Tugujatim.id – Puasa Ramadan di negeri orang tentu menghadirkan pengalaman berbeda, apalagi di negeri dengan minoritas pemeluk Islam. Pengalaman itu pun dirasakan Muhammad Zair Baitil Atiq, Mahasiswa Indonesia yang tahun ini menjalani Ramadan di Portugal.
Zair adalah Mahasiswa Universitas Mahasiswa Malang (UMM) yang menjadi peserta Program Pertukaran Pelajar Erasmus di Universitas Minho, kota Braga, Portugal.
Ia harus jauh dari keluarga dan merasakan suasana yang tidak seramai di Indonesia. Penyesuaian kebiasaan baru menjadi tantangannya untuk tetap produktif menjalani aktivitas selama berpuasa.
Selama menjalani program tersebut, ia merasakan langsung bagaimana atmosfer Ramadan di negara dengan populasi muslim yang sangat kecil.

Zair mencontohkan, jika di Tanah Air masyarakat menyambut Ramadan dengan penuh antusias, maka di Portugal lebih tenang dan sepi. Karena umat Islam hanya sekitar 1% dari total populasi.
“Di Indonesia orang-orang sangat excited menyambut Ramadan. Kalau di sini rasanya seperti kita saja yang merayakan,” ujar Mahasiswa UMM angkatan 2022 kepada pada Tim Humas UMM, 8 Maret 2026.
Tahun ini, lanjut Zair menjadi pengalaman pertamanya menjalani bulan suci tanpa keluarga sekaligus merayakan Idulfitri di luar negeri.
Sementara dari segi durasi berpuasa, di Portugal relatif lebih singkat dibandingkan di Indonesia. Zair menyebutkan waktu berpuasa hanya sekitar 12 jam.
Ia menambahkan bahwa informasi terkait waktu sahur, imsak, hingga berbuka puasa sangat mudah diakses melalui Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Portugal maupun komunitas muslim setempat yang menyediakan jadwal ibadah selama Ramadhan melalui situs resmi.
Menariknya, Zair bercerita pengalamannya Ramadan di Portugal juga memperlihatkan tingginya sikap saling menghargai antar pemeluk agama.
Teman-temannya di kampus sangat menghormati ibadah yang sedang dijalaninya. Bahkan, mereka memahami beberapa batasan yang harus dijaga sebagai seorang muslim.
“Teman-teman di kelas sangat respect. Mereka tahu saya sedang puasa, bahkan mereka juga tahu saya tidak bisa makan babi atau minum alkohol. Jadi kalau mengajak hangout, mereka memilih tempat yang sesuai,” jelasnya.
Mahasiswa asal Kalimantan ini juga mengungkapkan keahlian barunya semenjak berpuasa di negeri orang, yaitu memasak. Karena di Portugal lebih sering memasak sendiri untuk memastikan kehalalan makanan yang dikonsumsi nya. Bahkan membawa beberapa bumbu khas Indonesia dari tanah air.
Namun, di beberapa situasi mendadak Zair juga berbuka puasa di restoran. Karena di Portugal bisa ditemukan juga restoran Turki, yang bahkan berada tidak jauh dari kampusnya.
Selain menyediakan menu halal seperti kebab, restoran tersebut juga menyediakan takjil gratis bagi umat muslim yang berbuka puasa.
Bagi Zair, menjalani Ramadan di luar negeri menjadi pengalaman berharga yang memberinya banyak pelajaran tentang toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Editor: Darmadi Sasongko








