Mengenal Ahmad Salim, Pengusaha Muda Bidang Properti yang Memulai Karir dari Nol - Tugujatim.id

Mengenal Ahmad Salim, Pengusaha Muda Bidang Properti yang Memulai Karir dari Nol

  • Bagikan
Ahmad Salim Assegaf (kiri) dan jajaran manajemen Tugu Media Group sedang berbincang dan mendengarkan kisah Salim menjalankan bisnis properti, Sabtu (06/03/2021). (Foto: Irham Thoriq/Tugu Jatim)
Ahmad Salim Assegaf  (kiri) dan jajaran manajemen Tugu Media Group sedang berbincang dan mendengarkan kisah Salim menjalankan bisnis properti, Sabtu (06/03/2021). (Foto: Irham Thoriq/Tugu Jatim)

SURABAYA, Tugujatim.id – Ada sosok luar biasa, namanya Ahmad Salim Assegaf. Akrab dipanggil Ahmad. Pemuda berusia 32 tahun yang sukses menjalankan bisnis properti dari PT. Cipta Griya Insani juga mendapat amanah sebagai Bendahara Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIMPI) Jawa Timur. Pribadinya rendah hati, peduli pada masyarakat menengah ke bawah dan memulai kesuksesan bisnis properti dari nol.

Tugu Jatim menemuinya di Sidoarjo. Dengan itikad baik menjalin silaturahmi, sekaligus belajar dari Ahmad, sosok pengusaha muda yang sukses. Semua orang memulai bisnis dengan belajar, Ahmad pun begitu. Memulai usaha di tahun 2012, saat mulai merintis memang tidak gampang.

“Bisnis properti saat pertama kali belajar itu, bisnis ini (properti, red) menguntungkan tapi ya tidak gampang, susah sekali. Pada saat saya belajar awal, di tahun 2012 bisnis properti ini saya harus memilih, saya membangun perumahan jenis apa?,” terang Ahmad pada Tugu Jatim, Sabtu (06/03/2021), pukul 11.00 WIB.

Tatkala memulai bisnis properti, jelas Ahmad Salim Assegaf, pertanyaan pertama dan utama yang muncuk ialah; jenis dan tipe rumah bagaimana yang akan kita pasarkan? Lalu, Ahmad menjawab, perlu mengamati dulu catatan ‘backlog’ yang ada di Indonesia.

“Apakah saya harus bangun rumah yang sederhana, atau yang saya bangun rumah menengah, atau yang saya bangun rumah mewah? Akhirnya saya belajar, saya belajar, ternyata kebutuhan perumahan di Indonesia ini cukup besar. Luar biasa besarnya,” jelasnya.

Berangkat dari analisis ‘backlog’, semacam catatan perhitungan selisih jumlah permintaan dan penyediaan properti perumahan. Ternyata, Ahmad menjelaskan, adanya ketimpangan dari catatan ‘backlog’. Banyak permintaan, tapi penyediaan rendah.

“‘Backlog’ kebutuhan perumahan kita di Indonesia itu belasan juta, artinya ‘suplay’ (permintaan, red) dan ‘demand’ (penyediaan, red) tidak ‘balance’. ‘Demand’ lebih besar daripada ‘suplay’-nya. Akan tetapi, dengan adanya ‘backlog’ belasan juta itu perlu ada peran pemerintah,” imbuhnya.

Setelah selesai meneliti histori ‘backlog’, lanjut Ahmad, ia menemukan pemasaran jenis dan tipe perumahan yang cocok. Yaitu, ‘rumah sederhana’. Lantaran dapat mudah dijangkau dan dibeli oleh masyarakat dengan penghasilan rendah. Sesuai visinya.

“Bagaimana dapat menyediakan, perumahan yang ideal untuk masyarakat? Akhirnya, saya memutuskan membangun rumah sederhana, lalu temen-temen saya bilang ‘lu yakin buat rumah sederhana?’,” tuturnya menceritakan.

Kendati, rumah sedehana hanya dipatok harga Rp 150.000.000 saja, kemungkinan Ahmad memeroleh peruntungan tidak jauh besar. Apalagi saat ini ada di masa pandemi Covid-19, harga rumah yang seharusnya baik, lanjut Ahmad, justru konsisten di angka itu. Tidak mengalami penigkatan.

