Pasca Lebaran, Harga Bumbu Dapur di Kota Malang Tak Kunjung Turun Akibat Cuaca Ekstrem - Tugujatim.id

Pasca Lebaran, Harga Bumbu Dapur di Kota Malang Tak Kunjung Turun Akibat Cuaca Ekstrem

  • Bagikan
Bumbu dapur. (Foto: Nurukhfi Mega/Tugu Jatim)
Salah seorang pedagang di Pasar Besar Kota Malang, Senin (20/06/2022). (Foto: Nurukhfi Mega/Tugu Jatim)

MALANG, Tugujatim.id – Pasca Lebaran Idul Fitri 2022, lapak pedagang Pasar Besar Kota Malang terlihat sepi pembeli pada Senin (20/06/2022). Hal itu terjadi karena masih melambungnya harga komoditas bumbu dapur seperti cabai, bawang merah, dan bawang bombay.

Agus, pedagang Pasar Besar Kota Malang, mengatakan, kenaikan harga bumbu dapur ini berlangsung hingga pasca Lebaran. Untuk cabai rawit yang sebelumnya berkisar Rp40 ribu per kilo, kini naik jadi Rp90 ribu-Rp95 ribu. Harga cabai merah besar mencapai Rp75 ribu, cabai lalap hijau Rp80 ribu, bawang merah Rp55 ribu, dan bawang merah kupas Rp60 ribu.

Bumbu dapur. (Foto: Nurukhfi Mega/Tugu Jatim)
Komoditas cabai di Pasar Besar Kota Malang, Senin (20/06/2022). (Foto: Nurukhfi Mega/Tugu Jatim)

Dia melanjutkan, satu-satunya komoditas yang tidak naik hanya bawang putih, dibanderol Rp30 ribu per kg. Sedangkan bawang bombay kebanyakan diimpor dari luar negeri seperti dari Tiongkok dan Washington.

“Pendapatan agak berkurang sudah pastinya saat ini. Karena pelanggan yang membeli mengurangi jumlah bahan-bahan yang dibeli saking mahalnya. Kayak warung-warung yang biasanya beli satu kilo, dikurangi menjadi setengah kilo. Mungkin karena harganya terlalu mahal,” keluh Agus ketika ditanya soal dampak kenaikan harga ini pada Senin (20/06/2022).

Bumbu dapur. (Foto: Nurukhfi Mega/Tugu Jatim)
Komoditas bawang merah saat ini cukup langka karena musim hujan. (Foto: Nurukhfi Mega/Tugu Jatim)

Pedagang berumur 48 tahun itu juga mengatakan, naiknya bahan-bahan ini adalah imbas dari musim hujan yang ekstrem dan kelangkaan produk. Saat musim hujan lebat, dia menambahkan, tanaman memang menjadi mudah layu karena air yang berlebihan dapat mempersulit penyerapan akar.

Hal ini memengaruhi panen dan hasil dari produksi yang membuat ukuran dari bumbu dapur cenderung kecil. Daerah-daerah seperti Nganjuk, Lumajang, Brebes, dan Probolinggo dipercaya memproduksi rempah berkualitas, tapi karena cuaca tetap saja terdampak.

“Harapan saya, semoga semua harga bahan-bahan ini bisa kembali normal lagi. Sekarang hampir semua sedang naik-naiknya, apalagi harga minyak. Saya harap semua bisa turun dan kembali seperti semula,” tutur Agus.

 

 


Terima kasih sudah membaca artikel kami. Ikuti media sosial kami yakni Instagram @tugujatim , Facebook Tugu Jatim
Youtube Tugu Jatim ID , dan Twitter @tugujatim

 

 

  • Bagikan