ProPS Google Partner Patahkan Mitos Produksi 90 Artikel dalam Sehari untuk Naikkan Peringkat Google

  • Bagikan
ProPS Google Partner Ilona Juwita sedang menyampaikan materi terkait kiat menulis berita online yang ramah mesin pencari Google. (Foto: Rizal/Tugu Jatim)
ProPS Google Partner Ilona Juwita sedang menyampaikan materi terkait kiat menulis berita online yang ramah mesin pencari Google. (Foto: Rizal/Tugu Jatim)

MALANG, Tugujatim.id – Fellowship Jurnalisme Pendidikan Batch 2 yang digagas oleh Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP) dan PT Paragon Technology and Innovation kali ini mendatangkan ProPS Google Partner Ilona Juwita sebagai pemateri untuk menjelaskan kiat menulis berita online yang ramah mesin pencari internet.

Dalam kesempatan tersebut, Ilona juga menjawab pertanyaan dari CEO Tugu Media Irham Thoriq terkait apakah mitos untuk meningkatkan peringkat di mesin pencarian Google adalah dengan memproduksi 90 artikel dalam sehari.

“Secara logika, jika kita memproduksi berita dengan kuantitas yang berlebih dan kualitasnya baik sesuai aturan SEO, pasti itu akan menjadi indikator utama bagaimana konten kita mendapatkan peringkat yang lebih tinggi. Tapi, saat kita melihat konten yang hardnews sama evergreen, tidak mungkin memproduksi 90 konten evergreen dalam sehari karena perlu riset hingga analisis yang tidak akan semudah membuat konten lainnya,” jawabnya di depan para audiens melalui aplikasi Zoom Meeting pada Kamis (01/07/2021).

CEO Tugu Media Group Irham Thoriq dan audiens dalam Fellowship Jurnalisme Pendidikan Batch 2 pada Kamis (01/07/2021). (Foto: Rizal/Tugu Jatim)
CEO Tugu Media Group Irham Thoriq dan audiens dalam Fellowship Jurnalisme Pendidikan Batch 2 pada Kamis (01/07/2021). (Foto: Rizal/Tugu Jatim)

Ilona menjelaskan, ketika Desember 2020, Google mengubah algoritmanya, banyak media yang terdampak sehingga traffic-nya menurun.

“Lalu kenapa media-media ini traffic-nya turun? Ini praktis karena mereka tidak memproduksi konten-konten berkualitas,” bebernya.

“Kualitas ini didasarkan pada relevansi, jadi kalau memproduksi konten yang sifatnya gado-gado, misalnya websitenya memiliki fokus di konten teknologi tapi ada juga konten soal resep makanan atau fashion untuk mengincar trending. Karena Google melihat salah satu tolok ukur adalah relevansi, maka website yang sifatnya gado-gado itu pasti kena dampak ketika adanya perubahan algoritma,” sambungnya.

Selain itu, Ilona juga menjawab dari sudut pandang dari forum-forum SEO untuk menyiasati perubahan algoritma Google.

Wartawan Senior sekaligus Asesor Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Nurcholis MA Basyari dalam Fellowship Jurnalisme Pendidikan Batch 2 bersama para peserta Zoom Meeting. (Foto: Rizal/Tugu Jatim)
Wartawan Senior sekaligus Asesor Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Nurcholis MA Basyari dalam Fellowship Jurnalisme Pendidikan Batch 2 bersama para peserta Zoom Meeting. (Foto: Rizal/Tugu Jatim)

“Lalu ketika forum SEO digali lebih lanjut untuk menyiasati algoritma Google, akhirnya dikembalikan ke praktik-praktik umumnya. Tetap yang harus diproduksi adalah konten berkualitas yang memiliki relevansi yang tinggi antar satu konten dengan lainnya. Tapi, tidak menutup kemungkinan elemen-elemen yang lain harus kami perhatikan seperti backlink dan internal linking, asalkan kita melakukan ini didasari dengan kualitas situs yang akan dikerjasamakan,” tandasnya.

“Kalau kita backlink dengan situs-situs yang ajaib itu bisa jadi mendorong nilai peringkat menjadi lebih jelek lagi,” tambahnya.

Terakhir, Ilona menyarankan agar media-media membuat konten yang berkualitas, tapi dengan kuantitas yang banyak.

“Jadi, tidak ada jumlah pasti berapa produksi artikel yang harus dilakukan, tapi pastikan konten yang dibuat adalah konten yang berkualitas. Lebih baik lagi ketika konten yang berkualitas itu kuantitasnya lebih banyak,” ujarnya.

Untuk diketahui, dalam kegiatan tersebut hadir juga Wartawan Senior sekaligus Asesor Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Nurcholis MA Basyari, CEO Tugu Media Group sekaligus Pemred Tugu Malang Irham Thoriq, Wartawan Senior M. Nasir, Wartawan Senior Haryo Prasetyo, Wartawan Senior Frans Surdiasis, dan Konsultasi Komunikasi Tri J. Sukaryana.

  • Bagikan