Mengenal Stockholm Syndrome, Bentuk Ikatan Emosional Korban Sandera dengan Penculik - Tugujatim.id

Mengenal Stockholm Syndrome, Bentuk Ikatan Emosional Korban Sandera dengan Penculik

  • Bagikan
Stockholm Syndrome. (Foto: Pinterest/Tugu Jatim)
Ilustrasi korban sandera yang sedang diculik. (Foto: Pinterest)

MALANG, Tugujatim.id – Kasus penculikan kerap kali menimbulkan trauma terhadap korbannya karena beberapa perlakuan yang dialami selama disandera. Mulai dari diperlakukan secara kejam hingga disakiti secara fisik. Namun sebaliknya, korban penderita stockholmGejala syndrome tak merasa demikian. Mereka justru akan merasa terikat secara emosional dan bersimpati kepada pelaku penculikan. Kok bisa?

Apa Itu Stockholm Syndrome?

Stockholm syndrome adalah respons psikologis saat sedang ditawan. Penderita sindrom ini membentuk ikatan batin dengan penculiknya dan mulai bersimpati dengan mereka.

Banyak profesional medis menganggap perasaan positif yang dirasakan korban terhadap pelakunya sebagai respons psikologis–atau biasa disebut mekanisme koping– yang mereka gunakan untuk bertahan hidup dari trauma berlebihan dan ketakutan akibat penculikan.

Dikutip dari Alo Dokter, kondisi ini tidak hanya berlaku pada situasi penculikan, tapi bisa terjadi pada situasi tertentu, yaitu pelecehan anak, pelecehan antar pelatih-atlet, pelecehan di dalam hubungan (hubungan abusive), dan perdagangan seks.

Awal Penamaan Istilah

Sebelum membahas penyebabnya, mari telurusi lebih dalam mengapa gangguan psikologi ini dinamakan demikian. Dilansir dari Cleveland Clinic, hal ini bermula dari insiden perampokan bank dan penyekapan sandera yang terjadi di Kota Stockholm, Swedia, pada 1973.

Selama 6 hari penyekapan, banyak pegawai bank yang bersimpati kepada para perampok bank. Setelah mereka diselamatkan, beberapa dari pegawai bank menolak untuk bersaksi di pengadilan. Bahkan, mereka menggalang dana untuk membela para perampok. Dari kejadian itu, kriminologi dan psikiater yang menangani kasus itu menyebut keadaan ini dengan istilah “Stockholm Syndrome”.

Apa Penyebabnya?

Sampai saat ini, peneliti belum menemukan mengapa beberapa sandera mengalami stockholm syndrome, sedangkan yang lainnya tidak. Satu teori menyatakan, ini adalah teknik yang diturunkan dari nenek moyang.

Pada masa peradaban awal, manusia di zaman itu selalu berisiko ditangkap atau dibunuh oleh kelompok sosial lain. Ikatan yang dibangun dengan penculik ini meningkatkan harapan untuk bertahan hidup. Beberapa psikiater evolusi percaya bahwa teknik dari nenek moyang ini pada dasarnya adalah sifat alami manusia.

Teori lain menyebutkan bahwa situasi dari sandera atau korban pelecehan sangat emosional. Orang-orang menyesuaikan perasaan mereka dan mulai berbelas kasih pada pelaku ketika menunjukkan kebaikan dari waktu ke waktu.

Selain itu, dengan bekerja sama dan tidak melawan pelaku, korban dapat mengamankan keselamatannya sendiri. Ketika tidak disakiti pelakunya, korban mungkin akan merasa bersyukur dan bahkan memandang pelakunya manusiawi.

Apa saja Gejalanya?

Dilansir dari berbagai sumber, korban yang mengidap sindrom ini pada umumnya akan memiliki gejala signifikan. Tapi, beberapa gejala juga mirip dengan penyakit mental lain yaitu post-traumatic stress disorder (PTSD), di antaranya:

1. Perasaan positif terhadap para penculik atau pelaku kekerasan.
2. Bersimpati dengan keyakinan dan perilaku penculik.
3. Berprasangka negatif pada polisi atau figur otoritas lainnya.
4. Sering memikirkan masa-masa saat disandera.
5. Selalu mendukung apa yang dilakukan pelaku.
6. Merasa tidak bisa memercayai siapa pun.
7. Selalu curiga.
8. Mudah marah dan tersinggung.
9. Gelisah.
10. Cemas.
11. Tidak dapat bersantai dan menikmati hal-hal yang sebelumnya dinikmati.
12. Kesulitan berkonsentrasi.
13. Merasa seperti tidak berada dalam kenyataan.

Cara Pengobatan

Tidak ada standar untuk penanganan stockholm syndrome. Namun, untuk perawatan gejala PTSD, pengobatannya akan melibatkan psikiater dan konseling psikologi seperti terapi dengan berbincang dan meresepkan obat-obatan antiansietas untuk meredakan kecemasan.

Penderita nantinya juga akan diminta menjalani serangkaian terapi untuk mengatasi trauma. Pada akhirnya, tujuan dari terapi ini akan membantu korban untuk memahami pengalaman dan rasa simpati pada pelaku hanyalah sebatas perjuangan untuk bertahan hidup. Penderita akan didorong untuk belajar dari masa lalu dan terus melangkah maju demi masa depan.

 

 


Terima kasih sudah membaca artikel kami. Ikuti media sosial kami yakni Instagram @tugujatim , Facebook Tugu Jatim
Youtube Tugu Jatim ID , dan Twitter @tugujatim

 

 

  • Bagikan