Nanang Subandi, Perajin Bonsai Aquatic asal Trenggalek Beromzet Rp 5 Juta Per Bulan - Tugujatim.id

Nanang Subandi, Perajin Bonsai Aquatic asal Trenggalek Beromzet Rp 5 Juta Per Bulan

  • Bagikan
Nanang Subandi, perajin aquatic dari Desa Duren, Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek. (Foto: Zamzuri/Tugu Jatim)
Nanang Subandi, perajin aquatic dari Desa Duren, Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek. (Foto: Zamzuri/Tugu Jatim)

TRENGGALEK, Tugujatim.id – Merintis usaha sejak 2016 di Kabupaten Trenggalek, Nanang Subandi bisa raup omzet kurang lebih Rp 5 juta per bulan dengan karya bonsai aquatic-nya. Berbekal akun media sosial, pangsa pasarnya pun semakin meluas hingga di wilayah Nusantara.

Nanang, pria berusia 44 tahun ini mampu membuat bahan dasar aquatic dari pohon senggani menjadi pundi-pundi uang. Dengan mematok harga di kisaran Rp 150 ribu-Rp 1 juta, dia mendapatkan banyak pelanggan. Untuk bahan mentahnya, dia mengambilnya dari petani lokal. Dia pun mampu membuktikan jika akar senggani yang awalnya adalah tanaman hama bisa diperjualbelikan hingga meraup keuntungan.

“Awal mula saya itu komunikasi dengan saudara saya di luar kota tentang ide ini. Namun, setelah menggali bahan bakunya, eh ternyata di Trenggalek kok banyak. Jadi, saya belajar otodidak sampai bisa seperti sekarang ini,” jelasnya.

Nanang juga bersyukur, di tengah pandemi Covid-19 selama hampir dua tahun ini, usaha miliknya tak berdampak karena para pelanggan tetap setia dengan karyanya dan ekspedisi pengiriman masih berjalan dengan lancar.

Nanang Subandi tampak konsentrasi untuk membuat bonsai aquatic-nya. (Foto: Zamzuri/Tugu Jatim)
Nanang Subandi tampak konsentrasi untuk membuat bonsai aquatic-nya. (Foto: Zamzuri/Tugu Jatim)

“Kalau urusan pandemi, bersyukur tidak terdampak. Malah pesanan makin banyak. Mungkin ini efek work from home (WFH), masyarakat jadi ingin lebih terhibur di tengah pekerjaannya dengan melihat bonsai aquatic,” ujarnya.

Meski belajar secara otodidak, ayah 3 anak tersebut juga pernah belajar ke Jakarta untuk mengasah keterampilannya selama 2 bulan.

“Ya, saya pernah belajar ke Jakarta. Itu pun belajar karena ikut kerja, ada pesanan ekspor ke luar negeri,” ungkapnya.

Meski omzetnya besar, Nanang juga sering menemukan kendala saat ada pesanan pengiriman ke luar negeri. Sebab, ekspedisi di Kabupaten Trenggalek belum tersedia.

“Sebenarnya banyak pesanan dari luar negeri, tapi ya di Trenggalek sendiri belum tahu ekspedisinya apa. Kalau kesulitannya, hanya itu saja sih,” ujarnya.

  • Bagikan