MALANG, Tugujatim.id – Sudut usaha Sego Goreng Resek Pak Man di Jalan Brigjend Katamso, Kasin, Kota Malang, Jatim, sekitar 50 meter ke arah barat dari perempatan Kasin ini tampak tidak pernah sepi pelanggan. Tapi, warung sederhana yang legendaris ini telah menyimpan cerita panjang selama lebih dari enam dekade.
Warung Sego Goreng Resek Pak Man bukan sekadar tempat makan biasa—ini adalah saksi bisu perjalanan waktu, tempat di mana rasa otentik dan kehangatan keluarga berpadu dalam setiap piring yang disajikan.
Sejarah Sego Goreng Resek Pak Man
Aroma harum kuliner malam nasi goreng yang bercampur dengan asap kuali (wajan) panas mulai menguar sejak pukul 16.30. Di balik kepulan asap itu, sosok Pak Tukiman—atau yang akrab dipanggil Pak Man—dengan gesit mengaduk-aduk nasi goreng di atas kuali besar.
Tangannya yang telah terlatih selama puluhan tahun bergerak lincah, menuangkan minyak goreng, memasukkan cambah, kubis, mie, dan nasi secara berurutan, kemudian menyiramnya dengan bumbu racikan khusus yang sudah menjadi rahasia keluarga.

“Awalnya nasi goreng ini namanya Nasi Goreng Jawa. Tapi karena warung ini dulu berlokasi dekat tempat sampah, jadi dinamakan nasi goreng resek. Resek itu artinya ‘sampah’ dalam bahasa Jawa,” kenang Pak Man sambil terus mengaduk nasi goreng.
Nama yang terdengar sederhana itu ternyata menyimpan filosofi mendalam. Tidak peduli dengan stigma negatif yang mungkin muncul dari namanya, Pak Man justru membuktikan bahwa kualitas rasa tidak pernah berbohong. Setiap hari, warung yang beroperasi pukul 16.30 hingga 21.00 ini mampu menghabiskan 50 kilogram beras dan melayani sekitar 400 porsi nasi goreng.

Cerita Sego Goreng Resek dimulai jauh sebelum Pak Man mengenalnya. Pada 1959, Sati’ah—ibu dari Pak Man—adalah sosok perintis yang kali pertama memperkenalkan cita rasa istimewa ini kepada masyarakat Malang. Dengan resep sederhana namun penuh cinta, Sati’ah membangun fondasi yang kokoh untuk warung yang kelak akan menjadi legenda kuliner kota ini.
“Ibu saya yang memulai semua ini pada 1959. Saya baru melanjutkan usaha pada 2001,” tutur Pak Man dengan nada bangga sekaligus haru.
Dia mengatakan, sudah 24 tahun berlalu sejak tongkat estafet usaha keluarga ini berpindah ke tangannya, namun semangat dan dedikasi untuk mempertahankan kualitas rasa tidak pernah pudar.
Anggota Keluarga Bagi Tugas Layani Pelanggan dengan Ramah
Yang membuat warung ini istimewa bukan hanya dari segi rasa, tetapi juga kehangatan keluarga yang terasa di setiap sudutnya. Seluruh karyawan yang membantu Pak Man adalah keluarganya sendiri—anak-anaknya dan adik-adiknya.
Mereka bekerja dengan pembagian tugas yang rapi: sementara Pak Man fokus memasak, anggota keluarga lainnya bertugas menyiapkan topping yang tidak pernah pelit seperti telur, suwiran ayam, ati ampela, dan usus sesuai pesanan pelanggan, membuat minuman, membungkus pesanan take away, hingga melayani pelanggan dengan ramah.

