SURABAYA, Tugujatim.id – Tagar #KaburAjaDulu yang digaungkan oleh anak-anak muda Indonesia, kini kian mendominasi percakapan digital di media sosial. Hal ini sebuah cerminan kekecewaan yang semakin mendalam terhadap tantangan dalam negeri, mulai dari keterbatasan lapangan kerja hingga akses pendidikan yang belum merata.
Menurut dosen Ilmu Komunikasi sekaligus Wakil Dekan Fakultas Humaniora dan Industri Kreatif Petra Christian University (PCU) Ido Prijana Hadi bahwa tagar ini bukan sekadar ekspresi spontan, tetapi bentuk komunikasi politik yang kuat.
“Media sosial kini berperan besar dalam membentuk opini publik. Hashtag seperti ini bisa menjadi simbol ketidakpuasan kolektif dan bahkan mendorong perubahan kebijakan,” ujar Ido dari keterangan yang diterima Tugujatim.id pada Selasa (25/02/2025).
Menurut Ido, di era digital, protes tidak selalu berbentuk demonstrasi fisik. Kampanye daring seperti #KaburAjaDulu dapat menjadi alat yang efektif untuk menarik perhatian pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya.
“Ini lebih dari sekadar tagar. Ada keresahan di generasi muda yang merasa terpinggirkan. Mereka merasa peluang yang ada semakin sempit, dan solusi yang mereka lihat adalah dengan mencari kehidupan yang lebih baik di luar negeri,” tutur Ido.
Dia melanjutkan, fenomena ini juga menyoroti dilema yang dihadapi anak muda Indonesia, yakni bertahan dan berjuang di dalam negeri dengan segala keterbatasannya, atau mencari peluang di luar negeri dengan harapan kehidupan yang lebih baik.
“Dalam komunikasi massa, kita mengenal konsep agenda setting, di mana simbol atau pesan yang disampaikan melalui media sosial dapat memengaruhi opini publik dan bahkan kebijakan pemerintah. Hastag seperti ini menjadi bentuk ekspresi dan harapan masyarakat agar pemerintah lebih memperhatikan kondisi mereka,” jelasnya.
Pemerintah Harus Beri Peluang kepada Anak Muda
Di samping itu, fenomena ini juga menimbulkan kekhawatiran. Jika terlalu banyak talenta muda yang pergi tanpa kembali, bagaimana masa depan Indonesia dalam menghadapi persaingan global?
Dia pun menegaskan bahwa pemerintah memiliki peran krusial dalam merespons keresahan ini.
“Kebijakan yang lebih inklusif dan transparan diperlukan agar anak muda merasa memiliki masa depan di tanah air. Jika mereka melihat ada harapan, mereka tidak akan mencari jalan keluar dengan ‘kabur’,” tegas Wakil Ketua Umum 4 Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi (ASPIKOM) Pusat itu.
Di samping itu, menurut Ido, pemerintah harus memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk berkembang di dalam negeri. Kebijakan terkait pekerjaan, pendidikan, dan kesejahteraan harus lebih jelas, dengan akses yang lebih besar kepada mereka. Serta perlunya tansparansi dalam pengelolaan anggaran juga diperlukan agar kepercayaan publik lebih terbangun.
“Generasi muda tidak hanya menginginkan pekerjaan, tapi juga membutuhkan kesempatan untuk berkembang. Pemerintah harus memperhatikan hal ini agar anak muda merasa optimis dan memiliki harapan untuk masa depan mereka di Indonesia,” ujar Ido.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Layla Aini
Editor: Dwi Lindawati