Menabung meski Penghasilan Minim
Ketika itu, penghasilannya hanya sekitar Rp1.000 per hari. Namun dengan tekad yang kuat, dia menyisihkan Rp200 setiap hari khusus untuk tabungan haji.
Seiring waktu, pendapatannya meningkat hingga rata-rata Rp100 ribu per hari. Meski demikian, gaya hidupnya tidak berubah. Dia tetap memegang prinsip hidup hemat dan tidak boros.
“Separo pendapatan saya tabung, sedangkan sisanya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari,” kata dia.
Niat menunaikan ibadah haji telah tumbuh sejak dia menikah dengan istrinya, Siti Hana, 62, pada awal 1980-an. Bagi Sutaji, kunci utama bukanlah besar kecilnya penghasilan, melainkan konsistensi dan kemampuan menahan diri.
“Yang penting niat, sabar, dan tidak boros,” tuturnya singkat, tetapi penuh makna.
Perjalanan panjang itu akhirnya membuahkan hasil. Sang istri lebih dahulu mendaftar haji pada 2012, sedangkan Sutaji menyusul kemudian pada 2019 setelah tabungannya dirasa cukup.
Kini, pasangan suami istri tersebut tercatat sebagai calon jemaah haji asal Kabupaten Jombang yang dijadwalkan berangkat pada 2026. Penjual kerupuk di Jombang ini berharap, kisahnya bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang, terutama mereka yang merasa terbatas secara ekonomi.
Baca Juga: Jemaah Haji Kloter 27 Asal Tuban Meninggal Dunia Sebelum Keberangkatan ke Tanah Suci
“Semoga siapa pun yang punya niat baik, dimudahkan jalannya oleh Allah,” pungkasnya.
Kisah Sutaji bukan sekadar cerita tentang perjuangan ekonomi, tetapi juga tentang kekuatan tekad dan konsistensi. Di tengah keterbatasan, dia mampu membangun harapan sedikit demi sedikit, rupiah demi rupiah, hingga akhirnya menjadi kenyataan.
Lebih dari itu, perjalanan hidupnya menjadi pengingat bahwa ibadah bukan hanya soal kemampuan finansial semata, melainkan juga tentang kesungguhan hati.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Anang Panca Kurniawan
Editor: Dwi Lindawati








