Materi Yang Menghilangkan Bahagia Dalam Kemiskinan: Review Film Orang Kaya Baru

Materi Yang Menghilangkan Bahagia Dalam Kemiskinan: Review Film Orang Kaya Baru

  • Bagikan
Poster film Orang Kaya Baru 2019/tugu jatim
Poster film Orang Kaya Baru 2019. (Foto: IMDB)

Tugujatim.id – Prilaku Orang Kaya Baru (OKB) menjadi satu fenomena sosial yang banyak disorot belakangan ini. OKB adalah orang miskin yang tiba-tiba menjadi kaya, biasanya seperti mengalami material shock dengan kekayaan yang dimiliki. Prilakunya kadang berlebihan dan tidak wajar.

Fenomena inilah yang ingin diceritakan oleh film Orang Kaya Baru secara komedi. Film tersebut telah rilis pada 19 Januari 2019 lalu, disutradarai oleh Ody C. Harahap. Film drama komedi OKB ini bercerita tentang sebuah keluarga yang awalnya miskin lalu mendadak kaya.

Keluarga tersebut beranggotakan Bapak (Lukman Sardi), Ibu (Cut Mini), Tika (Raline Shah), Duta (Derby Romero), dan Dodi (Fatih Unru). Kehidupan mereka lekat dengan kemiskinan. Ody C Harahap menampilkan potret keluarga miskin itu dengan rumah kecil dan sempit. Keributan sering terjadi di rumah, salah satunya karena antrian kamar mandi.

Selain kehidupan di rumah, kemiskinan keluarga itu juga ditunjukkan melalui aktivitas sehari-hari di luar rumah. Duta mengalami keterbatasan dana ketika akan membuat pementasan teater. Tika diejek teman-teman kampusnya karena berasal dari keluarga miskin. Sementara, Dody di-bully teman-teman sekolahnya karena sepatu sekolahnya jebol.

Namun demikian, meskipun dalam keadaan miskin, mereka memiliki keluarga yang harmonis dan bahagia. Saling peduli satu sama lain, hubungan mereka baik dan dekat, sering ngobrol bersama, dan rutin melakukan makan bersama di meja makan.

Suatu hari Bapak meninggal dunia. Tanpa diduga Ibu dan ketiga anakanya, si Bapak ternyata memberi warisan yang sangat banyak. Warisan tersebut diketahui ketika seorang pengacara datang ke rumah mereka sepeninggal sang Bapak.

Pengacara tersebut memberi tahu bahwa Bapak meninggalkan warisan kepada mereka. Besaran warisan yang diberikan tak pernah mereka duga. Bapak memberi warisan dengan tiga kali tahapan. Tahapan pertama memberi Rp. 500 juta, tahapan kedua Rp. 15 miliar, dan ketiga memberi Rp. 15 miliar lagi.

Seketika kehidupan keluarga itu berubah drastis. Berfoya-foya dengan uang warisan tersebut. Tidak menghargai uang dan apa pun yang ada. Sibuk dengan keinginan-keinginan mereka sendiri. Puncak konflik terjadi ketika Dodi kesepian karena keluarganya sibuk dengan capaian-capain tak perlu dan jarang kembali berkumpul semeja makan di rumah seperti dulu.

Sang Ibu sibuk membentuk diri dengan citra orang kaya yang dermawan, Tika menghabiskan hari-harinya bermain bersama teman-teman barunya yang kaya. Begitu juga Duta sibuk dengan pementasan teater dan jarang di rumah. Konflikpun menjadi runyam.

Drama dalam film ini syarat dengan cerita sentimentil sebuah keluarga. Nilai sebuah keluarga diangkat sebagai suatu hal yang penting, bahwa harta atau materi bukanlah segalanya dan bukan sebuah amunisi ampuh untuk mendapat kebahagiaan dalam keluarga.

Sebagai film drama komedi, cita rasa humor di dalamnya juga kuat. Beberapa scene humor berhasil mengocok perut penonton. Dialog dan adegan kocak nyaris selalu pas dan berada di saat yang tepat.

Di tengah keadaan yang rentan membuat orang stres seperti sekarang, film bergenre drama komedi ini sangat direkomendasikan. Meski sudah tidak tayang di bioskop, pembaca sekalian tidak perlu kahawatir. Sebab film ini sudah tersedia di Netflix dan bisa ditonton di rumah. Selamat menonton!

  • Bagikan