SURABAYA, Tugujatim.id – Kemunculan sosok Lia Istifhama (40), calon legislatif (Caleg) DPD RI Wilayah Jawa Timur banyak menyita perhatian publik. Hasil real count Komisi Pemilihan Umum (KPU) sementara, perempuan pemilik tagline Jilbab Ijo ini masuk dalam jajaran empat besar caleg DPD RI Jatim dengan mendulang 1.816.519 suara atau 13,47 persen.
Lia Istifhama dijuluki sebagai sosok Srikandi NU yang muda dan cerdas. Namanya pun kerap dikaitkan dengan dua tokoh politik nasional, yakni Khofifah Indar Parawansa dan KH. Masykur Hasyim.
Ning Lia, panggilan akrabnya, merupakan keponakan Khofifah dan ayahnya, KH. Masykur Hasyim mantan anggota DPRD Jatim dan mantan Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Jawa Timur. KH. Masykur Hasyim juga mantan Komandan Banser Jatim.
Kedua sosok tersebut menjadi inspirasinya untuk terjun di dunia politik. Kehebatan keduanya menjadi inspirasi dan mempengaruhi kehidupan pribadinya.
“Ibu Khofifah dan almarhum ayah saya, bukan politisi biasa seperti yang lainnya, tapi mereka the real politisi. Mereka politisi sejati. Dimanapun beliau berada, beliau emban, selalu berbuat kemaslahatan,” katanya.
Menurutnya, Gubernur Jatim periode 2019-2024 tersebut merupakan politisi yang tidak diragukan lagi rekam jejaknya.
“Beliau, bu Khofifah sangat hebat, maka jangan salah jika beliau mengemban sebuah jabatan, akan sangat moncer. Dan beliau memiliki kepekaan yang sangat tinggi,” tabahnya.
Ibu dua anak ini mengaku kerap memanfaatkan media sosial sebagai media kampanyenya, dan memang beberapa kali unggahan videonya viral. Ning Lia mengaku, sejatinya bukan tipe orang yang menyukai medsos.
“Saya mengisi akun sosmed pribadi yang lebih ke sisi natural seorang ibu dan video yang saya unggah, selalu video sederhana. Video terkait kampanye baru saya unggah saat mau coblosan,” ungkapnya.
Ia sempat kaget dan bersyukur, tayangan video viral secara positif dan bermanfaat. Selain itu juga dipastikan akun yang mengunggah ulang videonya itu adalah akun riil, bukan buzzer. Karena memang, saat ini banyak berseliweran akun buzzer di sosmed.
“Tapi ternyata ketika saya sekarang dihadapkan dengan kehebohan dunia maya, dimana katanya sering masuk FYP, ya mau tidak mau saya akhirnya harus belajar memahami pergerakan sosmed. Sederhananya, harus ngikutin zaman. Dan ini juga anjuran Islam, shallihun li kulli zaman wal makan, bahwa kita harus bisa adaptasi sesuai tempat dan waktu,” terangnya.
Ning Lia merasa mendapat ketiban ‘durian runtuh’ karena viral di tiktok. Ia kerap disapa anak-anak muda yang dengan riang memanggil-mangil namanya. Dari situ menyadari kalau sosmed memang digandrungi anak-anak dan remaja.
Dia berharap, masyarakat terutama generasi muda juga bisa memanfaatkan media sosial dengan positif dan memberikan tontonan berkualitas. Karena tidak sedikit buzzer di media sosial yang menebar disinformasi sesuai kepentingan masing-masing.
“Semua adek-adek, anak-anak yang senang dengan berbagai konten di sosmed, ayo jangan cuma jadi penonton, tapi bikin video ya? Video yang bagus, jangan cari supaya viral aja. Karena jadi viral itu tidak selalu mudah dan tidak selalu nyaman. Maka bikin video yang sederhana saja, terkait sekolah kalian atau mungkin game online. Pakai kata-kata yang lucu, jangan sampai ada kata kotor. Jangan bikin orang tua kalian pingsan deh,” tandasnya.
Reporter : Izzatun Najibah
Editor : Darmadi Sasongko








