Persiapan Sekolah Tatap Muka, Pemkot Surabaya Kebut Vaksinasi Guru pada Mei-Juni 2021 - Tugujatim.id

Persiapan Sekolah Tatap Muka, Pemkot Surabaya Kebut Vaksinasi Guru pada Mei-Juni 2021

  • Bagikan
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi saat diwawancara pewarta di Kantor PWI Jatim, Rabu (31/3/2021). (Foto: Rangga Aji/Tugu Jatim)
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi saat diwawancara pewarta di Kantor PWI Jatim, Rabu (31/3/2021). (Foto: Rangga Aji/Tugu Jatim)

SURABAYA, Tugujatim.id – Dalam upaya persiapan sekolah tatap muka yang bakal digelar pada Juli 2021, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi bakal melakukan giat vaksinasi pada guru sekolah sepanjang Mei-Juni 2021. Sebagai salah satu syarat untuk membuka sekolah tatap muka, semua guru harus telah divaksin Covid-19.

“Karena dulu, vaksin ada yang 14 hari, ternyata kalau sekarang vaksin bisa lebih bagus kalau sampai 2 bulan kan imunnya naik, sehingga jatuhnya pada bulan Mei 2021 dan Juni 2021 (vaksinasi guru, red),” terangnya, Jumat (28/07/2021).

Selain itu, Eri juga ingin mengetahui dan meminta data sekolah terkait guru-guru yang telah divaksin tahap pertama dan kedua, sehingga Eri dapat memastikan bahwa sekolah tatap muka sudah siap dijalankan di Kota Surabaya.

“Kalau Juni 2021 dan Mei 2021 masih nututi karena tatap mukanya Juli 2021. Saya minta data sekolah guru yang vaksin pertamanya kapan dan keduanya kapan kita harus siapkan, sehingga ketika tatap muka sudah siap,” sambungnya.

Terkait kebijakan soal pembatasan siswa yang masuk sekolah tatap muka, Eri menyarankan setidaknya ada 25 persen siswa yang masuk dan disetting setiap hari. Sehingga jumlah siswa yang datang ke sekolah tidak menumpuk dan banyak.

“Kalau masuk tiap hari, ada yang menyampaikan kalau masuknya seminggu tiga kali tapi jumlahnya banyak, saya bilang ‘ojok ngunu mendingan masuknya tiap hari, tapi jumlah kelasnya 25 persen’, kalau satu kelas ada 7 siswa berarti dikalikan 11 (per angkatan, red) jadi 77 siswa,” jelasnya.

“Lalu 77 kalau ada kelas 1, 2, 3 tak kalikan 3 berarti sekitar ada 230 siswa. Bisa jadi, setiap satu orang masuknya bisa empat hari lagi. Tapi kalau tiga hari sekali jumlahnya diperbanyak remek lakan. Seng metu gak 200 siswa maneh isok 300-400 siswa,” bebernya.

Di sisi lain, Eri menegaskan bahwa apabila kebijakan masuk sekolah tidak diterapkan dalam tempo setiap hari, lebih baik tidak perlu melakukan pembelajaran daring. Jadi, perlu semacam simulasi untuk menentukan memakai sistem belajar offline saja atau offline dan online.

“Kalau tidak mampu dibuka setiap hari, tidak usah dibuka melakukan sistem daring, tadi sudah saya sampaikan harus disimulasikan. Kalau belum mendapat asemen dari Pemkot Surabaya dan simulasi tidak lulus mending gak usah buka,” pungkasnya.

  • Bagikan