Mengenal Profesi Analis Performa dalam Tim Sepak Bola

Mengenal Profesi Analis Performa dalam Tim Sepak Bola

  • Bagikan
Lapangan adalah medan bagi para analis sepak bola
Lapangan adalah medan bagi para analis sepak bola. (Foto: Pexels)

Tugujatim.id – Tahun-tahun berlalu, dunia begitu maju, teknologi semakin berkembang luar biasa, dan begitupun sepak bola.

“Bermain sepak bola itu sederhana, tetapi memainkan sepak bola sederhana adalah hal yang sangat sulit,” ujar salah satu legenda Barcelona dan Timnas Belanda, Johan Cruyff. Bayangkan untuk memainkan sepak bola, 22 pemain berebut satu bola dan memasukkannya ke satu gawang tujuan, mungkin terlihat cukup simpel.

Namun paradoks, kesederhanaan itu sejatinya membutuhkan pola yang cukup rumit. Aspek psikologis dari tiap pemain, intelijensi, kerjasama, pemahaman taktik, seolah membenarkan ungkapan bahwa bola itu bundar. Tak mudah diprediksi.

Beruntung, kehadiran analis performa dari sisi backroom staff membuat kompleksitas dalam permainan tim ‘setidaknya’ dapat dijelaskan. Mereka bekerja di belakang layar, menganalisis jalannya pertandingan, mengevaluasi, lalu mempresentasikannya pada pelatih kepala.

Apa Tugasnya?

Rafael Pol, peneliti olahraga asal Spanyol, dalam suatu jurnal menyebutkan ada tiga jenis analisis yang lazim diterapkan banyak klub elit di dunia.

Pertama, analisis pemain incaran untuk keperluan transfer, apakah pemain tersebut bisa jadi pilihan menarik atau tidak bagi tim. Analisis semacam ini lumrah digunakan oleh para pemandu bakat.

Kedua adalah analisis kekuatan lawan. Analisis untuk mengetahui karakter tim lawan dan kelemahannya. Dan, terakhir yaitu analisis performa pemain. Analisis ini menitikberatkan pada variabel kinestetik pemain seperti total jarak tempuh, kecepatan, stamina dan lain-lain.

Kemudian dalam sebuah jurnal berjudul Performance Analyisis in Football: A Critical Review and Implications for Future oleh Rob MacKenzie dan Chris Cushion, kerja riset yang dilakukan oleh analis performa bertujuan membentuk hubungan kausalitas antar variabel-variabel penampilan yang telah dibagi untuk memprediksi hasil dari sebuah laga.

Sederhananya, tugas inti dari seorang analis performa adalah mengelaborasi mengapa si pemain A memiliki rerata umpan sukses yang kecil, atau mengapa pemain B gagal memiliki peluang besar mencetak gol. Dengan begitu, pelatih kepala dapat leluasa menentukan skema pemain dan taktik guna efektifitas pertandingan.

Skill yang Perlu Dimiliki Analis Performa

Sesuai dengan istilahnya, profesi ini mensyaratkan kemampuan analisis yang tajam. Tak dipungkiri, kemampuan berpikir dan berinovasi seolah sudah menjadi nadi tren industri era sekarang, tak terkecuali sepakbola. Menurut laporan Forum Ekonomi Dunia (WEF), kemampuan menganalisis menjadi skill nomor satu yang banyak dicari pada tahun 2022.

Seorang analis performa haruslah cermat melihat ceruk atau ruang kelemahan maupun kekuatan pada timnya. Seperti halnya pundit sepa kbola, ia juga harus dapat menyampaikan laporannya secara komprehensif. Komunikasi bukan tentang apa yang Anda katakan, tapi bagaimana Anda menyampaikannya.

Alat dan peranti tak seharusnya menjadi kendala. Dalam sebuah buku panduan ‘menjadi analis performa’ yang diunggah oleh The Video Analyst, seseorang dapat membuat analisis suatu pertandingan hanya dari sebuah catatan. Barangkali ini adalah peranti termurah bila si analis tak memiliki komputer dalam melakukan pekerjannya.

The Video Analyst juga merumuskan paling tidak ada delapan statistik kunci untuk dipaparkan seorang analis performa. Mengumpulkan data. Belakangan, di sosial media Indonesia muncul banyak akun yang mengurai statistik jalannya pertandingan sepak bola dengan tangkapan gambar dan sedikit penjelasan ala kadarnya.

Langkah berikutnya bagi analis performa adalah menyajikan data. Microsoft Excel dan SPSS adalah dua dari sekian perangkat lunak untuk membuat visualisasi data. Seorang analis performa juga harus menguasai ilmu tentang data, matriks, metodologi importance performance analysis (IPA) atau lain semacamnya.

Pada tingkatan lebih canggih, memaparkan analisis jalannya pertandingan dengan gambar bergerak atau video dapat meningkatkan pemahaman orang yang memperhatikannya. Namun, proses produksi satu video membutuhkan pengorbanan biaya lebih.

Seorang analis performa harus memperhatikan sudut kamera, penempatan tripod atau teknik-teknik videografi lainnya. Sampai pada tahap presentasi, pemaparan video tak boleh lebih dari 6 menit karena akan membuat audiens bosan.

Kualifikasi Analis Performa

Dalam epilog buku Taktik Pandit Football Indonesia, Zen RS pernah mempertanyakan, “Jadi, apakah awam boleh menilai sebuah taktik? Sangat boleh. Apakah seorang pemain catur berhak menilai strategi sebuah kesebelasan? Sangat berhak.”

Untuk menjadi analis performa, lazimnya seseorang harus memiliki ijazah di bidang Sport Science atau keolahragaan. Namun dewasa ini sepak bola tumbuh menjadi sangat inklusif. Praktik kredensialisme atau terlalu mengkultuskan sertifikasi seperti tak berlaku lagi. Meski pada praktiknya, federasi seringkali mewajibkan pelaku industri sepak bola memiliki latar belakang pemain, walaupun amatir.

Seiring perkembangan zaman, kini semua orang, dengan latar belakang apapun, seolah berhak untuk berkontribusi pada jalannya pertandingan. Memberi saran, mengkurasi, maupun menilai performa pemain.

Laurie Shaw adalah satu dari sekian cerita bagaimana seorang dengan latar belakang ‘bukan atlet’ yang berhasil menembus staf kepelatihan klub sepak bola. Dilansir dari Daily Mail, pada awal tahun 2021 Manchester City yang tergabung dalam City Football Group (CFG) mengangkat Shaw, mantan penasihat keuangan dan astrofisikawan, sebagai kepala data analis.

Melihat industri sepak bola yang semakin ajaib ini, bukan tidak mungkin seseorang dari lulusan komunikasi atau hukum misalnya, atau seorang wartawan dapat melamar pekerjaan dan menjadi bagian dari sebuah klub. Sejauh ia memiliki antusias tinggi dan tekad kuat dalam sepak bola.

Jadi, apa Anda tertarik jadi analis performa?

  • Bagikan