SURABAYA, Tugujatim.id – Lima tahun berlalu, tak ada sedikit pun memori ingatan peristiwa 13 Mei 2018 yang hilang begitu saja. Yesaya Bayang dan Fenny Suryawati, dua penyintas bom Surabaya mulai bangkit dari bayang-bayang ketakutan sejak bom itu meledak beberapa meter dari mereka.
Sekitar pukul 7.53 WIB, duduk di teras Gereja Pentakosta Pusat Surabaya selepas ibadah menjadi rutinitasnya setiap sebelum pulang. Ia hanya sekadar santai untuk menunggu buah hatinya selesai sekolah minggu.
Satu mobil dengan kecepatan tinggi tiba-tiba masuk ke halaman gereja. Keinginan pulang ke rumah dengan segera ternyata menjadi angin berlalu. Di dekatnya, hanya berjarak 5 meter, sebuah bom meledak begitu dahsyat di hadapannya sendiri.
“Waktu itu saya di teras dan mau pulang. Tiba-tiba ada mobil masuk kecepatan tinggi setelah itu meledak. Waktu jtu ada niatan mau lari tapi nggak sempat,” kata Fenny, pada Sabtu (13/5/2023).
Tak butuh waktu lama, kulit putihnya mendadak berubah menjadi luka bakar yang menyebar 85 persen dj seluruh tubuhnya. Beruntung, ia masih diberi napas oleh Tuhan.
“Luka bakar 85 persen. Pada saat kejadian bukan hanya saya yang ada di area teras. Itu ada beberapa rekan lain dan semuanya meninggal namun yang bertahan hidup hanya saya. Posisi saya dengan mobil kurang lebih 5 meter. Jadi kena serpihan bom, kena mata, hampir paru-paru,” imbuhnya.
Sudah tak terhitung berapa kali ia masuk ruang operasi, namun selama tiga bulan lamanya, Fenny hanya mampu berbaring di rumah sakit. Kulitnya yang halus menjadi bertekstur dan keriput bekas terbakar. Luka itu kini menjadi saksi tindakan ideologi kekerasan yang mampu membangkitkan semangat pulih bagi seluruh penyintas.

“Pasca kejadian itu, di mana saya menjadi korban dan ada cacat ini yang membuat orang sekeliling saya menjadi trauma. Saya orangnya gak mau berlarut-larut. Yang trauma justru suami saya, sampai sekarang dia takut untuk ke gereja,” bebernya.
Baginya, tak ada kebencian yang harus dirawat. Ia justru mendukung kegiatan yang digelar oleh sejumlah komunitas lintas iman karena menjadi satu langkah kecil untuk menyuarakan toleransi agar ke depan tidak terulang tragedi serupa.
Menurutnya, memori 13 Mei 2018 yang mengubah hampir seluruh sisi hidupnya wajib untuk diingat. “Perlu diingat, karena kita bisa melakukan gerakan-gerakan kecil seperti ini. Kalau kita melupakan, kita akan berada di zona nyaman dan nggak bisa waspada,” ucapnya.
Lain hal dengan Fenny, Yesaya Bayang yang saat itu bekerja sebagai pengamanan di GKI Dipo, justru memilih untuk melupakan. “Ngapain balik lagi ke belakang, kita lihat saja ke depan,” katanya saat mengawali obrolan bersama tugujatim.id, pada Sabtu (13/5/2023) malam.
Namun, tak gentar ia kembali menceritakan bagaimana bom itu meledak tak kurang satu meter dari arahnya. Kejadian dalam hitungan detik yang mengubah hampir sebagian besar anggota tubuhnya dan pandangannya dalam melihat perempuan bercadar.
“Kita harus menerima keadaan dan harus bangkit. Kalau ingat terus nanti terpuruk terus.
Kalau trauma sudah enggak, tapi kalau melihat bercadar bukan takut tapi menghindar, lebih sensitif. Kalau berhijab biasa nggak masalah,” ucapnya.
Ya, 13 Mei 2018 pagi kala ia berjaga di depan gerbang, tiba-tiba melihat seorang ibu dengan penampilan tertutup, hanya matanya saja yang terlihat sedang menggandeng dua anak di samping kanan kirinya. Tiga orang dengan gelagat aneh berjalan ke arah gereja dengan sedikit tergesa-gesa.
“Saya posisi di luar, saya lihat mereka (ibu dan dua anak) berjalan dari arah sana (timur) ke sini (gereja). Saya mau beritahu teman di pos, kalau mereka jalan mencurigakan. Lalu di depan pintu pos ini berpapasan mereka lewat saya, masih jalan. Hati saya nggak enak,” katanya.
Menjadi seorang ayah, ia tahu betul bagaimana sorot mata kedua bocah perempuan yang berada di samping ibunya itu. Seakan-akan ingin mengatakan minta tolong tapi tak mampu berucap.
“Pas saya berpapasan, saya dan anak kecilnya bertatapan. Saya lihat, wajahnya sampai sekarang nggak bisa saya lupakan. Wajahnya seolah-olah ada ketakutan, minta tolong. Saya merasa gitu karena saya juga punya anak. Kalau dalam kondisi takut kita bisa tahu,” imbuhnya.
Berbeda dengan sekarang yang sebagian gerbang ditutup, pada 2018 seluruh pintu terbuka lebar dan memudahkan akses masuk keluar.
Tanpa menghiraukan teguran Yesaya, perempuan itu tampak tergesa memaksa masuk ke halaman gereja. Memasuki tengah halaman, ibu tersebut segera menarik tangan kedua putrinya.
“Saya mau pegang bahu si ibu, belum sampai menyentuh dia langsung takbir (Allahhu Akbar) dan terjadi ledakan. Saya sempat dengar bunyi petasan tes-tes tapi dorongannya luar biasa, dan saya mental seperti dilempar ke belakang kira-kira 5 meter,” lanjutnya.
Dengan logat khasnya, Yesaya mencoba memperagakan bagaimana saat itu seketika bibir dan hidungnya menempel dengan penuh darah. Hampir sebagian besar anggota tubuhnya berubah bentuk. Pahanya yang sudah kehilangan sedikit tulang membuatnya cacat permanen. Tak bisa berlari, untuk sekadar jalan Yesaya harus berjalan pelan dan sedikit pincang.

“Saya merasa bibir dan hidung menyatu, kaki gak bisa gerak, tapi saya masih sadar, saya merangkak ke aspal dan dengar ledakan kedua habis itu saya nggak tahu apa-apa,” kenangnya.
Luka-luka itu akibat terkena serpihan bahan peledak bom yang masuk ke dalam beberapa bagian tubuhnya. Memakan lebih dari satu tahun untuk melakukan pengobatan secara continue. Sudah puluhan kali operasi yang ia jalani, satu tahun hidupnya hanya digunakan untuk istirahat dan berbaring.
Dengan sedikit senyum, ia mengungkapkan rasa syukur. Pasalnya, tak ada seperpun ia harus membayar seluruh pengobatan.
“Dulu wali kota, gubernur, presiden semuanya bilang nanti yang tanggung mereka tapi saya merasakannya tidak karena saya antri BPJS, namun kurang tahu lagi. Saya senang ketika semuanya dibiayai oleh BNPT dan LPSK, sehingga saya dapat pelayanan medis yang ekslusif,” pungkasnya.








