News  

Memaknai Kemerdekaan Indonesia Ala Baskoro Founder Komunitas Sosial CCF

Baskoro (tengah) saat membantu dua perempuan asal Malang yang kesehariannya menjadi pemulung.
Baskoro (tengah) saat membantu dua perempuan asal Malang yang kesehariannya menjadi pemulung. (Foto: Dokumen/Baskoro)

MALANG, Tugujatim.id – Founder Climate Change Frontier (CCF), Baskoro, menggaungkan semangat perubahan untuk memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) ke-77 jatuh pada Rabu (17/8/2022). Dia memiliki makna tersendiri tentang hari berejarah tersebut.

Baskoro mengatakan bahwa hari kemerdekaan dapat dimaknai sebagai kebebasan dari para penjajah. Hari di mana menandai keberhasilan dari perjuangan rakyat Indonesia melalui langkah yang tidak mudah.

Walaupun telah merdeka, bukan berarti perjuangan telah selesai. Menurutnya, perjuangan untuk terus berkarya, berbenah dan membawa Indonesia kepada masa depan yang lebih cerah tidak pernah usai.

“Apalagi kemarin diterpa pandemi COVID-19 dan sampai sekarang masih berusaha untuk keluar dari situasi tersebut. Makanya, siapapun harus bisa berkarya untuk kebaikan Indonesia kedepan. Mau belia, remaja, orangtua sekalipun. Sehingga berkarya tidak harus generasi muda, melainkan itu adalah hak semua orang,” ujarnya.

Baskoro saat memberikan presentasi kepada UMKM. (Foto: Dokumen/Baskoro)

Memaknai kemerdekaan, imbuh Baskoro, juga dapat diisi dengan berbagi kebaikan dan menebar kebahagian.

“Artinya, buat sesuatu yang sedikit berbeda. Bisa juga dibarengi dengan aksi sosial. Itu menjadi salah satu bagian selain kemeriahan lomba dan segala macam,” jelasnya.

Menurutnya, terjun ke dunia kemanusiaan adalah awal dari perjuangannya membawa perubahan melalui berbagai aksi kebaikan. Dari selamatkam hutan hingga pengurangan sampah plastik menjadi langkah awalnya untuk selamatkan bumi.

Begitu diterpa pandemi pada 2020, CCF sempat tak bisa bergerak untuk melanjutkan aksinya. Hingga diputuskan, komunitas ini beralih membantu masyarakat dan dunia kesehatan. Diantaranya, dengan membagikan masker, handsanitizer, hingga mensosialisasikan pola hidup sehat.

“Saat itu (pandemi) kalau mau ngomongin lingkungan, kita sudah tidak bisa bergerak. Pada akhirnya, kita turun ke jalan membantu masyarakat. Nah pada saat turun itu banyak hal yang sebelumnya kita ngga tahu, jadi tahu. Jika masyarakat disuruh memilih sumber penghasilan atau bantuan, mereka lebih memilih sumber penghasilan. Meski kita tidak bisa membantu semuanya, namun kita coba mulai secara perlahan,” beber Baskoro.

Salah satu program CCF, warung makan gratis yang dilaksanakan dua kali seminggu di Bondowoso. Bertempat di sebuah usaha yang dibentuk sekitar satu tahun lalu. (Foto: Dokumen/CCF)

Dua bulan belakangan, Baskoro dibantu andan Frenanda [baru berusia 17 Tahun] membentuk sebuah Sociopreneur yakni Local Preneur Indonesia. Sociopreneur ini fokus dalam membantu UMKM, promo produk lokal, sampai pada berusaha membantu mereka yang membutuhkan dengan membuatkan sebuah usaha. Misal, berjualan kopi keliling..

Siapa sangka, niat baiknya secara perlahan membuahkan hasil. Sejauh ini ada beberapa orang yang sudah dibantu, termasuk di Kota Malang. Mayoritas dari mereka yang kesehariannya menjadi pengemis atau pemulung.

“Sekarang mereka sudah mulai jualan kopi. Malah ada dua orang yang kita bantu itu, mereka ngga keliling tapi buat lapak di pinggir jalan. Awalnya mereka jualan kopi, sekarang sudah jualan mie instan, gorengan, jadi besar. Awalnya mereka pemulung dan pengemis, sekarang sudah punya usaha sendiri,” lanjutnya.

Komitmen Baskoro dalam menjalankan CCF dan Local Preneur Indonesia, yakni apapun yang dilakukan jangan hanya dilakukan sekarang dan hilang sekarang. Melainkan harus berkelanjutan. “Itu menjadi komitmen CCF dan Local Preneur Indonesia. Seperti, Kita juga memberikan pendampingan untuk usaha mereka agar bisa terus berjalan,” sambungnya.

Dulu pemulung kini, perempuan ini memiliki usaha sendiri. (Foto: Dokumen/CCF)

Lebih jauh, dalam bertindak dan berkarya, Baskoro juga kerap kali meneladani sikap dan perilaku beberapa pahlawan nasional. Diantaranya, Ir Soekarno atau Bung Karno dan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

“Bung Karno, buat saya adalah sosok yang hebat terlepas dari hal-hal lainnya. Karena mampu menyatukan keanekaragaman suku bangsa, bahasa, budaya, menjadi satu dibawah Bhinneka Tunggal Ika. Dari Gus Dur, saya belajar pluralisme atau toleransi antar umat yang saat ini sedang tergerus,” terang dia.

Sebab itu, kedepan Baskoro berharap agar masyarakat mampu merubah mindsed untuk terus membuat perubahan, perubahan apapun yang dilakukan dengan niat dan tujuan baik. Sekali cinta, tetap cinta ; sekali bangga tetap bangga yang dibuktikan dengan berkarya untuk Indonesia.

“Jadi kita jangan pernah berharap hasil yang berbeda, jika kita tetap melakukan hal yang sama. Tapi harus dirubah andaikata kita ingin mendapat hasil yang berbeda,” tukasnya.

 

 


Terima kasih sudah membaca artikel kami. Ikuti media sosial kami yakni Instagram @tugujatim , Facebook Tugu Jatim
Youtube Tugu Jatim ID , dan Twitter @tugujatim