TUBAN, Tugujatim.id – Belanja online lebih dipilih masyarakat, akibatnya Pasar Alat Tulis Tuban kehilangan pembelinya. Kondisi ini dirasakan Rudi Shoimah (40), pedagang alat tulis di Pasar Baru Tuban, yang setiap tahun mengandalkan momen ajaran baru untuk mendulang keuntungan.
“Biasanya pas musim ajaran baru bisa jual 50 dus buku tulis sehari. Sekarang paling banyak cuma 10 dus,” keluh Rudi Shoimah kepada Tugujatim.id, Minggu (06/07/2025).
Rudi yang jualan alat tulis sejak Tahun 2000-an ini mengaku penjualannya anjlok drastis. Penyebab utama yang dirasakan salah satunya pergeseran perilaku konsumen. Kini, para orang tua lebih memilih berbelanja melalui platform online daripada datang langsung ke pasar.
“Banyak yang milih beli di online. Tinggal klik, bayar, terus nunggu di rumah. Nggak perlu capek-capek ke pasar,” ujarnya.
Padahal, ia menegaskan, harga barang yang dijualnya tidak jauh berbeda dengan yang dijajakan di e-commerce. Bahkan dalam beberapa kasus, justru lebih murah. Selisihnya hanya pada ongkos kirim.
“Harga buku tulis di sini mulai Rp25 ribu sampai Rp45 ribu per pak, tergantung mereknya. Di online juga sama, kadang lebih mahal karena kena ongkir. Tapi tetap aja mereka milih cara itu karena praktis,” terang Rudi.
Jualan di Platform Online
Meski begitu, Rudi tetap mencoba mengikuti arus. Ia kini juga membuka lapak jualan di platform online. Namun, ia menyebut keuntungan dari penjualan daring tidak sebanyak jualan langsung. Selain margin lebih kecil, ia juga harus berbagi hasil dengan pihak ketiga.
“Penjualan online memang lumayan, tapi untungnya tipis banget. Karena harus bagi hasil juga. Jadi nggak bisa diandalkan sepenuhnya,” jelasnya.
Saat ini, ia masih mempekerjakan dua orang karyawan untuk membantu menjaga lapaknya. Walau sesekali masih ada pembeli, suasananya jauh berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya yang selalu ramai.
BACA JUGA: Target 10 Ton Ekspor Kopi Robusta Jember ke Jepang
“Dulu itu sampai antre. Sekarang sepi, paling satu-dua orang aja yang datang. Kadang sehari nggak ada yang beli,” ucapnya sambil tersenyum pahit.
Dengan sisa libur sekolah sekitar satu minggu lagi, Rudi belum bisa memastikan apakah situasi akan berubah. Ia hanya berharap, pasar tradisional tetap memiliki tempat di hati masyarakat.
“Kami ini dagang dari generasi ke generasi. Harapannya, pasar nggak ditinggalkan. Karena belanja langsung itu ada rasa, ada interaksi, bukan cuma klik dan kirim,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Mochamad Abdurrochim
Editor: Darmadi Sasongko







