• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
PBNU

Wulandari, Penulis Menakar Kualifikasi Ideal Rois Aam PBNU.

Menakar Kualifikasi Ideal Rois Aam PBNU

Darmadi Sasongko by Darmadi Sasongko
3 months ago
in Catatan, Opini
0
Share on FacebookShare on Twitter

Tugujatim.id – Artikel Menakar Kualifikasi Ideal Rois Aam PBNU ditulis oleh Wulandari, seorang Pegiat Sosial di Roemah Bhinneka, Surabaya.

Rois Aam merupakan salah satu posisi tertinggi dan paling strategis dalam struktur kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Perannya tidak mengenal seremonial. Peran yang tidak sekadar administratif atau simbolik, melainkan menjadi pusat rujukan keilmuan, penjaga kemurnian manhaj, serta kompas moral bagi jutaan warga nahdliyin di seluruh Indonesia bahkan dunia.

You might also like

Surya.

Membaca Eksistensi Estetis dan Spiritual dalam 50 Tahun Perjalanan Kasih Surya dan Sjenny (1976–2026)

20/07/2026 4:35 PM
Muktamar

Siapakah Kuda Hitam Muktamar NU ke-35 di Jombang?

14/07/2026 2:15 PM

Oleh karena itu, sosok yang menduduki posisi ini harus memiliki kualitas yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual, sosial, dan organisatoris.

Dalam konteks ini, terdapat beberapa kualifikasi utama yang harus dimiliki oleh seorang Rois Aam PBNU agar mampu menjalankan amanah dengan baik.

Pertama, kedalaman epistemologi keislaman. Seorang Rois Aam dituntut untuk menjadi sosok yang ‘aliman wa faqihan, yaitu memiliki penguasaan yang luas dan mendalam terhadap ilmu-ilmu keislaman, termasuk fikih, ushul fikih, tafsir, hadis, serta khazanah turats (kitab-kitab klasik). Tidak hanya memahami secara tekstual, ia juga harus mampu mengontekstualisasikan ajaran Islam sesuai dengan dinamika zaman tanpa kehilangan akar tradisinya. Kedalaman ilmu ini menjadi fondasi utama dalam memberikan keputusan-keputusan keagamaan yang bijak dan dapat dipertanggungjawabkan.

Kedua, integritas moral yang tinggi. Dalam realitas kehidupan modern yang sarat dengan godaan materialisme dan kepentingan pragmatis, seorang Rois Aam harus mampu menjaga sikap zuhud—tidak terikat pada ambisi duniawi. Integritas ini tercermin dalam kejujuran, keteguhan prinsip, serta keberanian untuk bersikap adil meskipun menghadapi tekanan dari berbagai pihak. Dengan integritas moral yang kuat, Rois Aam dapat menjadi teladan bagi umat serta menjaga marwah organisasi dari kepentingan sempit.

Ketiga, peran sebagai episentrum kultural dan struktural. Rois Aam bukan hanya ulama dalam arti keilmuan, tetapi juga pemimpin yang memahami denyut nadi organisasi. Ia harus memiliki pengalaman panjang dalam tradisi ke-NU-an, baik secara kultural maupun struktural. Pemahaman terhadap kultur pesantren, tradisi keagamaan lokal, serta dinamika internal organisasi menjadi sangat penting. Di sisi lain, kemampuan manajerial dan kepemimpinan juga dibutuhkan agar dapat mengarahkan jalannya organisasi secara efektif dan harmonis.

Keempat, visi strategis yang luas. Rois Aam harus mampu membaca situasi, baik di tingkat internal maupun eksternal organisasi. Tantangan yang dihadapi Nahdlatul Ulama tidak hanya berasal dari dalam, seperti perbedaan pandangan atau dinamika kaderisasi, tetapi juga dari luar, seperti perubahan sosial, politik, ekonomi, dan perkembangan global. Oleh karena itu, diperlukan visi yang jauh ke depan agar organisasi tetap relevan, adaptif, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi bangsa dan umat.

