Tugujatim.id – Saya, Mulyono, mitra Tugu Media Group yang juga pensiunan PT Pegadaian, tengah melaksanakan ibadah Umrah Plus bersama biro perjalanan Satriani Wisata melalui program Umrah Plus Masjid Al Aqsha. Sebelum tiba di Tanah Suci, saya dan rombongan lebih dulu menapaki sejumlah tempat bersejarah di kawasan Timur Tengah.
Sebelumnya, perjalanan kami dimulai dengan transit di Oman, lalu berlanjut ke Amman, ibu kota Kerajaan Hashemite Yordania. Di kota ini, kami menginap di Hotel Arena Space, hotel berbintang empat yang nyaman dan strategis di pusat kota. Dari sinilah perjalanan menyusuri jejak para nabi dimulai, tak terasa sudah hari ketiga.
Hari Ketiga: Menuju Kota Petra, Peradaban Tua di Tengah Pegunungan Batu
Hari ketiga dimulai sejak Subuh waktu Yordania, sekitar pukul 04.10. Seusai salat berjamaah di masjid dekat hotel, saya dan rombongan bersiap untuk memulai hari. Pukul 06.00 sarapan pagi disajikan. Kami menyantap, bersiap, dan satu jam kemudian, pukul 07.00, rombongan berangkat menuju Kota Petra, kota kuno peninggalan bangsa Nabath yang dikenal sebagai salah satu keajaiban dunia.
Jarak dari Amman ke Petra sekitar 235 kilometer. Rombongan kami yang berjumlah 19 orang. Dipandu tour leader dari Indonesia, didampingi guide lokal bernama Hasbi, dan koordinator dari pihak Yordania, Bashar.
Di tengah perjalanan, rombongan berhenti sejenak di sebuah karavansarai atau rest area milik seorang warga lokal bernama Bapak Hasyim.

Sambil menikmati secangkir teh dan kopi hangat, kami disambut ramah. Kami berbelanja. Pun, tak menyangka jika kami masih diberi hadiah berupa sorban. Suasana santai dan hangat ini menjadi momen istirahat yang menyenangkan sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
Alhamdulillah, dalam 4,5 jam perjalanan yang kami tempuh dari Amman ke Yordania, termasuk di rest area. Saya dan teman-teman amat sangat bersyukur bisa menapakkan kaki di tanah para nabi.
Kami turut melintasi wilayah yang dahulu pernah dilewati oleh Nabi Musa AS, termasuk lereng bukit yang diyakini sebagai jalur beliau menuju Tanah Suci. Seolah melewati lereng dan bukit yang sunyi, namun terasa hidup oleh sejarah.
Setibanya di Petra, mata kami langsung disambut pemandangan megah. Nampak bebatuan merah yang diukir menjadi bangunan dan makam. Kota ini dulunya pusat perdagangan yang sangat maju, mencerminkan betapa tinggi peradaban bangsa Nabath kala itu. Sistem irigasi dan arsitekturnya bahkan masih mengundang kekaguman hingga hari ini.
Fakta tentang Kota Petra
Petra adalah salah satu kota kuno yang berada di Yordania. Kota kuno ini menyimpan sejarah dan arkeologi yang menarik. Adapun sejarah kota kuno Petra ini diperkirakan telah berlangsung sejak 400 SM sampai 106 Masehi.
Kota kuno tersebut kini telah ditinggalkan, tetapi sebelumnya berkembang sebagai pusat perdagangan. Di samping itu, Kota Petra juga menjadi ibu kota Kerajaan Nabath atau Suku Nabatean.

Zein, dalam bukunya Islam di Yordania, Maroko dan Spanyol menyebut bahwa Kota Petra dibangun oleh Suku Nabatean dan mempunyai sistem pengairan yang rumit.
Masyarakat Nabatean telah hidup di Petra sejak 312 Masehi, jauh sebelum berdirinya Kekaisaran Romawi. Kerajaan ini mengendalikan jalur perdagangan kuno dari Tepi Barat ke arah Yordania, menuju perbatasan Semenanjung Arab di utara.
Saat itu, kehidupan Suku Nabatean pun tergolong sangat maju. Mereka mempunyai teknologi transportasi yang memadai serta sistem irigasi rumit. Bahkan, sistem irigasi tersebut masih berfungsi dengan baik sampai sekarang.
Adapun beberapa fakta menarik kota kuno Petra adalah:
1. Memiliki Pengairan dan Pertahanan yang Ideal
Salah satu fakta menarik kota kuno Petra adalah mempunyai sistem pengairan dan pertahanan yang tergolong ideal. Hal ini karena kota kuno tersebut mempunyai lokasi tersembunyi, sehingga bisa dikunjungi melalui kanyon atau celah kecil di pegunungan.
Selain itu, Suku Nabatean sebagai penghuni Petra membangun tunnel guna menampung aliran air agar bisa mencegah banjir. Aliran air tersebut akhirnya dimanfaatkan sebagai pengairan.
2. Memiliki The Treasury sebagai Ikon Terkenal
Fakta menarik kota kuno Petra berikutnya adalah mempnyai The Treasury sebagai ikon kota yang terkenal. The Treasury dalam bahasa Arab disebut dengan Al-Khazneh
Bangunan arsitektur kuno ini mempunyai warna cantik. Oleh sebab itu, penemunya, Johann Ludwid Burckhardt memberinya julukan sebagai a red rose city. Hal itu karena The Treasury mempunyai warna red rose.
3. Memiliki Ruang Publik sebagai Kompleks Perkotaan
Fakta menarik kota kuno Petra selanjutnya adalah mempunyai ruang publik yang dijadikan sebagai kompleks perkotaan. Pasalnya, di Petra terdapat taman, teater, hingga makam raja, selayaknya suatu kota.
Bahkan, beberapa ruang publik juga dapat digunakan sebagai tempat rapat besar yang bisa menampung masyarakat luas. (Bersambung)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Pengalaman Perjalanan Ditulis oleh Mulyono, Mitra Tugu Media Group, Pensiunan PT Pegadaian
Editor: Dwi Lindawati