“Mohon maaf nih, rumah sederhana itu untungnya ya kalau dijual per hari ini, harga rumah kan diatur sama pemerintah tidak boleh lebih dari Rp 150.500.000. Sebetulnya itu harga tahun 2020, karena pandemi dan pemerintah melihat tidak ada inflasi, harganya udah naik lagi (sebetulnya, red),” imbuhnya.

Dari pemasaran properti rumah sederhana itu, yang ditawarkan Ahmad Salim Assegaf ialah tidak adanya PPN, bebas pajak, namun perlu memenuhi syarat yang diberikan oleh pemerintah. Tapi, semua syarat yang ditawarkan masih aman dan relatif mudah, tidak memberatkan.

“Tapi, tidak dinaikkan harganya, karena pandemi dan sebagainya. Harga itu diatur oleh pemerintah, karena rumah itu ada beberapa insentif dari pemerintah. Pertama, bebas PPN (Pajak Pertambahan Nilai, red), jadi kalau rumah harga Rp 150.500.000, sesuai dengan yang diatur oleh pemerintah itu bebas PPN,” lanjutnya.

Ahmad bertanya pada Tugu Jatim. Bagaimana bisa bebas PPN? Syarat yang disampaikan Ahmad, seperti luas bangunan, luas tanah, semua dijelaskan lengkap. Kalau sudah memenuhi, lanjut Ahmad, pemerintah akan memberikan persetujuan bebas PPN.

“Bagaimana bisa bebas PPN? Syaratnya, rumah pertama untuk pembeli, luasnya bangunan maksimal 30 meter persegi, luas tanah minimal 60 meter persegi. Ada kriterinya, kalau kriteria masuk, pemerintah akan fix dan bebaskan PPN,” bebernya.

Namun, kembali lagi, harga rumah harus kisaran Rp 150.000.000, jelas Ahmad, bila memberi harga di atas itu otomatis bakal terkena pajak dari pemerintah. Sehingga, perlu melakukan penyesuaian harga juga sesuai yang disyaratkan pemerintah.

“Jadi, kalau PPN yang ‘free’ sekarang, yang insentif pemerintah dengan harga sampai Rp 2 miliar, itu rumah sederhana sudah dapat bebas PPN. Tapi, kalau jual (rumah tipe sederhana, red) di atas Rp 150.500.000, itu akan dikenakan PPN,” ucapnya.

Untuk rumah seharga Rp 2 miliar dengan insentif fari pemerintah, hanya dibebaskan PPN sampai masa waktu Agustus 2021. Selebihnya bakal diatur lagi oleh pemerintah terkait regulasinya.

“Kemudian kita dapat insentif pajak sampai harga Rp 2 miliar itu dibebaskan PPN sampai bulan Agustus 2021, itu insentif dari pemerintah terkait pajak,” jelas Ahmad.

Niat Baik Menyediakan Rumah Bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah

Direktur Utama PT. Cipta Griya Insani sekaligus Bendahara HIPMI Jawa Timur, Ahmad Salim Assegaf. (Foto: Dokumen/Tugu Jatim)
Direktur Utama PT. Cipta Griya Insani sekaligus Bendahara HIPMI Jawa Timur, Ahmad Salim Assegaf. (Foto: Dokumen/Tugu Jatim)

Satu hal yang luar biasa dari Ahmad ialah mempunyai itikad baik untuk menyediakan rumah sederhana, dengan harga terjangkau, untuk masyarakat menengah ke bawah dengan penghasilan rendah. Selain niat menjalankan bisnis properti.

“Selain kita bisnis, kita juga bagaimana menyediakan rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Bagaimana kita berperan terhadap negara dan pemerintah, ini adalah perumahan yang ideal,” terangnya.

Sosok luar biasa ini, mempunyai visi untuk menyediakan rumah dengan harga murah, tapi tidak murahan. Kualitas rumah yang dipasarkan amat bagus, salah satunya yang ada di Pasuruan dengan luas tanah perumahan 3 hektare.

“Saya punya visi, rumah itu harganya murah tapi ojo murahan. Saya bangun proyek pertama di Pasuruan, kurang lebih sekitar 3 hektar. Terus terang, kami masih belajar waktu itu kan ya. Tentu banyak kekurangan,” bebernya.

Sebagian besar pembeli merasa puas dengan rumah yang dipasarkan Ahmad Salim Assegaf, lokasinya nyaman dan strategis. Termasuk perumahan yang ada di Lamongan, dengan luas 20 hektar dan ada 1.160 rumah sudah dibangun dan ditempati.