Jika dianalogikan, Nahdlatul Ulama adalah sebuah perahu besar yang mengarungi lautan luas dengan berbagai tantangan. Dalam perjalanan tersebut, Rois Aam bersama Ketua Umum PBNU berperan sebagai nahkoda yang menentukan arah dan tujuan. Keduanya harus memiliki prinsip yang kokoh, semangat nasionalisme yang tinggi, serta komitmen yang kuat terhadap jam’iyyah. Selain itu, kemampuan keilmuan—khususnya dalam hal keagamaan—menjadi syarat mutlak agar setiap keputusan yang diambil tetap berada dalam koridor nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jama’ah.

Lebih dari itu, seorang Rois Aam juga harus memiliki keberanian untuk menyuarakan kebenaran. Ia tidak boleh terjebak dalam kepentingan pribadi atau kelompok tertentu, melainkan harus berpihak pada kemaslahatan umat secara luas. Suaranya harus lantang ketika membela kepentingan rakyat, menjaga keadilan, dan menegakkan nilai-nilai moral di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara.

Namun, ada satu prinsip penting yang perlu digarisbawahi dalam proses pemilihan Rois Aam. Jabatan ini bukanlah posisi yang seharusnya dikejar atau diperebutkan. Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, Rois Aam dipilih melalui mekanisme yang menjunjung tinggi nilai-nilai keikhlasan, musyawarah, dan penghormatan terhadap kapasitas keilmuan. Mengajukan diri atau mencalonkan diri secara aktif untuk posisi ini dipandang kurang etis, karena berpotensi menimbulkan kesan ambisi pribadi.

Sebaliknya, seorang Rois Aam idealnya adalah sosok yang “dipanggil” oleh umat—dipilih karena kapasitas, integritas, dan pengakuan kolektif atas keilmuannya. Ketika proses ini tidak berjalan sebagaimana mestinya, misalnya karena minimnya figur yang bersedia atau karena pertimbangan pragmatis, maka ada risiko munculnya kepemimpinan yang didominasi oleh ego pribadi. Hal ini tentu dapat berdampak pada arah organisasi yang tidak lagi sepenuhnya berpijak pada nilai-nilai luhur yang selama ini dijaga.

Dengan demikian, posisi Rois Aam PBNU bukan hanya tentang jabatan, melainkan amanah besar yang menuntut tanggung jawab moral, intelektual, dan spiritual yang tinggi. Sosok yang mengembannya harus benar-benar memenuhi kualifikasi yang komprehensif, sehingga mampu menjaga keberlangsungan dan kehormatan Nahdlatul Ulama sebagai salah satu pilar penting dalam kehidupan keagamaan dan kebangsaan di Indonesia.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id

 

Editor: Darmadi Sasongko

Tags: Konflik PBNUMunaslub PBNUPBNU
Darmadi Sasongko

Darmadi Sasongko

Related Stories

Surya.

Membaca Eksistensi Estetis dan Spiritual dalam 50 Tahun Perjalanan Kasih Surya dan Sjenny (1976–2026)

by Dwi Linda
20/07/2026 4:35 PM
0

Oleh: Narudin Pituin Tugujatim.id - Saya menguji dan meneliti buku berjudul 50 Tahun Perjalanan Kasih Surya dan Sjenny (1976–2026) melalui...

Muktamar

Siapakah Kuda Hitam Muktamar NU ke-35 di Jombang?

by Mochamad Abdurrochim
14/07/2026 2:15 PM
0

Oleh: Abdur Rahim** Tugujatim.id - Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, semakin dekat. Momentum krusial ini...

Muktamar.

Mengapa Tambakberas Menjadi Pilihan untuk Muktamar Ke-35 NU?

by Dwi Linda
08/07/2026 8:34 AM
0

Oleh: Abdur Rahim* Tugujatim.id - Setelah melalui proses seleksi panjang yang melibatkan sembilan pondok pesantren di lima provinsi, Pengurus Besar...

Muktamar

Muktamar dan Belajar dari Verifikasi Ahli Hadis

by Mochamad Abdurrochim
05/07/2026 10:21 AM
0

Oleh: Achmad Diny Hidayatullah Dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang/Wakil Sekretaris PCNU kota Malang Ada satu kalimat yang sejak lama...

Next Post
ASN Jombang

Selain Guru dan Tenaga Kesehatan, Ini Daftar ASN Jombang Dapat Pengecualian Kebijakan WFH

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID