• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
P-WEC, wisata edukasi yang juga 'markas' Profauna Indonesia yang berada di Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. (Foto: P-WEC)

P-WEC, wisata edukasi yang juga 'markas' Profauna Indonesia yang berada di Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. (Foto: P-WEC)

Mengunjungi Wisata Edukasi P-WEC di Malang yang juga Markas Profauna Indonesia

Gigih Mazda by Gigih Mazda
5 years ago
in Wisata
0
Share on FacebookShare on Twitter

MALANG, Tugujatim.id – Kalau warga Kabupaten Malang sudah mulai bosan dengan objek-objek wisata yang itu-itu saja di Kabupaten Malang, mungkin sudah saatnya mencoba objek wisata yang agak berbeda sambil mendapatkan pencerahan terkait fungsi-fungsi tumbuhan dan hewan dalam ekosistem hutan di Petungsewu Wildlife Education Center (P-WEC).

Beralamat di Jalan Margasatwa 1, Desa Petungsewu, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. P-WEC berdiri sejak 2003 berkat kerjasama PT Petungsewu Adventure bersama Profauna Indonesia.

You might also like

Gunung Penanggungan

Mengapa Gunung Penanggungan Disebut Miniatur Mahameru? Ini Sejarah, Bentuk, dan Keistimewaannya

19/07/2026 10:45 AM
Mata Air Jawa Timur

20 Mata Air Jawa Timur Terbesar yang Menjadi Sumber Kehidupan Warga

17/07/2026 6:24 PM

“Tempat ini kan kita juga kerjasama dengan Profauna, jadi PT Petungsewu Adventure bersama Profauna untuk mendirikan P-Wec. Jadi, kita memang wisatanya untuk edukasi dan terbatas,” terang Made Astuti selaku Direktur Eksekutif P-WEC saat dikunjungi Jurnalis tugumalang.id beberapa waktu lalu.

Misi utama yang digaungkan sendiri adalah untuk memberikan edukasi terkait manfaat tanaman dan hewan terhadap keberlangsungan ekosistem di hutan.

“Awalnya karena Profauna yang datang ke rumah-rumah warga untuk memberikan edukasi, lalu mereka berpikir bagaimana kalau mereka juga bisa datang ke Profauna. Makanya didirikan P-WEC itu,” bebernya.

Made menjelaskan, jika istilah untuk edukasi ini adalah pendidikan kehidupan liar. Dan memang P-WEC sendiri lebih banyak untuk edukasi.

Suasana wisata edukasai P-WEC yang juga 'markas' Profauna Indonesia yang berada di Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. (Foto: P-WEC)
Suasana wisata edukasai P-WEC yang juga ‘markas’ Profauna Indonesia yang berada di Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. (Foto: P-WEC)

“Kita ini tempat pendidikan informal untuk konservasi alam, istilahnya tempat pendidikan kehidupan liar. Jadi, memang programnya lebih banyak untuk edukasi. Selain itu kita juga menerima untuk outbound, LDK, reuni dan lainnya,” tuturnya.

P-WEC sendiri memiliki luas kurang lebih 5 hektare, dimana di dalamnya ada penginapan mulai dari guest house, asrama, outbound, kafe dan lainnya. Oleh karena itu para pengunjung akan menginap untu diberikan program edukasi dan outbound.

“Biasanya itu hari pertama dan kedua pelatihan, lalu hari ketiga mereka outbound. Lebih kepada teamwork, karena mungkin diantara mereka belum saling kenal. Jadi lebih banyak ke teamwork building dan leadership juga,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Made mengatakan saat ini kebanyakan pengunjungnya ada siswa-siswi SD. Tapi terkadang ada saja pengunjung dari perusahaan dan kampus.

“Pengunjung sendiri lebih banyak dari sekolah mulai dari SD, SMP, sampai SMA. Kalau dulu sebelum mendapatkan Adiwiyata itu lebih banyak SMA, dan setelah mendapatkan Adiwiyata jadi lebih banyak SD,” bebernya.

“Kalau untuk anak SD kita edukasinya lebih banyak ke pengenalan berbagai tanaman, serangga dan fungsi-fungsi serangga,” sambungnya.

Kendala yang biasa dialami Made dan kawan-kawannya sendiri adalah harus meluruskan kembali mitos-mitos yang terlanjur diserap anak-anak.

“Karena tidak semua guru itu bisa menjelaskan apa fungsi suatu tanaman, kadang bahkan ada yang bilang pohon beringin itu rumahnya setan. Jadi kita menjelaskan bahwa pohon beringin itu bukan rumahnya setan dan pasti ada fungsinya,” ujarnya.