“Tapi, alhamdulillah sebagian besar user kita ‘happy’, selanjutnya pembangunan saya ada di Lamongan, kalau di Lamongan itu kita punya perumahan sekitar 20 hektar. Sekitar 1.160 rumah,” jelasnya.

Dari perumahan yang ada di wilayah Lamongan, sudah ada 840-an rumah yang dibangun dan 500-an rumah yang mempunyai pemilik, sudah ditempati. Nama perumahan itu ‘Insani Regency Lamongan’.

“Jadi, terus terang, yang dibangun masih 840-an rumah. Yang sudah ditempati sekitar 500-an rumah. Produk terakhir kami namanya ‘Insani Regency Lamongan’ ada di Lamongan juga yang jenengan cek barusan,” terangnya.

Selain itu, kelebihan lainnya. Sebagian besar lokasi perumahan yang disediakan Ahmad, mempunyai posisi strategis di dekat kota. Ahmad mengatakan jarak dari perumahan miliknya yang ada di Lamongan, hanya 3 km menuju alun-alun.

“Itu perumahan posisinya ada di kota, bayangin orang beli rumah harga Rp 150.000.000 tapi dari alun-alun cuma 3 km. Cuma kalau beli rumah sama kita dan ingin bebas PPN ada kriterinya, yang diatur pemerintah,” ucapnya.

Apalagi, Ahmad pernah memperoleh penghargaan terbaik atas perumahan yang sudah ia bangun itu. Dari segi fasilitas, harga, kualitas dan lokasi sudah tidak diragukan lagi, kendati harganya berkisar Rp 150.000.000. Bukan kaleng-kaleng.

“Itu perumahan dapat penghargaan terbaik se-Jawa Timur. Dari fasilitas, dari kualitas perumahannya, dari lokasinya, dan sebagainya. Aku itu tidak mau bikin rumah kaleng-kaleng, kenapa? Karena masyarakat pun ingin dapat rumah yang terbaik,” imbuhnya.

Dengan meniatkan ibadah sambil menjalankan bisnis, terang Ahmad, semua bakal berjalan dengan baik dan penuh keberkahan. Mayoritas bisnis yang dijalankan Ahmad sebanyak 90 persen adalah rumah sederhana, untuk porsi 10 persen ia pakai sebagai bisnis properti rumah mewah.

“Jangan harga minta Rp 150.000.000 tapi rewel. Bisnis itu kalau dibarengkan dengan niat dan amal ibadah, itu inshaa allah bisa berkah. Apakah saya bangun rumah mewah? Saya bangun mas, tapi mayoritas bisnis saya 90 persen bangun rumah subsidi,” jelasnya.

Sudah Lebih dari 4.000 Rumah yang Terjual untuk Masyarakat

Selama Ahmad Salim Assegaf menjalankan bisnis properti, sudah ada setidaknya 3.000-4.000 lebih rumah yang terjual. Ada di 4 lokasi. Ahmad ingin terus membuat inovasi dan bekerja keras agar bermanfaat lebih banyak untuk masyarakat.

“Sudah lebih, sudah saya bangun dan serahterima kurang lebih sekitar 3000 rumah. Sebetulnya 4 lokasi saya itu, yang terbaru, sebelumnya sudah kami serahterima,” ungkapnya.

“Kalau perumahan hasil kerja kita, itu relatif ada sekitar 4.000-an. Harapan kita, kita akan terus berinovasi, akan terus bekerja keras, bagaimana kita bisa bekerjasama dengan pemerintah untuk bermanfaat pada masyarakat,” imbuhnya.

Ahmad ingin menjalankan bisnis sembari beramal ibadah dengan itikad membantu elemen sosial menengah ke bawah dapat mempunyai hunian yang layak dan ideal. Apalagi, setiap rumah pertama yang berhasil dimiliki, meninggalkan kesan bahagia dan kepuasan untuk masyarakat.

“Visinya itu bagaimana kita bisa memberikan yang terbaik untuk masyarakat, bukan hanya sisi bisnis, tapi sisi amal ibadah juga. Jangan sampai pengusaha itu nanti menilai, ‘oh kamu cuma bayar duit berapa juta aja rewel setengah mati’,” tambahnya.

Seberapa pun jumlah uang itu, tetap berharga bagi mereka. Ahmad menegaskan, kendati itu hanya Rp 2 juta, tetap mempunyai nilai bagi mereka, masyarakat dengan penghasilan rendah. Ahmad berupaya memberi yang terbaik untuk mereka.

