MALANG, Tugujatim.id – “Slurp,,, ah, swegar,” begitu suara seorang pelanggan usai menyeruput segelas Es Tape Tanimbar Grafika. Minuman dominan berwarna pink usai diaduk ini begitu menggugah selera saat berkunjung ke pertigaan SMKN 4 Malang, Jl Tanimbar, Kasin, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Jatim, Selasa siang (09/09/2025). Makin penasaran, Tugu Jatim ID pun tidak mau ketinggalan menjajalnya.
Suasana siang yang mendung pada pukul 13.00 ini tidak terasa panas sama sekali. Pepohonan yang rimbun meneduhkan jiwa, angin seolah-olah memberikan kesegaran, dan lalu lalang kendaraan menambah suasana syahdu Kota Malang.
Justru suasana sejuk dan teduh ditemani pepohonan rindang di kanan kiri jalan, menjadi spot favorit mencicipi kuliner legendaris ini. Di antara riuhnya tren minuman kekinian, Es Tape Tanimbar Grafika tetap bertahan dan eksis. Bukan hanya eksis, pelanggannya pun tidak pernah sepi untuk menikmati segelas minuman murah, enak, dan segar ini.
Sejarah Es Tape Tanimbar Grafika
Untuk memudahkan penikmat kuliner berkunjung, Es Tape Tanimbar Grafika berlokasi di Jalan Tanimbar, Kasin, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Jatim. Usaha ini masih menggunakan gerobak dorong sederhana berada tepat di samping SMKN 4 Malang atau terkenal dengan sebutan SMK Grafika. Usaha ini pun sudah berdiri sejak 1959 atau selama 66 tahun.
Alyma Sri Utami, penerus usaha keluarga kuliner Es Tape Tanimbar Grafika, menuturkan, titik awal usaha esnya bertahan hampir 70 tahun dan tetap eksis hingga saat ini.

Alyma, sapaan akrabnya, menceritakan sang ayah, Pak Tamsir, dulu berjualan es tape dengan menggunakan gerobak dorong di sekitaran Pecinan. Tapi, dia mengatakan, seiring berjalannya waktu dan beberapa kendala akhirnya Pak Tamsir memutuskan untuk pindah tempat dan menetap di Jalan Tanimbar, samping SMK Grafika pada 1994.
“Ayah saya sudah mendirikan usaha es tape dari 1959, Mbak. Saat itu saya masih kecil dan ayah berjualan di sekitaran Pecinan. Tapi, kadang ada satpol PP yang mengamankan,” ujarnya dengan ramah.
Pada 1994, dia melanjutkan, akhirnya ayah memutuskan untuk pindah ke Jalan Tanimbar sesuai rekomendasi dari tetangga.
“Setelah Ayah tiada, saya memutuskan pulang kampung dari Bandung untuk meneruskan usaha ini pada 2021,” tutur Alyma, anak ketiga dari empat bersaudara ini.
Menurut Alyma, nama Es Tape Tanimbar Grafika ini tidak ada makna khusus. Nama Tanimbar diambil dari nama jalan dan Grafika tercipta dari kebiasaan para pelanggan es tape yang menamai Grafika lebih mudah diingat dan kebetulan lokasinya di samping SMK Grafika.
Nikmatnya Segelas Es Tape Tanimbar Grafika
Wanita yang pernah bersekolah di Kota Bandung ini membeberkan, seporsi es tape disajikan dalam sebuah gelas yang berisi es serut, dawet sruntul yang terbuat dari tepung tapioka, dan dicampur santan. Selain itu, dia mengatakan, tidak lupa bintang utamanya ketan hitam fermentasi hingga menciptakan rasa asam manis yang legit, ditambah roti dan sirup di atasnya sebagai pelengkap yang sempurna.
“Bahan boleh sederhana, tapi cita rasa tetap istimewa,” ujarnya.

Dia juga mengatakan, seporsi es tape dibanderol Rp1.250 pada 2021. Seiring berkembangnya zaman, harga segelas es tape menjadi Rp5.000.
Alyma sebagai generasi kedua membuktikan bahwa harga bisa berubah, tapi cita rasanya tetap sama. Dia mengungkapkan tetap konsisten membuat semua bahan di rumah, seperti menyimpan persediaan fermentasi ketan hitam yang diolah sendiri dengan mempertahankan resep turun-temurun sang ayah.
“Semua bahan saya bikin sendiri kecuali roti, Mbak. Dari dawet, es, dan tape ketan hitam, semua dibikin sendiri. Tidak butuh waktu lama membuatnya, setengah tujuh pagi saya mulai membuat bahan secara steril dan menjaga kebersihan alat serta bahannya. Semua dilakukan demi kualitas dan kenyamanan pelanggan. Setelah itu, saya berangkat ke lokasi untuk persiapan berjualan,” jelas Alyma.
Bukan sekadar kuantitas, wanita yang berusia setengah abad ini juga selalu mengutamakan kualitas dan kepuasan dari para pelanggannya.
Dalam sehari, dia mengatakan, usaha Es Tape Tanimbar Grafika ini bisa menghabiskan kurang lebih 600 gelas karena cita rasanya yang konsisten.

Tidak sendirian, dia mengaku dibantu berjualan bersama keponakannya bernama Iwan. Kalau pelanggan menyerbu, dia melanjutkan, Iwan langsung turun tangan melayani.
Alyma juga bercerita pernah didapuk sebagai mentor pembuatan es tape. Dia langsung terjun mengajar dan berbagi tips pembuatannya di hotel-hotel maupun dinas. Dia hanya berharap ilmunya dapat bermanfaat bagi banyak orang dan bisa menginspirasi.

Meskipun lokasi jualannya ada di dekat sekolah, pelanggan berdatangan dari berbagai kalangan. Mulai dari anak sekolah, mahasiswa, pegawai, dan masyarakat umum bisa menikmati es tape yang segar dan nikmat. Bahkan, usaha es tape ini berhasil menarik perhatian media elektronik seperti Trans TV dan Trans 7 yang sempat singgah untuk mencicipi keotentikannya.
Jam Operasional Es Tape Tanimbar Grafika
Untuk jam operasionalnya, dia mengatakan, buka setiap hari mulai pukul 10.00-16.30 WIB. Usaha ini tidak mengenal tanggal merah. Meskipun hari libur, usaha es tape ini tetap buka dan ramai pengunjung.
Review Pelanggan
Salah satu pelanggan es tape bernama Via, mahasiswa yang sedang berlibur di Malang, mengaku menikmati sajian es tape lokal ini. Menurut dia, rasanya enak, tidak terlalu manis, ditambah roti tawar sebagai perpaduan yang sempurna.
“Saya kaget ketika mendengar harganya yang enggak masuk akal di zaman sekarang. Murah meriah hanya bayar 5.000 rupiah bisa menikmati es tape seenak dan seotentik di Grafika ini,” tutur Via.

Gimana sudah siap nostalgia mencicipi dan menjajal Es Tape Tanimbar Grafika di Malang? Cobain deh, dijamin rasa segar dan otentiknya membuat kamu balik lagi dan lagi karena cita rasa yang tidak pernah pudar selama hampir 70 tahun berdiri. Es tape yang masih memakai gerobak dorong ini tidak ada duanya karena mereka belum buka cabang di mana pun. Gimana kamu sudah siap kulineran ini?
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Diandra Talifta Zahra/Magang
Editor: Dwi Lindawati








