Metamorfosis Karakter

  • Bagikan
Muhammad Rizal P, mahasiswa IPB University dan Member Pondok Inspirasi (Foto: Dokumen)
Muhammad Rizal P, mahasiswa IPB University dan Member Pondok Inspirasi (Foto: Dokumen)

Tugujatim.id – Kalian pasti sudah tidak asing istilah metamorfosis. Iya kan? Istilah yang sering kita dengar di mata pelajaran IPA waktu di sekolah. Ternyata metamorfosis itu tu ga hanya dialami hewan, tapi juga bisa dialami manusia lho. Tapi tentunya dengan cara yang berbeda. Jadi, pada kesempatan kali ini aku mau sedikit cerita metamorfosis karakter versi aku.

13 tahun lalu, tepatnya ketika aku berusia 7 tahun atau kelas 1 SD usia yang sedang-sedang happy-nya kan hanya bermain, makan, dan tidur. Namun, ketika itu mengalami pengalaman dan tekanan yang sangat berdampak besar terhadap perubahan karakter dalam diri aku.

Sebelumnya sedikit perkenalan diri ya, Namaku Rizal, merupakan anak pertama dari dua bersaudara, tinggal bersama adik perempuan dan ibu karena ayah sedang kerja di luar kota dan hanya pulang 2 bulan sekali dengan waktu di rumah hanya seminggu bisa mulai terlihat kan tanggung jawab yang harus aku emban. Tapi it’s Ok.

Lanjut ke cerita, saat usia 7 tahun itu aku masuk ke sekolah dasar yang cukup minim peserta didik, dalam kelasku hanya ada tujuh orang dan siswa laki-laki hanya aku. Aku banyak bergaul bersama siswa perempuan dan diremehkan orang-orang. Mereka sering berkata pasti suatu saat nanti aku tumbuh menjadi laki-laki lemah dan cengeng yang bermental perempuan, bahkan dari paman aku sendiri aku sering diremehkan.

“Ahh Rizal itu ga bisa pinter liat aja tubuhnya kecil, dan pergaulannya…”, kurang lebih seperti itu kalimat yang masih aku ingat sampai sekarang.

Aku sering mengadu kepada ibu, karena hanya ibu lah orang tua yang benar-benar tau kondisiku dan kemampuanku yang sebenarnya.

Ibu selalu berpesan, “Jangan ada dendam kepada orang yang meremahkanmu zal, setiap orang berhak menilai kita seperti apa tapi ingat kita lah yang memegang penuh atas pikiran, dan diri kita tetap semangat buktikan kalo kamu bisa.”

Diksi yang dipilih ibuku pertama adalah memaafkan. Dan menurutku sangat deep maknanya yang selalu aku ingat juga menjadi peledak semangat dikala down mental bahkan sampai sekarang.

Sejak saat itu, orang tuaku memutuskan untuk memindah aku ke sekolah dasar lain ya ketika naik kelas 2 SD meskipun lebih jauh tapi menurutku di sana lah semuanya berubah bak ulat yang bermetamorfosis menjadi kupu-kupu yang cantik.

Di sekolah ini ada 27 siswa dalam satu kelas dengan perbandingan 13 putra dan 14 putri dengan berbagai latar belakang ekonomi, sosial, dan kemampuan yang beragam. Berawal ketika aku mengikuti lomba MTQ tingkat kecamatan aku merasa itu sebuah keanehan karena anak yang baru pindah bahkan bisa dibilang belum kenal nama ibu kantinnya aja udah ditunjuk. Tapi aku yakin ada hikmah di balik itu. Dan, alhamdulillah Allah menunjukkan bahwa aku berada dalam pilihan yang tepat, aku juara dan terpilih untuk mewakilin kecamatan di tingkat kota.

Meskipun tidak mendapat juara, tapi ini membuat aku seolah terbangun dari tidur. Ketika orang percaya kepada kita pasti kita dinilai mampu, jadi jangan pernah menghindar dari tugas atau apapun yang diamanah kan ke kita. Setelah lomba ini, aku semakin sering ditunjuk untuk ikut berbagai lomba khususnya di cabang olimpiade MIPA. Mulai dari skala kecamatan dan tembus ke tingkat kota. Alhamdulillah sempat meraih beberapa juara dan membuat aku lulus dengan predikat 2 terbaik di sekolah serta selama di SD mendapatkan beasiswa full karena berhasil meraih peringkat 3 besar secara konsisten selama 5 tahun berturut-turut.