“Karena buat mereka pun, uang Rp 2 juta itu besar. Ada nilainya. Rumah pertama itu berkesan buat mereka, kita selalu berupaya memberikan yang terbaik untuk mereka,” cetusnya.

Untuk tantangan menjalankan bisnis properti, amat kuat dan perlu digarap dengan baik. Semua bisnis, kata Ahmad, punya tantangan masing-masing.

“Tantangan cukup kuat, semua bisnis pasti ada tantangan ya. Cuma kalau dari kompetitor atau pemerintah dan sebagainya tidak ada tantangan seperti itu,” bebernya.

Salah satu tantangan itu, lanjut Ahmad, bagaimana ia bisa memuaskan customer dan membuat mereka senang dengan rumah yang dipasarkan. Kendati demikian, memang manusia tidak bisa memuaskan semua orang. Setidaknya, sudah berupaya yang terbaik.

“Tantangannya itu bagaimana kita bisa memuaskan seluruh ‘customer’ kita, karena bagaimana pun upaya kita itu ya pasti ada satu dua yang merasa tidak puas dan sebagainya,” timpalnya.

Catatan Backlog Masih Timpang, Antara Suply dan Demand Properti Rumah untuk Masyarakat

Permintaan dan penyediaan dalam catatan bisnis properti juga masih terbilang timpang, kata Ahmad, ‘backlog’ masih ‘njomplang’ dan tidak ideal. Sebagai pengusaha, Ahmad meminta pada pemerintah untuk dapat akif membantu penyediaan lahan, agar masyarakat juga terbantu memiliki rumah hunian yang murah dan berkualitas.

“Tapi kita ya harus tetap melayani mereka, memberi yang terbaik untuk mereka. ‘Backlog’ itu angkanya masih muncul, masih jauh sama ‘suplay’-nya. Harapan kita sebagai pengusaha, segera diberikan properti khususnya rumah subsidi, itu kami meminta pemerintah bagaimana aktif menyediakan lahan,” jelasnya.

Perlu adanya kerjasama dari pemerintah provinsi dan daerah untuk mewujudkan hal itu, jelas Ahmad, sebagai upaya menyempurnakan tata ruang wilayah juga.

“Setidaknya, bagaimana pemerintah provinsi dan daerah, berkolaborasi dan bekerjasama untuk menyempurnakan tata ruang, karena sekarang kalau kita membangun rumah subsidi ada kalanya waktu kontrol gimana rumah subsidi itu bisa dijual,” bebernya.

Ahmad berharap, ‘backlog’ perlahan bisa diatasi.

“Oleh karenanya, jika memang ‘backlog’ ini diharapkan semakin turun, mungkin 10 tahun lagi, backlock menjadi zero, artinya seluruh warga negara mendapat perumahan, ya harus ada upaya aktif dari pemerintah pusat atau daerah,” tambahnya.

Ahmad menyebut poin-poin yang berat dalam menjalankan bisnis properti ialah penyediaan lahan, jalanan, perizinan, dan lain-lain. Bila hal itu bisa diatasi, jelas Ahmad , bakal bisa melancarkan pengadaan rumah dengan baik.

“Bagaimana untuk bisa mengakomodir atau turun langsung, menemui pengusaha, untuk bisa menyediakan perumahan untuk masyarakat. Yang paling berat, menyediakan lahan, jalanan, dan mungkin kami menyambut positif UU Cipta Kerja ini yang telah disahkan pemerintah dan DPR,” ucapnya.

Tantangan Bisnis Properti Ada di Penyediaan Lahan dan Perizinan

Direktur Utama PT. Cipta Griya Insani sekaligus Bendahara HIPMI Jawa Timur, Ahmad Salim Assegaf saat mengunjungi kawasan perumahan yang ia kembangkan. (Foto: Dokumen/Tugu Jatim)
Direktur Utama PT. Cipta Griya Insani sekaligus Bendahara HIPMI Jawa Timur, Ahmad Salim Assegaf (kaos merah) saat mengunjungi kawasan perumahan yang ia kembangkan. (Foto: Dokumen/Tugu Jatim)

Ahmad memiliki sekian lokasi investasi lagi, tapi dalam perizinan masih terasa menyesakkan. Salah satu tantangan dalam bisnis properti yang ia jalani.

“Yang dalam waktu dekat ini akan ada rancangan untuk kebutuhan investasi, saya terus terang ada di beberapa daerah yang perizinannya masih sulit. Tantangannya itu penyediaan lahan dan perizinan,” tegasnya.

