• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
W.R. Supratman.

Foto W.R. Supratman: seorang wartawan, musisi, dan pejuang yang menciptakan lagu Indonesia Raya. (Foto: Pinterest)

Kisah Heroik W.R. Supratman, Ciptakan Lagu “Indonesia Raya” hingga Jejak Perjuangannya

Dwi Linda by Dwi Linda
11 months ago
in Pendidikan
0
Share on FacebookShare on Twitter

Tugujatim.id – Momen perayaan HUT ke-80 RI, sepantasnya kita kembali membuka lembaran sejarah tentang lagu Indonesia Raya yang menggetarkan jiwa. Nama Wage Rudolf Supratman atau W.R. Supratman, seorang wartawan, musisi, dan pejuang inilah yang mempersembahkan seluruh hidupnya untuk kemerdekaan bangsa, salah satunya lewat lagu.

Presiden pertama RI Bung Karno pernah berpesan tegas: “Jas Merah” jangan sekali-kali melupakan sejarah. Dan bila kita bicara tentang Indonesia Raya, lagu kebangsaan yang setiap nadanya menggetarkan jiwa, maka tidak pantas rasanya jika kita tidak menengok kisah sang penciptanya. Jasadnya memang telah tiada, tetapi jasanya takkan pernah lekang. Dialah W.R. Supratman.

You might also like

UM.

Pasca Perpanjang Kerja sama dengan BRIN, UM Bidik Pusat Kolaborasi Riset dan Degree by Research

18/07/2026 1:19 PM
Dosen Universitas Negeri Malang

Dosen Universitas Negeri Malang Kembangkan Mesin Hydro Nano Bubble, Siap Dukung Industri dan Ekspor Hortikultura

16/07/2026 8:35 PM

Baca Juga: Lagu Indonesia Raya Wajib Diputar di Semua Sekolah Surabaya

Terciptanya Lagu “Indonesia Raya”

Tahun 1926, di majalah Timboel terbitan Solo, terbit sebuah pertanyaan yang kelak mengubah sejarah.

“Manakah komponis Indonesia yang bisa menciptakan lagu kebangsaan Indonesia yang dapat membangkitkan semangat rakyat?”

Bagi W.R. Supratman, kalimat itu bukan sekadar deretan kata, tapi tantangan dan panggilan hati. Malam-malamnya setelah itu, diwarnai denting biola yang mengalun pelan, mencatat setiap inspirasi menjadi not demi not. Dia tidak ingin sekadar mencipta lagu, melainkan merangkai jiwa sebuah bangsa dalam bentuk musik yang mampu menggetarkan dada, menyatukan lidah yang berbeda, dan membakar semangat kebebasan.

Pada 1927, dia menghubungi beberapa perusahaan rekaman di Batavia: Odeon, Thio Tek Hong, dan Yo Kim Tjan. Dua perusahaan pertama menolak, takut pada represi Belanda.

Hanya Yo Kim Tjan, sahabat baik Supratman sekaligus pemain biola di Orkes Populair, yang berani membantu. Mereka merekam dua versi: versi asli yang dinyanyikan Supratman sambil memainkan biola, dan versi keroncong agar mudah dihafal masyarakat. Rekaman dilakukan di rumah Yo Kim Tjan, dibantu teknisi asal Jerman.

Master piringan hitam versi asli disimpan dengan hati-hati, sedangkan versi keroncong dikirim ke Inggris untuk diperbanyak. Namun setelah lagu ini diperdengarkan secara publik pada 28 Oktober 1928 di malam penutupan Kongres Pemuda II, Belanda panik dan menyita seluruh piringan hitam versi keroncong — baik yang beredar maupun yang masih dalam perjalanan dari London. Mereka tidak tahu, rekaman versi asli telah aman di tangan Yo Kim Tjan.

Malam itu di Gedung Indonesische Clubgebouw, suasana tegang. Intelijen Belanda mengawasi setiap gerak. Supratman meminta izin kepada Ketua Kongres Soegondo Djojopoespito untuk memainkan lagunya. Dengan syarat: tanpa lirik, karena kata “Indonesia” dan “merdeka” dianggap berbahaya.

Maka mengalunlah biola Supratman. Tanpa kata, namun setiap nada berbicara dalam bahasa hati. Para pemuda terdiam, merasakan kobaran semangat di dada. Malam itu, Indonesia Raya lahir bukan hanya sebagai musik, tetapi sebagai simbol perlawanan dan simpul persatuan bangsa.

