Kritik Pemerintah, HIPREJS Ungkap Kendala Pengajuan Hak Paten Kesenian Reog Ponorogo

Kesenian Reog Ponorogo. (Foto: Istimewa/Tugu Jatim)
Ketua Himpunan Paguyuban Reog Ponorogo dan Jaranan Kota Surabaya Tri Suyanto. (Foto: Istimewa)

SURABAYA, Tugujatim.id – Beredar kabar kesenian Reog Ponorogo Jawa Timur bakal diklaim oleh Negeri Jiran Malaysia ke Unesco. Menanggapi hal tersebut, Ketua Himpunan Paguyuban Reog Ponorogo dan Jaranan Kota Surabaya (HIPREJS) Tri Suyanto mengatakan, dengan adanya permasalah ini, Reog tidak hanya menjadi perbincangan di Indonesia, tapi juga mendapat perhatian dari luar negeri.

Tri menilai upaya pemerintah dalam mengajukan hak paten atas kesenian Reog Ponorogo hanya setengah-setengah.

“Upaya pemerintah hanya setengah hati. Kenapa tidak dari dulu ini dipatenkan? Kalau memang ada kendala, kami carikan solusi,” katanya saat ditemui di Gedung Kesenian Cak Durasim Surabaya, Jumat (15/04/2022).

Tri mengatakan, sebetulnya pengajuan hak paten atas kesenian Reog Ponorogo ini memang mengalami kendala. Yaitu, terkait cara pembuatan Reog yang bertentangan dengan UU konservasi tentang perlindungan hewan.

“Karena memang dalam pembuatannya menggunakan bulu merak asli dan kepala macan. Nah, ini kan hewan yang dilindungi. Tentunya ini bertentangan,” ucapnya.

Menurut dia, proses pembuatan inilah yang dianggap orang luar negeri bahwa kesenian Reog Ponorogo hasil dari pembantaian terhadap hewan yang dilindungi.

“Kan itu bertentangan, tinggal sekarang pemerintah berargumentasi atau mencarikan solusinya. Sehingga itu bisa disiasati agar jalannya untuk mematenkan ini mulus,” ujarnya.

Tri mengatakan, salah satu solusi agar kesenian tersebut bisa dipatenkan yaitu dengan menjelaskan bahan baku pembuatannya menggunakan bahan imitasi atau bahan pengganti.

“Misalnya bulu merak yang digunakan adalah bulu sintetis yang dibuat sama persis. Kemudian kepala hewan macan, itu juga tidak diambil dari hewan aslinya, tapi imitasi yang dibuat sama persis,” jelasnya.

Karena itu, Tri melanjutkan, literasi tentang kesenian itu juga perlu agar proses hak paten bisa lancar.

“Saya rasa, literasi dan bagaimana cara pembuatan soal Reog itu penting dilakukan agar semua bisa lancar pengurusan hak patennya,” ujar Tri.

 

 


Terima kasih sudah membaca artikel kami. Ikuti media sosial kami yakni Instagram @tugujatim , Facebook Tugu Jatim
Youtube Tugu Jatim ID , dan Twitter @tugujatim