Tapi, semakin lama memang sebagian sudut penyediaan dalam bisnis properti makin baik. Bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

“Cuma kami harus mengakui, semakin ke sini, semakin baik. Ada beberapa yang masih ribet, tapi tantangan awal penyediaan lahan dan perizinan,” cetusnya.

Ia tidak mempersoalkan mengenai tipu-tipu harga yang dilakukan penyedia lahan, tapi lebih menganggap hal itu merupakan strategi perhitungan harga agar memeroleh keuntungan satu sama lain.

“Mungkin lebih tepatnya bukan tertipu, tapi strategi pemilik tanah dan penyedia dari kuasa pemilik tanah. Tapi begini, kami sih yang penting menghitung lahan ini representatif menghitung lahan yang bisa dibangun rumah sederhana,” jelasnya.

Bila secara lokasi dan bisnis sudah cocok dengan rencananya, lahan itu pasti dikejakan sebagai lokasi perumahan untuk membantu maysyarakat. Tidak sampai berpikir soal tertipu mengenai harga, sejauh ini ia belum pernah mengalami hal itu.

“Baik itu secara lokasi, secara harga, dan bisnisnya masuk kita akan kerjakan. Cuma kalau bahasa ‘tertipu’ mungkin, alhamdulillah sih kami tidak pernah mengalami,” terangnya.

Memulai Usaha dengan Niat Baik untuk Ibadah

Dalam menjalankan usaha, ia selalu memberi pesan bahwa harus disertai niat baik. Selain mencari peruntungan, niat baik, niat ibadah dan itikad membantu orang lain juga perlu ditanam.

“Karena kita sebagai pengusaha harus niat baik dulu lah. Niat pertama untung, setuju saya, karena kalau pebisnis tidak untung ya buat apa bisnis. Tapi, niat utamanya adalah bagaimana kita beribadah,” paparnya.

Melanjutkan soal pengalaman, tatkala memulai bisnis berbagai macam. Ia mengaku sempat tertipu, ia sudah merasakan pahit-manis hidup di dunia bisnis.

“Saya kalau tertipu, bisnis pertama itu macem-macem. Itu tertipunya, asam garam saya sudah rasakan semua. Saya kerja mulai dari nol, dari mulai tidak punya apa-apa, tidak bisa apa-apa, saya bersyukur,” jelasnya.

Ia mengaku bahwa dirinya bukan termasuk miliarder, bukan orang ‘high level’, semua dijalankan dengan niat baik tersebut, seeta mendapat kepuasan sudah bisa menyediakan dan memudahkan untuk mendapat rumah bagi orang-orang.

“Saya bukan miliader, saya bukan orang yang ‘top level’, saya mensyukuri apa yang saya dapetin, selain saya menjalankan bisnis, tapi saya punya kepuasan tersendiri bagaimana saya bisa menyediakan rumah buat masyarakat,” bebernya.

Ia mengungkapkan jika dirinya memulai usaha dari nol.

“Saya memang generasi kedua, tapi memang perusahaan ini lebih tepatnya 100 persen diserahkan sama kita. Jadi asal tempat perusahaan ini dibangun ‘from zero’, karena kalau dikatakan ‘from minus’ juga bisa jadi. Karena bisnis ini memang dari minus,” imbuhnya.

Selain itu, ia menegaskan niatnya untuk ibadah pada Allah Swt dan tatkala menjalankan bisnis perlu sabar, telaten dan konsisten. Poin itulah yang dipegangnya sampai saat ini sukses menjadi pengusaha properti.

“Jadi kami filosofikan sendiri bahwa bisnis ini ‘from zero’. Tadinya cuma bangun rumah, pelan-pelan naik. Bisnis itu yang penting niat utama untuk Allah Swt. Kedua, bisnis itu harus konsisten, telaten dan sabar,” tambahnya.

Tertipu, pernah. Itu sebagai pengalaman masa lalunya.

“Proses tertipu di bisnis, itu ya sering. Marketing, lebih ke internal. Macem-macem lah, tapi tergantung, tapi alhamdulillah dapatnya sampai sekarang ini. Saya sebagai CEO,” tuturnya.

Tidak Kuliah, Sudah Kerja hingga Menjalankan Bisnis Sejak Usia 13 Tahun

Mengenai cerita hidup, Ahmad mulai bekerja sejak 13 tahun. Di saat anak-anak lain masih fokus sekolah di tingkat menengah (SMP), Ia sudah berpikiran maju sekian tahun, dengan memulai usaha sendiri.