W. R. Supratman: Wartawan, Guru, Musisi, dan Pejuang

Wage Rudolf Supratman lahir di Purworejo pada 19 Maret 1903. Masa kecilnya jauh dari kemewahan. Dia diasuh kakak iparnya, Willem van Eldik, yang memperkenalkannya pada musik. Biola hadiah ulang tahunnya yang ke-17 menjadi sahabat setia yang kelak mengantarnya mencipta lagu kebangsaan.

Dia sempat menjadi guru sebelum terjun ke dunia jurnalistik. Sebagai wartawan di Kaoem Kita (1924–1925) dan Sin Po (1926–1933), Supratman menyaksikan langsung denyut perjuangan rakyat dan penindasan kolonial. Dia hadir di Kongres Pemuda I dan II, menjadi saksi sekaligus bagian dari sejarah yang dia musikkan.

Setelah Indonesia Raya menyebar di kalangan pergerakan, Belanda semakin menaruh curiga. Supratman berkali-kali diinterogasi. Tekanan mental dan fisik membuat kesehatannya menurun. Pada 17 Agustus 1938, tujuh tahun sebelum proklamasi, dia wafat di Surabaya. Dia tidak pernah melihat jutaan rakyat menyanyikan lagunya di hari kemerdekaan.

Pada 1944, saat Jepang mulai terdesak di Perang Dunia II, mereka membentuk Panitia Lagu Kebangsaan yang diketuai Ir Soekarno. Naskah asli lagu Indonesia Raya mengalami tiga kali perubahan.

Pada 17 Agustus 1945, lagu ini resmi dikumandangkan kembali sebagai lagu kebangsaan Indonesia. Sejak itu hingga kini, Indonesia Raya tidak pernah absen dinyanyikan dalam upacara bendera, acara kenegaraan, hingga berbagai kegiatan nasional dan internasional.

Lagu ini tetap menjadi pengingat bahwa kemerdekaan tidak diberikan, melainkan diperjuangkan, persis seperti tujuan awal penciptaannya: membangkitkan semangat rakyat untuk bersatu dan merdeka.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id

Writer: Safiruddin Jailani/Magang

Editor: Dwi Lindawati

Tags: Lagu Indonesia Raya ciptaan siapaPahlawan Indonesia W.R. SupratmanPahlawan W. R. SupratmanPencipta lagu W.R. SupratmanSejarah pencipta lagu Indonesia Raya
Dwi Linda

Dwi Linda

Related Stories

UM.

Pasca Perpanjang Kerja sama dengan BRIN, UM Bidik Pusat Kolaborasi Riset dan Degree by Research

by Dwi Linda
18/07/2026 1:19 PM
0

MALANG, Tugujatim.id - Universitas Negeri Malang (UM) mulai menindaklanjuti kerja sama yang telah terjalin dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional...

Dosen Universitas Negeri Malang

Dosen Universitas Negeri Malang Kembangkan Mesin Hydro Nano Bubble, Siap Dukung Industri dan Ekspor Hortikultura

by Mochamad Abdurrochim
16/07/2026 8:35 PM
0

MALANG, Tugujatim.id – Dosen Universitas Negeri Malang (UM), Hasan Ismail, S.Pd., M.Sc., Ph.D., mengembangkan mesin Hydro Nano-Bubble Sterilizer yang mampu...

MTs Ma'arif NU Ngaban

Tak Kalah Bersaing dengan Sekolah Negeri, MTs Ma’arif NU Ngaban Andalkan Modern Language School dan Penguatan Karakter

by Mochamad Abdurrochim
16/07/2026 6:24 PM
0

SIDOARJO, Tugujatim.id – Di tengah persaingan dengan sekolah negeri, MTs Ma'arif NU Ngaban di Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, terus memperkuat...

FK UM

Kebidanan FK UM Laksanakan Riset Profil Kesehatan Remaja Perempuan untuk Mendukung Upaya Kesehatan Preventif

by Mochamad Abdurrochim
16/07/2026 5:13 PM
0

MALANG, Tugujatim.id – Tim Penelitian Program Studi Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Malang (FK UM) yang diketuai oleh Dessy Amelia,...

Next Post
Siswa Sekolah Rakyat.

Tahap Bangun SR Rintisan, 96 Siswa Sekolah Rakyat Kabupaten Belajar di Malang dan Batu

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID