SURABAYA, Tugujatim.id – Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) memang sudah berkumandang ke seluruh pelosok nusantara sejak 78 tahun lalu. Namun, bagi warga Tambak Bayan Tengah, Surabaya, Jawa Timur, kemerdekaan itu belum ada jika masih banyak masyarakat yang belum terpenuhi haknya.
“Kita masih mengejar kemerdekaan, jujur,” kata Tokoh Masyarakat Tambak Bayan, Suseno Karja, pada Sabtu (19/8/2023).
Ia dan warga lainnya tinggal tak jauh dari kawasan kota tuanya Surabaya, satu wilayah yang disebut Tambak Bayan Tengah, Alun-alun Contong, Kecamatan Bubutan, Surabaya. Berdiri puluhan rumah yang tak atas batasnya, jalanan yang cukup hanya untuk satu orang, tapi kerukunan warganya patut diacungi jempol.

Sudah 12 tahun, sejak 2011, warga Tambak Bayan berjuang atas hak hidup di lahan sengketa dengan hotel swasta yang juga berada di lingkungan itu.
Bayang-bayang penggusuran terus tercium beberapa kali. Terakhir kali 2022, namun hingga kini nyatanya wilayah itu masih berdiri menghidupi mimpi-mimpi penghuninya. “Kemerdekaan kita merdeka tak lepas dari kita bebas hidup di mana. Kasus Tambak Bayan ini belum selesai sampai sekarang. Berarti Indonesia belum merdeka. Dan, kemarin 2022 ada isu ekseskusi,” ucapnya.
Baginya, sudah tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Selain menggantungkan harapan pada lampion yang terpasang di bagian tengah bangunan Istal Kuda.

“Sudah tidak ada yang perlu dikhawatirkan, kita pasrahkan Yang Di Atas. Seperti lampion yang di ruangan tengah. Apa yang perlu dikhawatirkan? Hidup ini sudah susah. Apa perlu dieksekusi lagi? Kita jalani aja semua prosesnya,” ucap pria yang akrab disapa Om Seno itu.
Berbagai gerakan menjadi perjuangan. Membangun ruang kolektif dengan kelompok seniman dan aktivis mampu membangkitkan semangat dan mengembalikan senyum warga. Sudah banyak kegiatan yang digelar setiap minggunya. Mulai dari diskusi, nonton film, pameran, sampai workshop.
Perjuangan itu tak akan ada habisnya hingga kata merdeka, hingga persoalan eksekusi lahan bebas dari genggaman. “Kita harus tetap berjuang untuk memperoleh hak hidup yang lebih baik,” pungkasnya.

Reporter: Izzatun Najibah
Editor: Lizya Kristanti








