Tugujatim.id – Rachman Sidharta Arisandi adalah sedikit pengecualian dari beberapa hal yang lazim.
Lazimnya, seorang pejabat apalagi pejabat tertinggi di Perguruan Tinggi (rektor) adalah dia yang esklusif-elitis dan sangat menjaga image, salah satu yang biasa terjadi adalah mengambil jarak dengan bawahan dan bersifat layaknya akademisi yang kaku.
Tapi, tidak dengan Rachman Sidharta Arisandi. Jika tidak benar-benar mengenal dan sering bertemu, kita benar-benar tidak menyangka bahwa ia adalah seorang rektor.
Dia tiba-tiba muncul dalam sebuah acara tasyakuran menempati rumah baru salah seorang wartawan tugujatim.id area Mojokerto, Hanif Nanda Zakaria.”Saya juga kaget, saya ngundang iseng-iseng, ternyata pak rektor beneran hadir ke rumah sederhana saya,,” kata Hanif mengenang kejadian itu. Saat itu, Rachman dengan santainya memakai sarung dan jaket jeans.
Alih-alih hadir didampingi protokol, rachman pun terlihat keluar dari gang sempit seolah-olah sudah begitu hafal dengan jalan tikus dengan mengenakan motor matik berwarna merah.
Pria yang merupakan doktor lulusan Universitas Airlangga (Unair) juga hadir saat saya dan istri pulang umrah pada awal Maret lalu. Sama dengan Hanif, saya juga tidak menyangka bahwa Rektor Universitas Islam Majapahit (Unim) Mojokerto ini mau bersilaturahim ke orang yang jauh lebih muda dari dia.
Kurang lebih sekitar dua jam kita ngobrol dengan Rachman saat berkunjung kerumah kami sepulang umroh, Rachman bercerita salah satu suka dan dukanya dalam memimpin kampus Unim Mojokerto. Saya salut dengan kegigihannya. Saya yakin, selain tanggungjawab sebagai rektor, tanggungjawab sosial untuk bisa melanjutkan warisan sang ayah, juga menjadi penyemangat sendiri bagi Rachman.

Ada banyak hal seru yang dia ceritakan selama memimpin kampus yang didirikan oleh ayahnya, yang juga mantan Bupati Mojokerto Prof Dr H Machmoed Zain SH, MSi, APU. Beberapa hal seru yang diceritakan itu, tentu saja tidak bisa semuanya saya tulis dalam catatan ini.
Yang pasti, proses transisi kepemimpinan dari rektor pertama yang sekaligus pendiri, ke rektor kedua (Rachman Sidharta Arisandi) dipenuhi dengan tangisan sang ayah yang juga menjadi Ketua Dewan Pendiri. Ini sebagaimana terlihat dalam video laporan perkembangan pada wisuda ke XVI Universitas Islam Majapahit.
Tangisan tersebut dimaknai Rachman sebagai amanah besar. Kurang lebih satu tahun sebelum pelantikan, Rachman masih berjibaku dengan berbagai macam urusannya, yang bisa dibilang berjibun dan kritis. Salah satunya, adalah program doktoral-nya di Unair.
Ketika itu, Rachman dipanggil sang ayahanda, untuk ditanya kesediaannya berbakti kepada orang tua untuk ke-5 kalinya. lembar-lembar komitmen perlahan terisi dengan goresan-goresan perjuangan dan keberanian, hingga memaksa Rachman segera menyelesaikan segala persoalan prioritas dan menanggalkan yang tidak cukup urgen. Dia juga membuang masalah yang sama sekali tidak mempunyai kontribusi kepada transisi kepemimpinan, termasuk masalah-masalah pribadi.
Pada usia ke-31, Rachman berhasil melewati ujian tertutup pada studinya dan segera menghadap ayahanda untuk siap memikul tugas berat. Karena ujian tertutup dapat dilaksanakan setelah proses transisi pimpinan dilaksanakan. Mengapa terkesan tergesa-gesa, hal ini dikarenakan kondisi universitas yang semakin lemah, kacau dan rentan tak memiliki legalitas. Bisa dikata, Unim berada diujung tanduk ketika itu.
Dengan perjuangan dan strategi yang cukup epik dan efektif, Rachman dibantu oleh seorang sahabat kakaknya, alm. Ayub Daniel Aqso, yang kemudian juga menjadi sahabat Rachman untuk merebut kembali kampus tersebut dari dominasi kelompok tertentu. Sahabat itu bernama Sakban Rosidi.“Peran beliau bagai Krisna yang mengendarai kendaraan perang Arjuna hingga memenangkan pertempuran,” kata Rachman mengenang Sakban.
Setelah berhasil mengamankan agenda transisi kepemimpinan, Rachman menemui kebingungan memulai rezim kepemimpinannya. Salah satu penyebabnya adalah karena minimnya data yang dapat digunakan untuk menganalisis dan mengevaluasi seluruh kebijakan yang berlaku ketika itu.
Selama satu bulan, Rachman kemudian melakukan identifikasi persoalan dan cash opname. Setiap pejabat menjawab tidak tahu saat ditanya apa saja tentang apa yang menjadi diskripsi tugasnya, belum lagi menghadapi tradisi organisasi yang saat itu cenderung bersifat kekeluargaan, kolusionis dan enggan maju (berubah).
Stereotif negatif tentang pengelolaan universitas juga berlangsung terus selama satu tahun, hingga rektor meminta sekretaris eksekutif menyiapkan seluruh data dan materi presentasi dalam agenda evaluasi dan rapat terbuka Yayasan dan Rektorat tepat saat 1 tahun masa kepemimpinannya. Dalam rapat tersebut disampaikan bahwa UNIM telah berhasil melewati masa kritisnya, dan alhamdulillah, hal tersebut mulai mendapat apresiasi dan dukungan dari staf yang perlahan-lahan mulai memberikan legitimasinya kepada rektor.
Kembali pada kondisi awal pelantikan, setelah dipastikan tidak ada hutang di lembaga perbankan dan personal, maka Rachman kemudian memastikan perjuangannya akan terasa berat jika ia lakukan sendiri. Akhirnya, ia memberanikan diri mengajak Dr. Sakban Rosidi, M.Si sebagai Sekretaris Eksekutif Rektor dan Dr. Muh. Nur Sebagai Wakil Rektor Manajemen Sumberdaya dan Kerjasama.
Mengapa? karena dalam kondisi tersebut, Rachman harus didampingi oleh orang yang berprinsip, idealis dan satu lagi yang penting adalah lebih pandai dan berpengalaman dibanding dia dengan harapan dapat memberikan pertimbangan dan mampu membaca apa yang sedang menjadi fokus pembahasan.
Tak pelak, Dr. Sakban Rosidi dianggap tepat mendampingi, namun jika hanya didampingi mas Sakban, saya akan semakin ngegas pol, karena kolaborasinya pasti akan kian produktif menghasilkan hal-hal masif. Ibarat mesin, jika dipacu terus pasti menjadikan lingkungan menjadi kian panas. Kunci perubahan itu bergerak, dan bergerak itu dihasilkan dari gesekan.
Sehingga gesekan yang sangat cepat akan memunculkan temperatur tinggi, sangatlah berbahaya jika tetap dilaksanakan tanpa sistem pendinginan yang layak.
Karenanya, Rachman mengajukan permohonan pada orang yang paling senior untuk mendinginkan suasana, beliau adalah Dr. Muh Nur, mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Malang. Kebetulan, Sakban dan Muh Nuh adalah dua orang yang tinggal di Koya Malang.
Saat itu, ada yang menggelitik karena rektor di dampingi sekretaris eksekutif, wakil rektor manajemen akademik dan kemahasiswaan, wakil rektor manajemen sumber daya dan kerjasama, serta seorang Pembantu Rektor 3 (bidang kemahasiswaan). Lho apakah tidak tumpang tindih? Tidak, karena ia hanya diberi waktu tiga bulan untuk menyelesaikan sisa tugasnya, sementara WR MAK saat itu sibuk bersama rektor dan sekretaris eksekutif malakukan evaluasi akademik, sehingga fungsi mengatur kemahasiswaan sementara diserahkan pada PR 3 bidang Kemahasiswaan.
Dalam posisi seperti itu, Rachman sempat mengoperasionalkan gaya kepemimpinan otoriter, dan karenanya ia pernah mendapat kritik yang disampaikan langsung dengan singkat dan lugas kepadanya dari seorang teman sejawatnya di FISIP. “Mengapa bapak otoriter?”, pertanyaan itu langsung dijawab oleh Rachman.”Akan tiba waktunya saya menjalankan kepemimpinan saya secara reasonable-democratic, karena yang saya pimpin adalah institusi pendidikan,” kenang Rachman. Sebagai pemimpin yang berupaya melakukan transformasi, tentu ia harus dapat mempraktekkan dan memerankan berbagai gaya kepemimpinan. Mulai dari otoriter hingga demokratis.
Alhamdulilah jelang akhir dua periode kepemimpinan Rachman, UNIM telah maju pesat dan senantiasa melakukan berbagai improvement sebagai syarat perubahan. Iklim akademik yang tadinya sulit sekali di hidupkan, saat ini sudah begitu semarak. Tampaknya UNIM tidak terlalu menghabiskan perhatiannya dalam proses branding, karenanya sejak 3 tahun lalu, UNIM telah memproklamirkan diri sebagai kampus bereputasi.
Saat ini, disamping UNIM dikenal sebagai kampus terbesar di Mojokerto, Unim Mojokerto mendapatkan pengakuan 2 sertifikasi sekaligus pada 16 November 2022. Sertifikat tersebut adalah ISO 9001: 2015 dan ISO 21001:2018.
Kedua sertifikat tersebut diserahkan secara langsung oleh CEO dgiCert kepada Rektor UNIM Mojokerto saat wisuda ke-XIX pada 7 Desember 2022 lalu dan disaksikan oleh Bupati Mojokerto, Kepala LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur serta mitra strategis lainnya.
Ditanya soal bocoran blue print UNIM ke depan, Rachman yang dikenal terbuka tersebut hanya menjawab, ada semua dalam lustrum, renstra dan renop, tapi kalau mau detailnya, rahasia perusahaan.”Karena hanya saya dan tim kecil saya yang tahu,” katanya dengan tertawa kecil.
Yang pasti, perubahan prodi adalah hal biasa bagi perguruan tinggi swasta, ada yang bertahan, ada yang ditutup, ada yang dirintis. Seperti saat ini, Unim Mojokerto memiliki berbagai program studi (prodi) pada jenjang sarjana (S-1). Berbagai prodi tersebut diantaranya S-1 Manajemen, S-1 Akuntansi, S-1 Ilmu Komunikasi, S-1 Ilmu Pemerintahan, S-1 Pendidikan Agama Islam, S-1 Pendidikan Bahasa Indonesia, S-1 Pendidikan Bahasa Inggris, S-1 Pendidikan Matematika, S-1 Informatika, S-1 Teknik Sipil, S-1 Teknik Industri, S-1 Teknik Mesin dan S-1 Teknologi Hasil Pertanian (yang rencananya hendak ditutup).
Sementara prodi Pendidikan Kepelatihan Olahraga (PKO) telah terlihat aktif dan efektif meramaikan kampus dengan beberapa debut kegiatan yang tahun ini juga telah resmi menerima mahasiswa baru TA 2024-2025. Di tahun ini juga ditargetkan akan ada pengembangan prodi baru lagi, namun masih menunggu waktu yang tepat.
Ditempat terpisah, sahabat baik Rachman – Sakban Rosidi- berkomentar dengan lugas soal sosok Rachman.”Dek andik (panggilan kecil Rachman) selalu menghadapi situasi sulit di awalnya, tetapi selalu beruntung dan menemukan kesuksesannya di akhirnya,” kata Sakban yang dikenal sebagai ahli pendidikan dan logika.
Kalau kata Rachman, bisa jadi itu karena doa sang ayah saat aqikoh, di mana salah satunya berbunyi. “Ya Allah, jangan pertemuan dia dengan jalan yang mudah, agar ia semakin mengenal engkau”.
Jalan Rachman, merupakan jalan yang penuh duri dan bebatuan. Tapi, dia selalu diberi kekuatan untuk melintasinya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Penulis: Irham Thoriq (CEO Tugu Media Group)