Di masa SMP semakin terbentuk karakter tangguh dan pejuangku, aku memberanikan diri untuk menumbuh jiwa sosial, leadership, dan team work melalui OSIS bahkan sempat diamanahkan menjadi pengurus inti sebuah pencapaian yang menurutku bagus untuk anak yang baru belajar berorganisasi selain menempa di organisasi aku meningkatkan kemampuan dibidang akademik dan kemampuan public speaking sempat mengikuti beberapa perlombaan di bidang debat dan pidato dan berhasil mendapat juara 2 pidato

. Di masa SMP ini aku semakin merasa percaya diri dengan kemampuanku dan lebih yakin dalam menentukan setiap keputusan hidup tanpa mendengarkan omongan orang, namun ketika lulus SMP mentalku kembali dilatih ketika tidak diterima di SMA yang aku impikan karena terkandala sistem zonasi. Sempat down banget seperti Allah tidak adil dengan semua usahaku. Lagi-lagi ibu menjadi sosok yang membangkitkan semangat dengan kata-kata nasihat yang selalu mengena dan membuat aku sadar pentingnya yakin dengan ketetapan Allah.

Ternyata ketika di SMA ibarat lampu pijar, cahaya keberkahan dan itu semakin bercahaya terang, Allah selalu tidak pernah salah menempatkan kita, dan tau mana yang kita butuhkan lebih dari sekedar yang kita inginkan. Tempat yang awalnya bukan yang ingingkan bahkan tidak aku harapkan ternyata disini aku mendapat pengalaman dan kesempatan aktif dibeberapa organisasi seperti, Paskibra dan yang luar biasa aku diamanahkan sebagai Ketua OSIS selama di SMA sekaligus mendapat peringkat 1 paralel MIPA selama 3 tahun berturut-turut sekaligus besiswa full SPP dan ini adalah rekor yang belum pernah ada di SMA-ku.

Dil uar sekolah, aku mendapatkan kesempatan untuk mewakili kota untuk ke provinsi. Berkumpul bersama para pemuda terbaik dari setiap kota untuk berdiskusi masalah peran pemuda bagi negara dan refleksi diri. Tidak sampai disana aku juga berhasil meraih juara 2 OSN Biologi di tingkat kota dan otomatis mewakili ke provinsi.

Ya meskipun di provinsi kalah, tapi sejauh ini adalah pencapain tertinggiku. Itu semua ditutup dengan manis ketika aku diterima melalui jalur SNMPTN di IPB University yang merupakan salah satu kampus terbaik di Indonesia dan ini semoga menjadi langkah estafet ku dan istiqomah untuk mengembangkan diri ini.

Semua yang aku tulis di sini belum seberapa jika dibandingkan cerita orang sukses yang pernah kita dengar seperti, B.J Habibie, Bob Sadino, Chairul Tanjung, dan sosok hebat lainnya. Tapi, di sini aku mau share part of my life yang semoga bisa menginspirasi kalian yang mungkin senasib dengan aku.

Setidaknya ada beberapa nilai yang aku dapat dari semua proses hidupku. Yaitu pentingnya memanajemen emosi bahkan kepada orang yang meremehkan kita, dan jangan dengarkan omongan negatif orang lain tentang kamu. Jalani apa yang kamu yakini pastikan nikmati setiap proses kehidupan, memang tidak semuanya sesuai dengan apa yang kita inginkan dan impikan. Tapi percayalah, apa yang sudah ditakdirkan itu pasti yang terbaik buat kita percayalah dimanapun berada emas akan tetap menjadi emas. Dan jangan pernah berprasangka buruk kepada Allah karena Allah ga akan pernah salah mengerti kita tapi kita sering salah menafsirkan maksud Allah.

 

Penulis: Muhammad Rizal P, mahasiswa IPB University dan Member Pondok Inspirasi

  • Bagikan