TUBAN, Tugujatim.id – Limbah kulit buah Siwalan yang biasa ditemukan di tumpukan sampah disulap menjadi bahan bakar ‘Briket Siwalan’ bernilai tinggi, bahkan menembus pasar ekspor. Adalah Latif Wahyudi, pemuda asal Tuban penggagas ide kreatif ini lewat Program Kampung Eko Brigade atau Kang Ebit.
Bermula dari keprihatinan terhadap banyaknya limbah kulit Siwalan yang terbuang percuma, Latif mulai bereksperimen pada 2021. Ia mengolah limbah tersebut menjadi briket ramah lingkungan. Prosesnya tidak mudah, karena memang tidak ada panduan ataupun contoh formula sebelumnya.
“Waktu itu belum ada yang jalanin di Tuban. Semuanya serba coba-coba. Mesin kami rakit sendiri, formulasi bahan kami uji sendiri,” kenang Latif yang kini pemiliki Perusahaan Miracle Carbon Indonesia (MCI) kepada Tugujatim.id.
Perjuangan itu perlahan membuahkan hasil. Pada 2022, produksi mulai berjalan dengan kapasitas 50 hingga 100 Kilogram per hari. Kini, dalam sehari, tim Produksi Kang Ebit bisa menghasilkan rata-rata 750 Kilogram hingga 1 ton briket. Dalam sebulan total produksinya mencapai 15 Ton, dengan omzet sekitar Rp45 Juta sampai Rp60 Juta.
Olah Limbah dan Lapangan Kerja
Tidak hanya mengolah limbah, usaha briket ini juga membuka lapangan kerja bagi warga sekitar. Enam pemuda lokal bekerja di bagian produksi, sementara enam ibu-ibu berusia 45–60 tahun membantu di bagian pengemasan. Semuanya berasal dari RT 4 RW 3, Desa Kapu, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban.
“Dari awal saya memang ingin memberdayakan warga sekitar. Mereka yang sebelumnya tidak punya pekerjaan tetap, sekarang bisa punya penghasilan tambahan,” ujar Latif.
Briket hasil produksi Kang Ebit terbuat dari campuran arang batok kelapa dan kulit siwalan, dicampur perekat alami dari tepung tapioka. Prosesnya cukup rumit, terutama di bagian pemilihan bahan baku dan pengeringan. Untuk pasar lokal, briket dijemur secara manual selama tiga hari. Sedangkan untuk ekspor, digunakan oven khusus agar kualitas tetap terjaga.

Model briket yang diproduksi pun beragam, mulai dari bentuk kubus kecil hingga heksagonal. Pasar luar negeri cenderung memilih bentuk heksa 5×10 cm dan 5×20 cm untuk kebutuhan barbeque. Sementara pasar lokal lebih menyukai briket kubus 2,5 cm.
“Briket kami punya kalori 5.000–5.300 per gram. Bisa bertahan nyala sampai 2,5 jam. Cocok untuk pengganti LPG, penghangat kandang ayam, juga kebutuhan restoran dan hotel,” jelas Latif.
Harga jualnya cukup terjangkau. Di tingkat distributor, per kilogram dibanderol Rp4.750. Sedangkan untuk reseller hingga end user bisa mencapai Rp6.000–Rp8.000 per kilogram, tergantung wilayah.
Pasarnya pun terus meluas. Selain menyuplai ke berbagai kota besar di Jawa seperti Surabaya, Sidoarjo, Pandaan, dan Jakarta Pusat, briket Kang Ebit juga sudah menjangkau Timika, Bali, Madura, dan NTT. Bahkan, untuk ekspor, briket ini sudah masuk lewat sub perusahaan asal Jombang ke India dan tengah penjajakan proyek ke Timor Leste.
Meski usianya masih tergolong muda, Latif Wahyudi punya visi yang tidak main-main. Alumni SMKN 1 Tuban jurusan Kimia Industri ini melanjutkan kuliah di Universitas Internasional Semen Indonesia (UISI), jurusan Teknik Kimia.
Bapak satu anak ini tahu betul, bagaimana mengolah limbah menjadi sesuatu yang bernilai, bukan hanya secara ekonomi, tapi juga sosial dan lingkungan.
“Yang saya bayangkan sejak awal, bagaimana limbah lokal yang dulu dianggap sampah, bisa diolah jadi energi alternatif. Satu briket bisa menyala 2,5 jam, setara sumber energi rumah tangga. Itu artinya kita bantu masyarakat hemat energi dan sekaligus bantu bumi,” ujarnya.

Bagi Latif, program Kang Ebit bukan sekadar bisnis. Di balik setiap kilogram briket yang dikirim, terselip upaya untuk mengubah nasib warga desa. Ibu-ibu yang dulunya hanya di rumah, kini ikut packing dan dapat penghasilan rutin. Pemuda putus sekolah, kini ikut produksi dan jadi terampil.
“Bukan cuma soal jualan briket. Ini soal peluang, soal keberdayaan. Kita buka ruang bagi yang dulu dianggap tak punya keterampilan, ternyata bisa berkembang kalau diberi jalan,” kata dia.
Seiring waktu, briket siwalan buatan Tuban ini tak lagi dipandang sebelah mata. Dari hanya coba-coba di belakang rumah, kini bisa tembus India, dan tengah bersiap masuk ke pasar Timor Leste.
Sebuah perjalanan panjang yang dimulai dari kepedulian terhadap limbah. Sebuah langkah kecil dari desa, yang kini punya gema hingga ke luar negeri.
Kemajuan usaha briket siwalan ini tak lepas dari tangan dingin Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Tuban. Lewat dukungan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), Pertamina menggandeng Latif sebagai mitra binaan dalam inisiatif bertajuk Kampung Eco Brikat atau Kang Ebit.

Program ini lahir dari semangat untuk menyelesaikan dua persoalan sekaligus, yakni melimpahnya limbah B3 yang belum tertangani dan sempitnya akses ekonomi masyarakat di desa. Melalui pelibatan warga lokal, Kang Ebit menjadi jembatan antara pelestarian lingkungan dan penguatan ekonomi warga.
Ahad Rahedi, selaku Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus, menyebut program ini sebagai bukti nyata bahwa sektor energi tidak hanya bicara soal bisnis, tapi juga bisa memberi manfaat langsung bagi bumi dan manusia.
“Kang Ebit ini bukti bahwa dari limbah lokal seperti kulit siwalan dan batok kelapa, bisa lahir produk berkualitas ekspor. Harapannya bisa jadi inspirasi untuk daerah lain,” kata Ahad.
Tak hanya sukses secara bisnis, Kang Ebit juga mencetak prestasi membanggakan. Diantaranya penghargaan Ensia award 2024, TOP CSR Award 2025, 17th Annual Global CSR and ESG Summit and Award di Ho Chi Minh City, Vietnam 2025 dan juga INTERNATIONAL CSR EXCELLENCE AWARD, London 2025.
“Dengan semangat inovasi dan kepedulian terhadap lingkungan, Latif dan tim Kang Ebit membuktikan bahwa dari desa pun, bisa menggerakkan perubahan global. Dari limbah, lahir harapan,” tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Mochamad Abdurrochim
Editor: Darmadi Sasongko








