JEMBER, Tugujatim.id – Kabupaten Jember tengah dilanda krisis bahan bakar minyak (BBM). Hampir di seluruh SPBU mengalami krisis BBM di Jember, tampak antrean kendaraan yang mengular. Bahkan, tidak sedikit warga yang harus rela menunggu berjam-jam demi mendapatkan BBM.
Kondisi krisis BBM di Jember ini memaksa sebagian warga beralih ke penjual eceran. Namun, harga yang ditawarkan pun melonjak drastis, bahkan mencapai dua kali lipat dari harga normal.
Baca Juga: Jalur Gumitir Ditutup tanpa Prediksi, Distribusi BBM di Jember Terhambat
Salah satunya dialami Agustina Tri, 30, warga Kecamatan Umbulsari. Dia membeli BBM jenis Pertamax dari pengecer seharga Rp14 ribu per liter. Padahal sebelumnya, dia sempat menemukan harga eceran mencapai Rp25 ribu per liter untuk Pertalite. Menurut dia, hal ini sudah terasa sejak Sabtu (26/07/2025).
“Ini tadi dapat info dari tetangga, katanya ada (bensin) di sini jam 3 sore. Saya langsung antre dari jam 2 lebih, takut nggak kebagian. Tadi ada yang dua kali ke sini, katanya kehabisan padahal udah antre panjang. Harga ini mending, masih murah. Tadi malam saya muter-muter, ada yang nawarin Rp25 ribu seliter,” ungkapnya, Senin (28/07/2025).

Hal senada juga dirasakan Rosida, 38, warga Kecamatan Semboro. Dia mengaku harus antre hampir 4 jam di SPBU terdekat demi mendapatkan bensin.
“Saya antre dari habis jemput anak sekolah. Kata petugas SPBU, bensinnya baru datang jam 7 malam. Kalau nggak gini, besok nggak bisa antar anak sekolah dan belanja,” ucapnya.
Serupa, Mardiana 25, warga yang tinggal di Kecamatan Sumbersari ini rela membeli bensin jenis Pertalite seharga Rp20ribu per liter.

“Daripada nggak ada lagi, karena memang sulit sekali. Apalagi tidak punya kendaraan lain selain motor untuk aktivitas sehari-hari. Kalau ada sepeda listrik mungkin masih mudah (akses mobilitas) ya,” ungkap dia.
Krisis BBM di Jember ini juga berdampak langsung pada pelaku usaha kecil yang bergantung pada mobilitas harian. Salah satunya Mistiatun, 55, seorang pengepul jambu dari Desa Sukoreno. Dia mengaku harus memutar otak agar tetap mendapat untung di tengah krisis BBM.

“Kalau di desa, SPBU jarang. Jadi seringnya beli eceran. Ada yang jual Pertalite Rp25 ribu, Pertamax bisa Rp30 ribu seliter. Itu pun harus cari info dulu ke mana-mana. Sekarang saya beli jambu buat dijual lagi, ya mau nggak mau harganya saya tekan biar masih dapat untung,” tuturnya.
Sementara itu, Solihah, 42, salah satu pedagang bensin eceran di wilayah Jember, memilih untuk menghentikan sementara aktivitas jualannya karena kesulitan mendapat stok BBM.

“Sementara libur dulu, tunggu kembali normal karena antrean di SPBU panjang sekali. Nggak papa, sementara pemasukan mengandalkan toko dulu. Kemarin stok tiga jeriken langsung ludes, nggak sampai satu hari. Semoga bisa kembali normal,” imbuhnya.
Diberitakan sebelumnya, krisis BBM di Jember diketahui dipicu terganggunya akses distribusi melalui jalur Gumitir yang menghubungkan Jember-Banyuwangi. Gangguan ini berdampak pada keterlambatan pengiriman BBM dari fasilitas penyimpanan di Banyuwangi ke berbagai SPBU di Jember sejak Kamis (24/07/2025), menyebabkan antrean panjang dan kekhawatiran di tengah masyarakat.
Kondisi krisis BBM ini juga ramai diperbincangkan di media sosial. Warga ramai-ramai mengunggah keluhan soal antrean panjang, kelangkaan stok, hingga lonjakan harga BBM eceran.
Menariknya, media sosial juga menjadi ruang berbagi informasi antar warga, bahkan sejumlah akun pengiriman BBM ikut merespons dengan memberikan update posisi truk tangki dan estimasi waktu kedatangan ke SPBU tertentu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Feni Yusnia
Editor: Dwi Lindawati