Untuk anak-anak SD, Made juga menyiapkan beberapa metode khusus yang dimodifikasi dengan gaya bermain agar mereka mau mendapatkan edukasi.

“Kita juga mengaplikasikannya dengan permainan, jadi mereka paham saat melakukan permainan. Jadi mereka menggambar daun-daunan, lalu mereka cari yang mana yang bentuk dan ketebalannya sama,” ucapnya.

Suasana wisata edukasai P-WEC yang juga 'markas' Profauna Indonesia yang berada di Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. (Foto: P-WEC)
Fasilitas yang berada di wisata edukasai P-WEC yang juga ‘markas’ Profauna Indonesia yang berada di Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. (Foto: P-WEC)

Untuk bisa masuk dan mendapatkan edukasi di P-WEC, ia mengatakan jika perusahaan, lembaga, kampus atau sekolah yang ingin datang wajib memesan terlebih dahulu.

“Misalnya ada sekolah, perusahaan atau lembaga yang ingin datang ke sini harus pesan dahulu. Karena di sini itu tempat wisata untuk edukasi, jadi kita harus menyiapkan,” tegasnya.

“Kecuali untuk family gathering 3-4 orang tidak masalah kalau mau datang langsung. Tapi kalau 20-50 orang gal bisa langsung datang,” imbuhnya.

Selain itu, karena adanya Pandemi COVID-19, pengunjung yang datang juga dibatasi dan sidah disiapkan protokol kesehatan yang ketat.

“Karena saat ini pandemi pastinya dibatasi, kalau biasanya kita bisa menampung 250 – 400 orang sekali dikunjungi, sekarang kita batasi cuma sekitar 100 orang,” jelasnya.

“Selain itu setiap tempat tidur kita berikan pembatas plastik, memang agak ribet, tapi ya harus sesuai protokol kesehatan,” tambahnya.

Untuk jam buka di P-WEC juga dibatasi mulai dari pukul 09.00 WIB sampai 17.00 WIB untuk pengunjung yang hanya survei dan tidak menginap.

Terakhir, Made menjelaskan jika P-WEC tidak menetapkan biaya tiket masuk. Hanya bagi yang ingin mendapatkan paket edukasi dan menginap yang dikenakan biaya.

“Untuk tiket masuk kita tidak memberikan biaya, karena memang wisata kita terbatas untuk edukasi. Jadi kalau datang untuk survei saja boleh tapi kalau hanya datang saja untuk main gak bisa,” pungkasnya.

Tags: Destinasi WisataKabupaten MalangMalangProfaunaProfauna IndonesiaWisatawisata di Malang
Gigih Mazda

Gigih Mazda

Related Stories

Gunung Penanggungan

Mengapa Gunung Penanggungan Disebut Miniatur Mahameru? Ini Sejarah, Bentuk, dan Keistimewaannya

by Mochamad Abdurrochim
19/07/2026 10:45 AM
0

Tugujatim.id – Di antara deretan gunung di Jawa Timur, Gunung Penanggungan memiliki julukan yang cukup populer, yakni Miniatur Mahameru. Sebutan...

Mata Air Jawa Timur

20 Mata Air Jawa Timur Terbesar yang Menjadi Sumber Kehidupan Warga

by Mochamad Abdurrochim
17/07/2026 6:24 PM
0

Tugujatim.id – Jawa Timur dikenal memiliki banyak sumber mata air yang tersebar di berbagai daerah, mulai dari kawasan pegunungan hingga...

Candi Penataran Blitar.

Candi Penataran Blitar, Mahakarya Majapahit yang Masih Menyimpan Misteri

by Dwi Linda
17/07/2026 9:45 AM
0

BLITAR, Tugujatim.id - Candi Penataran Blitar merupakan situs bersejarah penting di Jawa Timur. Kompleks ini menjadi peninggalan besar dari masa...

Mikutopia Batu.

Mikutopia Batu Hadirkan Paket Pre-Wedding Unik, Berlatar Kastel Jamur dan Sunset Gunung Arjuno

by Dwi Linda
16/07/2026 2:00 PM
0

BATU, Tugujatim.id – Destinasi wisata Mikutopia di Kota Batu, Jawa Timur, menghadirkan inovasi baru yang unik bagi pasangan yang akan...

Next Post
Petugas pemadam kebakaran Kabupaten Tuban saat berusaha memadamkan api yang cukup besar yang melahap sebuah kandang di tengah permukiman di Montong, Tuban, Senin (24/5/2021) malam. (Foto: Humas BPBD Kabupaten Tuban) kebakaran tuban

Kandang di Montong Tuban Ludes Terbakar, Api Diduga Sisa dari Kompor Tungku

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID