Perkembangan Digital Pesat, Para Lansia di Jepang Mengeluh

  • Bagikan
Ilustrasi lansia di Jepang yang mengikuti perkembangan digital. (Foto: Fahra Auliani Rahmah/Tugu Jatim)
Ilustrasi lansia di Jepang yang mengikuti perkembangan digital. (Foto: Fahra Auliani Rahmah/Tugu Jatim)

MALANG, Tugujatim.id – Zaman memang sudah berubah, dunia digital pun semakin pesat berkembang. Apalagi saat dunia dilanda pandemi Covid-19, banyak kegiatan dilakukan serba secara virtual, online, atau daring. Lalu, apakah semua orang bisa mengikuti perkembangan dunia digital ini?

Memang akibat pandemi Covid-19 yang hampir 2 tahun melanda dunia, banyak mengubah rutinitas masyarakat. Hampir semua kegiatan dibatasi sehingga diharapkan mereka memakai teknologi digital untuk melakukan aktivitas melalui virtual saja. Namun, ternyata hal itu menimbulkan masalah. Salah satunya terjadi di negara Jepang.

Di Jepang, para lansia pun kesusahan mengoperasikan gawai maupun laptop. Sebagai negara yang memiliki pertumbuhan teknologi yang sangat pesat, tentu akan sangat membantu memudahkan segala kegiatan secara digital. Tapi ternyata, perkembangan yang cepat tersebut membuat para lansia kesulitan mengikuti perkembangan teknologi digital.

Melansir dari Asahi Shinbun, masih banyak lansia di Jepang yang belum terlalu mengerti tentang perkembangan internet dan penggunaan gawai. Jangan sampai mereka tertinggal akibat percepatan teknologi ya. Sebab, bagaimanapun juga para lansia memerlukan akses untuk menunjang kesehariannya, bahkan untuk melaksanakan vaksinasi.

“Berawal saat menggunakan komputer pribadi, saya menyukai hal-hal baru. Saya juga banyak mendapatkan pengaruh positif dari cerita teman-teman penulis fiksi ilmiah yang menyukai komputer. Saya berusia 90 tahun, meski sering menggunakan komputer untuk menulis karya, tetap saja banyak hal yang membingungkan buat saya,” ujar Masaki Tsuji, penulis naskah animasi.

Masaki juga menambahkan, ketika kali pertama menggunakan perangkat komputer pada 1980-an, papan tombol yang digunakan pada saat itu disebut “thumb shift”, huruf yang diketik sama seperti huruf yang dibaca di Jepang, juga jumlah tombolnya cenderung sedikit. Dia melanjutkan, kemudian muncul perangkat yang menggunakan Microsoft di Jepang. Papan tombolnya menggunakan huruf romaji. Dengan adanya perubahan ini, membuat waktu mengetik jadi lebih lama. Karena kunci pada papan tombol lebih banyak dan tidak terbiasa dengan perubahan.

Rupanya produk baru yang berkembang dalam waktu singkat merupakan sebuah masalah. Ketika para lansia terbiasa menggunakan salah satu model perangkat, kemudian harus menggunakan model yang terbaru, mereka memerlukan waktu yang sangat lama untuk terampil. Berbeda dengan para anak muda yang sangat cepat dalam menguasai penggunaan perangkat teknologi digital, bahkan yang terbaru sekalipun.

Selain itu, banyak para lansia yang kesulitan melihat layar gawai karena penurunan penglihatan yang mereka alami. Mereka terkadang harus mengatur ukuran huruf menjadi lebih besar. Jari-jari tangan juga tidak lincah saat mengetik.

“Apakah para pembuat perangkat harus mulai memikirkan agar memudahkan para lansia untuk menggunakan perangkat teknologi?” ujarnya.

Wow, sepertinya persoalan perkembangan digital di Jepang ini menarik untuk para anak muda mempermudah para lansia menggunakan produk digital ya. Lalu, apakah Anda tertantang menciptakan teknologi digital yang ramah terhadap para lansia?

 

  • Bagikan