TUBAN, Tugujatim.id – Banjir yang rutin menerjang wilayah selatan Kabupaten Tuban segera medapatkan penanganan. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tuban mengalokasikan anggaran khusus banjir luapan Bengawan Solo melalui Perubahan APBD (P-APBD) 2025.
Langkah ini disampaikan langsung oleh Bupati Tuban, Aditya Halindra Faridzky, saat memimpin rapat koordinasi di Kantor Kecamatan Plumpang pada Senin (19/5/2025). Rapat dihadiri jajaran OPD, Wakil Bupati Joko Sarwono, Sekda Tuban, hingga camat dari empat kecamatan terdampak yakni Plumpang, Widang, Rengel, dan Soko.
Pemkab Tuban akan mengalokasikan anggaran khusus dalam P-APBD 2025. Dana tersebut akan difokuskan pada peningkatan infrastruktur penahan banjir dan normalisasi sungai di wilayah rawan.
“Ini bukan penanganan sesaat. Kita siapkan strategi yang bisa bertahan jangka panjang,” kata Mas Lindra.
Gandeng BBWS Bengawan Solo dan Perum Perhutani
Pemkab juga menggandeng Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo dan Perum Perhutani untuk sinergi lintas sektor. Tak hanya itu, program penghijauan di dataran tinggi juga mulai digenjot agar bisa memperlambat aliran air ke wilayah hilir saat musim hujan.
“Banjir itu urusan bersama, bukan hanya pemerintah. Kita butuh peran semua pihak untuk menjaga lingkungan,” tegasnya.
Banjir mulai terjadi sejak Sabtu malam (17/05/2025), akibat meningkatnya debit air Bengawan Solo. Menurut laporan BPBD Tuban, genangan air menyebar cepat ke desa-desa, membanjiri lahan pertanian hingga fasilitas pendidikan.
Di Kecamatan Rengel, sekitar 1.477 hektare sawah tergenang air dengan ketinggian 30–70 cm. Beberapa sekolah, seperti SDN 2 Tambakrejo dan TPQ Al Falah, juga ikut terendam. Meskipun rumah warga masih relatif aman, akses jalan di beberapa desa terputus sementara.
Kondisi serupa terjadi di Kecamatan Soko. Lahan pertanian di delapan desa tergenang air, bahkan di Desa Kenongosari, jalan utama sepanjang 30 meter digenangi air hingga setinggi 50 cm.
BACA JUGA: Petani Tuban Gagal Panen Dampak Banjir di Musim Kemarau
Di Kecamatan Widang, tiga desa terdampak. Tercatat, lima rumah warga terendam, dan perkebunan jagung seluas 10 hektare ikut tergenang. Sementara itu, di Kecamatan Plumpang, air menggenangi fasilitas umum seperti MTS Islamiyah dan TK Mardi Wiyata 03, serta persawahan lebih dari 100 hektare.
Menanggapi situasi ini, Bupati Tuban menegaskan pentingnya gerak cepat. Salah satu solusi jangka pendek adalah mengoptimalkan fungsi Waduk Jabung di Widang untuk menampung limpahan air Bengawan Solo.
“Air harus segera dialihkan agar tidak membanjiri pemukiman dan lahan pertanian warga,” ujar Bupati yang akrab disapa Mas Lindra.
Selain itu, pengerukan sedimen sungai juga menjadi fokus agar aliran air lancar dan tidak meluap saat debit meningkat. Program revitalisasi ini diharapkan bisa menjadi solusi permanen dalam mengendalikan banjir tahunan.
Di lapangan, tim BPBD Tuban terus melakukan pendataan dan pemantauan di desa-desa sepanjang bantaran Bengawan Solo. Mereka dibantu aparat kecamatan dan perangkat desa untuk memastikan data terdampak akurat dan bantuan bisa disalurkan tepat sasaran.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Mochamad Abdurrochim
Editor: Darmadi Sasongko







