JEMBER, Tugujatim.id – Krisis pasokan bahan bakar minyak (BBM) di Kabupaten Jember mendorong Muhammad Fawait selaku kepala daerah untuk mengambil langkah strategis melalui komunikasi intensif dengan manajemen Pertamina.
Tujuannya adalah mengubah pola distribusi yang selama ini bergantung pada satu koridor transportasi utama dari Banyuwangi. Terganggunya akses melalui rute Gumitir yang menghubungkan kedua kabupaten tetangga tersebut telah menimbulkan efek domino terhadap kelancaran pengangkutan BBM dari fasilitas penyimpanan di Banyuwangi.
Baca Juga: Cegah Stunting di Jember, Ketua TP PKK Perkuat lewat Pemberdayaan Ibu-Ibu di Tingkat Keluarga
Mulai hari Kamis (24/07/2025), berbagai stasiun pengisian bahan bakar umum menghadapi masalah keterlambatan stok sehingga menciptakan barisan panjang kendaraan dan menimbulkan kecemasan di kalangan penduduk.
Bupati yang akrab disapa Gus Fawait itu menyampaikan bahwa dirinya segera menjalin komunikasi dengan pihak Pertamina ketika informasi mengenai kelangkaan BBM sampai ke tangannya.
“Komunikasi dengan Pertamina telah kami lakukan. Kami mengajukan permintaan agar jalur pasokan beralih melalui Malang dan Surabaya. Hari ini pengiriman melalui rute alternatif tersebut sudah dimulai, dan kami optimis dalam rentang 48 jam kondisi akan kembali stabil,” ungkap Fawait pada Minggu (27/07/2025).
Tidak hanya fokus pada perubahan jalur distribusi, pemerintah kabupaten juga mengerahkan tim pengawas melalui instansi terkait yaitu dinas perhubungan dan satuan polisi pamong praja untuk menjamin keamanan proses pengiriman dan mencegah praktik penimbunan ilegal.
Kondisi kelangkaan BBM ini sebelumnya melanda beberapa kecamatan di antaranya Silo, Mayang, Ambulu, dan Puger. SPBU-SPBU di zona tersebut mengalami hambatan dalam penerimaan kiriman, khususnya untuk varian pertalite dan solar. Sejumlah warga bahkan rela mengantre dari malam hari, dengan sebagian memilih membeli bahan bakar menggunakan wadah jeriken karena khawatir stok akan habis total.
Bupati mengimbau agar masyarakat menjaga ketenangan dan menghindari pembelian dalam jumlah berlebihan.
“Saya mengajak masyarakat untuk tidak terjebak dalam kepanikan. Manfaatkan BBM secara proporsional sesuai keperluan. Tidak ada kebutuhan untuk menimbun dalam volume besar karena normalitas pasokan akan segera tercapai,” tekannya.
Respons cepat yang ditunjukkan oleh Bupati Fawait mendapat pujian dari berbagai kalangan karena dianggap efektif dan tepat sasaran. Pertamina pun langsung melakukan penyesuaian jalur pengiriman dan menambah jumlah kendaraan angkut dari gudang penyimpanan Malang dan Surabaya.
Situasi ini sekaligus mengingatkan betapa pentingnya memiliki jalur distribusi cadangan untuk daerah yang secara geografis berpotensi mengalami isolasi.
Peran Sinergi Atasi Kelangkaan BBM
Pemda berencana mengevaluasi secara menyeluruh terhadap mekanisme distribusi komoditas vital, termasuk keperluan stok penyangga di tempat BBM yang paling dekat. Langkah ini dipandang vital supaya pasokan tidak terhenti ketika terjadi masalah infrastruktur seperti tanah longsor atau pemeliharaan jalur primer.
Masyarakat juga diminta untuk tidak menyebarluaskan informasi yang belum mendapat konfirmasi dan ikut berperan dalam pengawasan distribusi BBM agar tetap berjalan lancar.
“Diperlukan kolaborasi dari seluruh elemen, bukan hanya pemerintah dan Pertamina, tetapi juga partisipasi masyarakat supaya keadaan tetap terkontrol,” kata Fawait.
Melalui penanganan yang responsif dan koordinasi antar sektor, distribusi BBM ke wilayah Jember mulai memperlihatkan tanda-tanda pemulihan. SPBU yang sempat mengalami kekosongan stok kini perlahan mulai beroperasi kembali, walaupun pasokan masih dalam tahap bertahap.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Diki Febrianto
Editor: Dwi Lindawati