“Saya tidak kuliah, karena pada saat sekolah saya bisnis. Dulu posisinya ‘belum ada’, karena kebutuhan ya. Mulai kerja mulai 13 tahun jual ‘starter pack’. Di harga pasar waktu itu mahal-mahalnya banget, awal-awal, 200 ribu, 300 ribu, saya jual 550 ribu dapat untung 100 ribu,” ujarnya.

Tidak kaget, pengalamn ia ditempa oleh kehidupan amat matang. Hingga menghasilkan sosoknya sekarang yang dapat menjalankan bisnis properti besar di PT. Cipta Griya Insani, 4.000 lebih rumah sudah dihuni.

“Saya lahir dari keluarga yang cukup, tapi saya tidak pernah meminta ke orang tua saya. Karena tidak diajarkan kita meminta, bagaimana kita bisa mandiri. Setelah usia SMA, sebenarnya mau kuliah tapi ibu saya tidak menyetujui jadi harus ikut kata ibu,” jelasnya.

Ahmad sudah diajarkan hidup mandiri sejak kecil oleh ibunya. ia juga tidak kuliah, tidak mendapat restu dari ibunya. Tapi justru kepatuhan itu, membuatnya jadi sosok hebat di masa sekarang.

“Alasannya mungkin jauh, waktu itu memang fasilitas kendaraan tidak sebagus sekarang. Sebenarnya saya daftar kuliah di Perbanas, tapi biaya cukup tinggi dan saya gak mau membebani orang tua saya,” bebernya.

Ia berjuang dan menjalankan beragam pekerjaan.

“Saya jalankan bisnis kecil pertama event organizer, PJTKI (Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia, red), saya cari orang yang mau kerja di luar negeri, punya paman yang kerja di PJTKI saya ikut, jualan Aice juga. Saya satu bulan penghasilan 200-300 ribu pernah,” cetusnya.

Sukses Menjalankan Bisnis Properti Berkat Sosok Ibu

Ibu adalah sosok penting yang ada di belakang Ahmad. Selalu mendoakan dan memberikan keputusan-keputusan yang terbaik untuknya.

“Tapi ya prinsipnya, kita bisnis niat baik, jujur, amanah, kalau dipercaya sama orang. Hidup nurut sama ibu saya, saya memutuskan A dan ibu saya memutuskan Z, saya akan mengambil Z. Kesuksesan saya ini, dititipkan rezeki, saya masih belajar. Itu karena ibu saya,” jelasnya.

Ia bilang, bahwa keberhasilannya ditopan oleh 0,1 persen kepintaran dan 99,9 persen berkat restu dari ibu dan Allah Swt. Menaati orang tua, jelasnya, bisa membawanya menuju kehidupan yang membahagiakan.

“Dari 0,1 persen karena kepintaran, 99,9 persen karena Allah Swt yang mau saya begini, gak ada kepintaran saya mas. Saya minta sama Allah Swt selama ibu saya selalu saya taati, inshaa allah selamat dunia akhirat,” terangnya.

Ia masih menjaga komunikasi yang baik dengan ibunya sampai saat ini.

“Tiap hari komunikasi sama ibuk. Itu prinsip saya mas. Itu kalau mau maju, nuruto ibu, selamet uripe samean mas. Jika ibunya sudah dipanggil Allah Swt doakan. Kalau ingin maju nurut sama orang tua, selamet uripe,” tambahnya.

Perjuangan Ahmad luar biasa, selalu meminta doa pada ibunya.

“Saya setiap hari minta doa ke orang tua saya. Karena Allah Swt yang mau saya jadi begini, tidak ada mas orang yang bisa bangun rumah sebanyak itu. Ibu saya ibu rumah tangga, bapak saya pernah buka apotik, jual-beli tanah tapi bukan yang besar,” cetusnya.

“Sekarang beliau lebih ke arah pensiun, kami yang butuh masukan beliau, kami yang menjalankan. Saya juga punya guru bisnis, beliau juga ngajari saya menjaga bisnis,” pungkasnya.

Sebelum obrolan dan berbincangan gayeng tersebut ditutup, Ahmad melampirkan secarik pesan pada Tugu Media Group bahwa untuk menjadi orang sukses jangan ambisius. Jangan pernah lepas urusan dari Allah Swt. (Rangga Aji/gg)

  • Bagikan