Resep Sego Goreng Resek yang dipegang teguh oleh Pak Man terdiri dari bahan-bahan sederhana namun berkualitas: mulai dari cambah, kubis, mie, nasi, kaldu ayam, dan bumbu racikan yang terdiri dari bawang merah, bawang putih, garam, merica, kecap, dan micin. Kesederhanaan bahan ini justru menciptakan kompleksitas rasa yang sulit ditiru.
Proses memasaknya pun memiliki ritualnya sendiri. Setelah minyak goreng dipanaskan dalam kuali, cambah, kubis, mie, dan nasi dimasukkan secara berurutan. Kemudian, bumbu yang telah dicampur dengan kaldu disiramkan merata, ditambah kecap dan garam, lalu diaduk hingga semua bahan tercampur sempurna. Setiap gerakan Pak Man tampak seperti tarian yang sudah dia hafal di luar kepala.
Kehangatan yang terpancar dari warung ini tidak hanya datang dari kompor yang menyala, tetapi juga dari loyalitas pelanggan yang turun-temurun.
“Pelanggan saya itu dari masih bujang sampai punya anak dan cucu. Semua kalangan menikmati nasi goreng resek ini,” cerita Pak Man dengan senyum lebar.

Seperti halnya perjalanan hidup yang tidak selalu mulus, Pak Man pun mengalami suka duka dalam menjalankan usahanya. Kebahagiaan terbesar adalah ketika seluruh nasi dan lauk habis sebelum pukul 21.00, pertanda bahwa pelanggan sangat menyukai sajiannya.
Namun, tantangan terbesar yang pernah dihadapi adalah ketika nasi putih basi padahal masih tergolong baru—sebuah dilema yang harus dihadapi setiap pedagang makanan.
Meski telah berjalan selama 66 tahun dan memiliki popularitas yang tinggi, Sego Goreng Resek Pak Man tetap mempertahankan konsep tunggal tanpa membuka cabang di mana pun. Keputusan ini bukan tanpa alasan—Pak Man percaya bahwa keaslian rasa dan kehangatan pelayanan keluarga hanya bisa dijaga jika dia tetap mengawasi langsung setiap proses yang terjadi di warungnya.
Review Pelanggan
Testimoni pelanggan seperti yang ditulis oleh akun Barbatos Revelations di Google Maps menjadi bukti nyata kualitas yang konsisten.
“Nasi goreng resek 9/10. Masuk dari authentic-nya terlebih dahulu. Sudah terkenal karena berjualan dari lama. Bahkan, ayah saya mengenal nasgor ini. Untuk cita rasa, sangat saya sukai. Cita rasa nasgor kampung. Membuat diri jadi kangen rumah karena saat ini sedang merantau,” tulisnya.

Sementara itu, Shenny Shendok, pelanggan lama yang baru saja kembali setelah sepuluh tahun tidak datang, juga memberikan apresiasi.
“Enak yang dulu menurutku. Untuk antrean panjang, tapi cepat dilayani. Murah dengan porsi yang banyak,” katanya.

Setiap sore, ketika matahari mulai condong ke barat dan hiruk-pikuk Kota Malang mulai mereda, warung sederhana di Jalan Brigjend Katamso itu kembali menggeliat. Suara gemerisik kuali, tawa pelanggan, dan aroma nasi goreng yang menggoda kembali memenuhi udara.
Di tengah modernitas yang terus bergerak cepat, Sego Goreng Resek Pak Man berdiri teguh sebagai pengingat bahwa ada nilai-nilai luhur yang tidak boleh hilang: ketulusan, kekeluargaan, dan komitmen untuk memberikan yang terbaik.
Warung ini bukan hanya tempat untuk mengenyangkan perut, tetapi juga rumah bagi kenangan indah yang terus tercipta setiap harinya. Dari generasi ke generasi, dari pelanggan lama hingga pengunjung baru, semuanya merasakan kehangatan yang sama—kehangatan yang terpancar dari setiap suapan Sego Goreng Resek yang disajikan dengan cinta dan ketulusan hati. Jadi, apa kamu masih mau menunda kuliner malam yang enak dan murah di Malang ini?
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Dela Adelatul Hasanah/Magang
Editor: Dwi Lindawati








