Mengenal Program ‘Kampus Merdeka’ Kemendikbud-Ristek yang Bagai Jalan Tol Mahasiswa

  • Bagikan
Program Kampus Merdeka yang diluncurkan Kemendikbud RI pada Januari 2020 lalu. (Foto: Dokumen/Kemendikbud)
Program Kampus Merdeka yang diluncurkan Kemendikbud RI pada Januari 2020 lalu. (Foto: Dokumen/Kemendikbud)

MALANG, Tugujatim.id – Program Merdeka Belajar yang diperkenalkan oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud-Ristek) Nadiem Makarim, membuat gebrakan bagi dunia perkuliahan di Indonesia. Pasalnya mahasiswa bisa menguasai berbagai keilmuan untuk bekal memasuki dunia kerja.

Belajar merdeka seolah-olah bisa menjadi solusi bagi mahasiswa yang kerasa salah jurusan di tengah-tengah semester. Karena mahasiswa diberikan kebebasan untuk memilih bidang yang mereka sukai.

Mahasiswa dalam program Merdeka Belajar diberikan kesempatan 1 semester yang setara (20 SKS) untuk belajar di luar program studi. Selain itu mahasiswa juga mendapatkan kesempatan untuk belajar di kampus yang berbeda, namun dalam program studi yang sama, dan mendapatkan jatah maksimal 2 semester atau 40 SKS.

“Ini merupakan jalan awal untuk melepaskan belenggu agar (mahasiswa) lebih mudah bergerak. Kita masih belum menyentuh aspek kualitas, dan akan ada beberapa matriks yang akan digunakan untuk membantu perguruan tinggi mencapai targetnya,” ujar Nadiem Makarim beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut, Nadiem menjelaskan bahwa kebijakan Kampus Merdeka juga merupakan kelanjutan dari konsep Merdeka Belajar.

“Kemudian pelaksanaannya memungkinkan untuk segera dilangsungkan karena hanya mengubah peraturan menteri saja, tidak sampai mengubah Peraturan Pemerintah ataupun Undang-undang,” ujarnya.

Di Malang sendiri, beberapa universitas baik Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun Perguruan Tinggi Swasta (PTS) sudah menerapkan program Kampus Merdeka – Belajar Merdeka.

Hal ini disambut oleh salah satu mahasiswa asal Universitas Negeri Malang (UM), Dicky Hanafi, menyambut keputusan tersebut. Menurutnya ia bisa mempelajari lebih banyak ilmu tidak hanya dari jurusannya saja.

“Saya kan dari desain grafis, saya jadi bisa mempelajari ilmu-ilmu lain yang tidak dipelajari di prodi saya, misalnya ilmu IT. Soalnya saya sendiri sebenarnya tertarik sama ilmu IT kayak desain grafis,” ungkapnya.

Dicky juga mengungkapkan jika sebenarnya dirinya juga diajak temannya untuk mempelajari IT.

“Saya sebenarnya juga diajak, tapi saya belum tau bakal kuat atau tidak. Tapi kalau ada kesempatan saya mau coba. Karena kapan lagi bisa mempelajari ilmu IT tanpa harus keluar dari prodi yang sekarang,” tuturnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Wahyu, ia mengatakan tertarik untuk belajar di luar kampus yang sekarang. Namun, ada persyaratan khusus dari kampusnya.

“Kalau di kampus saya (Universitas Muhammadiyah Malang) ada kriteria khusus untuk bisa mengikuti Kampus Merdeka. Salah satunya IPK harus memenuhi persyaratan, terakhir saya lihat itu minim hari IPK 3,8,” tuturnya.

Wahyu mengatakan ia tertarik mengikuti program tersebut dan mencoba masuk ke kampus-kampus lain dan merasakan sensasi belajar di luar UMM.

“Saya pingin coba merasakan pembelajaran di luar kampus, saya tertarik melihat metode-metode pembelajaran lain,” pungkasnya.

  • Bagikan