Opini: Nikita Mirzani Itu Padang Kurusetra dalam Bharatayudha

  • Bagikan
Opini: Nikita Mirzani Itu Padang Kurusetra dalam Bharatayudha
Ilustrasi Nikita Mirzani layaknya Padang Kurusetra dalam Bharatayudha. (Ilustrasi: Dicky/Tugu Jatim)

Nikita Mirzani adalah representasi metaforis Kurawa sekaligus padang kurusetra dalam Bharatayudha, medan pertempuran di perang mahadahsyat yang berakhir dengan ketiadaan, tak ada pihak yang menang dan kalah dalam arti sebenarnya. Pandawa dan Kurawa hancur, malah sama-sama punah. Pandawa sebagai alamat segala positivitas dan Kurawa sebagai alamat segala negativitas sama-sama punah, keberlanjutan trah atau generasi terputus, keduanya menjadi ‘nothing’ dalam pengertian filosofis. Bharatayudha merupakan perang sia-sia kehancuran eksistensi manusia di alam semesta. Pembenturan keras-keras antara konstruksi positivitas dan negativitas yang dibekukan dan disakralkan juga akan berakhir sia-sia di dalam kehidupan manusia.

Bagaikan Kurawa malah mungkin Duryudana atau dalam perspektif Ramayana bagaikan Sarpakenaka, Nikita Mirzani telah menjadi alamat negativitas bagi blok HRS. Blok HRS bagaikan Pandawa mengklaim menjadi alamat segala positivitas. Dengan berbagai strategi dan retorika, blok HRS mengonstruksi sekaligus mengidentifikasi diri sebagai sosok positivitas, tempat segala kebenaran, kebaikan, kebersihan, dan kesucian berkerumun di situ. Pada sisi lain, blok HRS juga mengonstruksi sekaligus mengidentifikasi diri Nikita Mirzani sebagai sosok negativitas, tempat segala kesalahan, kebobrokan, kebejatan, keburukan, dan kekotoran bermukim di situ. Nyaris tak ada kebaikan dan kebenaran. Di sinilah kita menyaksikan pertempuran seru antara positivitas melawan negativitas yang termanifestasi dalam blok HRS sebagai institusi versus Nikita Mirzani sebagai persona.

Sumbangan Kemanusiaan Gempa Malang

Berbeda dengan individu pada umumnya di Indonesia yang selalu memosisikan diri sebagai korban saat mengalami negativisasi diri, Nikita Mirzani justru menempatkan dan menegaskan diri sebagai subjek. Dia dengan berani dan bernyali — mungkin juga nekat — memosisikan sebagai subjek yang melawan negativitas yang sudah dikonstruksi sekaligus tersemat dalam dirinya. Bukan hanya penuh keberanian dan ketegasan, tapi juga dikemas sarat keluhuran dan keanggunan dia melakukan perlawanan tanpa beban sama sekali di mata publik. Bukankah dalam diri Nikita sudah bersatu segala kerendahan dan kenistaan yang dikonstruksi oleh Blok HRS, dan publik sudah tahu semua, sehingga dia tak perlu lagi repot mencari pupur kepura-puraan dan topeng martabat dan harkat diri lagi? Maka bahasa dan diksi keburukan dan keculasan yang dilayangkan oleh Blok HRS justru dilawan dengan bahasa dan diksi penuh keanggunan dan kesantunan oleh Nikita. Bukankah Nikita sama sekali tak terpancing menggunakan “linguistik dan retorika kebusukan” yang datang dari Blok HRS? Nikita malah membangun “linguistik dan retorika empatik” dalam usaha perlawanannya.

Strategi dan retorika perlawanan demikianlah yang kemudian menjadi magnet bagi Nikita, menjadi awal berhimpunannya energi moral dan kultural dari berbagai pihak di luar Blok HRS dan di luar diri Nikita. Individu dan kelompok yang tak sepaham dan sependapat dengan Blok HRS diam-diam atau terang-terangan memberi empati dan simpati kepada Nikita. Kita menyaksikan perlahan-lahan Nikita bertiwikrama atau bermetamarfosa dari persona ke institusi. Berbagai pihak di luar Blok HRS dan diri Nikita berhimpun dan bergabung ke dalam diri Nikita sehingga Nikita berubah dari persona menjadi institusi. Negativitas diri Nikita yang sudah dikonstruksi oleh Blok RHS begitu rupa pun akhirnya ambyar alias hancur karena dalam diri Nikita sebagai institusi telah bersatu berbagai positivitas alternatif atau lain. Bukankah banyak kelompok masyarakat yang diam kemudian terang-terangan mendukung Nikita? Negativitas yang ada dalam diri Nikita tertimbun oleh positivitas alternatif yang telah melekat dalam dirinya. Dengan positivitas alternatif inilah Nikita sebagai institusi lantas membongkar dan “memboleng” (maaf, istilah tukang jagal) negativitas yang sebenarnya sejak awal terkandung dalam konstruksi positivitas yang dibangun oleh Blok HRS.

Di situlah kita menyaksikan hukum yin yang bekerja atau hukum kamal-jamal berfungsi. Dalam filsafat Timur bukankah sudah lama didalilkan kebaikan dan keburukan atau hitam dan putih itu koeksisten dan menyatu dalam setiap eksistensi. Demikian juga dalam pemikiran klasik Islam juga sudah diyakini setiap kebaikan menggendong keburukan pada satu sisi dan pada sisi lain setiap keburukan selalu membopong banyak kebaikan. Tinggal bagaimana mata kita melihatnya. Begitulah, kita sedang menyaksikan kebaikan-kebaikan yang sedang berhimpun dan bergabung dalam diri Nikita yang sudah dikonstruksi oleh Blok HRS penuh keburukan. Kini Nikita perlahan terus bermetamarfosa menjadi positivitas alternatif yang dengan berani, bernyali, dan anggun melawan positivitas yang dikonstruksi oleh Blok HRS. Ah…sampai di sini saya jadi ingat lakon Damarwulan Kembar — yang mana Damarwulan asli dan gadungan sukar ditentukan! Kenapa aku juga ingat pertarungan Goyang Ngebor Inul versus Rhoma Irama yang justru menjadikan “merak indah” di blantika musik dan intertaimen Indonesia.

Dalam pertarungan positivitas alternatif yang terkonstruksi dalam diri Nikita melawan positivitas yang dikonstruksi oleh Blok HRS, di manakah posisi pemerintah atau penguasa? Terus terang, saya tak tahu. Sebab sosoknya samar remang bagaikan teralingi kabut tebal. Dalam perspektif Bharatayudha, mungkin penguasa berposisi sebagai Bisma yang memikul masgul melulu menyaksikan dahsyatnya Bharatayudha dan menanti penuh harap Srikandi yang akan menjemput ajalnya. Mungkin pula penguasa berposisi sebagai Kresna yang kerap tak adil dan curang demi kemenangan Pandawa. Dalam perspektif lakon mashur Shakesperare, mungkin saja penguasa berposisi sebagai Hamlet, pangeran Denmark yang peragu di tengah karut-marut zaman.

 

Oleh: Prof. Djoko Saryono
Guru Besar Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang

  • Bagikan