JEMBER, Tugujatim.id – Banjir bandang Jember yang melanda Desa Pakis Kecamatan Panti pada Senin (2/2/2026) malam lalu menyisakan trauma mendalam bagi warga.
Yulianti, salah seorang korban banjir bandang mengungkapkan harapannya agar pemerintah segera mengembalikan aliran sungai ke jalur semula untuk mencegah bencana serupa terulang kembali.
Kronologi Banjir Bandang
Yulianti menuturkan, kejadian bermula menjelang waktu Isya. Sebelum kejadian, dirinya sempat mendapat kabar dari saudara yang tinggal di daerah Pakis, hulu sungai, bahwa telah terjadi banjir. Namun saat itu, kondisi air di belakang rumahnya masih terlihat kecil.
“Pas isya, mau salat isya, dapat telepon lagi dari atas. Kalau ada banjir, katanya besar, banyak kayu. Saya masih salat isya dulu. Ternyata pas lihat ke belakang sudah besar, tapi masih belum ke sini (rumah korban, Red), tutur Yulianti pada Rabu (4/2/2026).

Dalam hitungan 10 menit, air sudah mulai masuk ke rumahnya. Karena mendapat kabar banyak kayu besar hanyut terbawa arus, Yulianti dan keluarganya tidak berani melihat ke belakang rumah. Mereka segera menyelamatkan barang-barang penting yang bisa dibawa.
Situasi semakin genting sekitar pukul 19.00 WIB ketika salah satu rumah di dekat tempat tinggalnya roboh. Melihat kondisi tersebut, Yulianti dan warga sekitar langsung mengungsi, menumpang di rumah saudara. Ketinggian air yang masuk ke rumahnya mencapai sebetis orang dewasa.
Trauma Masih Membekas
Pengalaman mengerikan itu meninggalkan trauma mendalam bagi Yulianti. Hingga kini, dirinya masih merasa takut berada di rumah sendiri, terutama pada malam hari. Kondisi air sungai yang masih deras dan berwarna kecokelatan, berbeda dari biasanya yang jernih, membuat kekhawatirannya semakin besar akan adanya banjir susulan.
“Takut sampai sekarang kayak trauma. Mau ada di rumah kalau malam takut. Karena lihat kondisi air masih deras dan hitam. Biasanya itu kan putih. Kalau putih sudah agak takut. Ini kecokelatan, takutnya ada banjir susulan,” ungkap kekhawatiran Yulianti.
Setidaknya, Yulianti sudah mengungsi selama dua hari bersama anggota keluarganya yang berjumlah tiga orang. Saking tidak betahnya, dia mengaku tidak bisa tidur sama sekali selama berada di pengungsian, meski menumpang di rumah saudara sendiri.
Warga Berharap Sungai Dikembalikan ke Jalur Asli
Yulianti menyampaikan harapan yang juga menjadi keinginan banyak warga terdampak. Menurutnya, sungai yang saat ini mengalir di sebelah timur perlu dikembalikan ke jalur semula di sebelah barat.
Perubahan aliran sungai ini terjadi sejak banjir bandang tahun 2022 lalu.
“Harapannya, penginnya warga semua, bukan cuma saya, sungai pindah lagi ke tempatnya yang semula. Karena sungai ini asalnya kan ada di barat. Ini banjir bandang yang 2022 yang pas ke timur. Harapannya semoga pemerintah bisa mengabulkan keinginan kami semua,” harap Yulianti.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan relokasi pemukiman warga yang berada di bantaran sungai, Yulianti dengan tegas menyatakan keberatannya. Baginya, tanah tempat tinggalnya saat ini adalah tanah kelahiran yang memiliki ikatan emosional sangat kuat.
Yulianti berharap pemerintah dapat memindahkan aliran sungai dan memperbaiki area di belakang rumahnya. Menurutnya, jika kedua hal tersebut bisa terwujud, hati seluruh warga akan kembali tenang dan bisa tidur nyenyak tanpa rasa takut akan bencana serupa.
Dampak Luas Banjir Bandang
Banjir bandang kali ini tidak hanya berdampak pada Yulianti dan keluarganya. Di sekitar tempat tinggalnya, terdapat empat kepala keluarga (KK) yang mengungsi, termasuk puluhan KK lainnya.
Bencana banjir bandang di Kecamatan Panti ini menjadi pengingat akan pentingnya penanganan infrastruktur sungai dan sistem peringatan dini bencana.
Harapan warga untuk pengembalian aliran sungai ke jalur asli menunjukkan bahwa solusi jangka panjang sangat dibutuhkan untuk mencegah kerugian material dan korban jiwa di masa mendatang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Diki Febrianto
Editor: Darmadi Sasongko








