JEPANG, Tugujatim.id – Gunung Fuji, simbol kebanggaan Jepang dan salah satu gunung paling terkenal di dunia, baru-baru ini mencatat peristiwa yang mengkhawatirkan. Hingga akhir Oktober 2024, puncak gunung ini masih belum diselimuti salju, menciptakan rekor baru dalam 130 tahun terakhir sejak pencatatan dimulai pada 1894.
Fenomena ini telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan ahli cuaca, pemerintah, dan industri pariwisata, menggarisbawahi dampak nyata dari perubahan iklim yang kian memburuk.
Cuaca Ekstrem dan Penyebabnya
Musim panas ekstrem dan penyebabnya, menurut Yutaka Katsuta, peramal cuaca di Kantor Meteorologi Lokal Kofu, suhu tinggi musim panas berlanjut hingga September, menghambat udara dingin yang seharusnya membawa salju ke puncak gunung.
“Suhu tinggi musim panas ini dan suhu tinggi ini berlanjut hingga September, menghalangi udara dingin,” kata Katsuta mengkutip dari The Guardian.
Dia menambahkan, perubahan iklim kemungkinan memainkan peran dalam keterlambatan ini. Suhu musim panas tahun ini mencatat rekor terpanas sepanjang sejarah Jepang, menyamai level yang tercatat pada 2023, di mana gelombang panas ekstrem melanda berbagai wilayah di dunia.
Data dari Badan Meteorologi Jepang melaporkan bahwa musim panas 2024 adalah yang terpanas dalam sejarah pencatatan negara itu. Suhu rata-rata dari Juni hingga Agustus 2024 mencapai 1,76 derajat Celcius di atas normal, mengalahkan rekor pada 2010.
Hal ini juga diperkuat oleh posisi jet stream sub-tropis yang bergerak ke utara sehingga suhu tetap tinggi hingga musim gugur. Para ahli menyebut bahwa fenomena ini adalah bukti nyata bagaimana krisis iklim, diperparah oleh fenomena El Nino dan penggunaan bahan bakar fosil, meningkatkan frekuensi suhu ekstrem secara signifikan.
Menurut penelitian Climate Central, krisis iklim berperan besar dalam meningkatkan frekuensi cuaca ekstrem. Analisis menunjukkan bahwa suhu tinggi yang tidak biasa di Jepang lebih mungkin terjadi tiga kali lipat akibat krisis iklim, yang diperburuk oleh pola cuaca alami seperti El Nino dan penggunaan bahan bakar fosil. Para ilmuwan menegaskan, pemanasan global telah mengikis lapisan salju di belahan bumi utara selama 40 tahun terakhir, menunjukkan tren yang tidak bisa diabaikan.
Implikasi bagi Pariwisata dan Ekonomi
Keterlambatan salju di Gunung Fuji tidak hanya menimbulkan kekhawatiran lingkungan, tetapi juga mengancam sektor pariwisata yang menjadi andalan banyak wilayah di Jepang. Salju di puncak Fuji biasanya menjadi daya tarik visual yang menarik wisatawan dari berbagai penjuru dunia, menandai dimulainya musim dingin dan musim wisata terkait.
Baca Juga: 3 Risiko Konsumsi Air Minum Isi Ulang, Bikin Kamu Mikir Dua Kali?
Tanpa salju, daya tarik estetik gunung ini berkurang, yang berpotensi menurunkan jumlah kunjungan dan berdampak negatif pada pendapatan ekonomi lokal.
Selain krisis iklim, pariwisata Gunung Fuji telah menghadapi masalah overtourism dalam beberapa tahun terakhir. Otoritas lokal telah memberlakukan pajak wisata untuk mengurangi tekanan pada ekosistem, tetapi perubahan iklim membawa tantangan baru yang memerlukan solusi lebih komprehensif.
Seruan untuk Tindakan Global
Kasus ini adalah pengingat kuat bahwa perubahan iklim bukanlah ancaman yang jauh. Dampaknya sudah terasa dan memengaruhi aspek sosial, ekonomi, dan budaya. Para ilmuwan menyerukan langkah-langkah drastis untuk membatasi pemanasan global hingga di bawah 1,5 derajat Celcius seperti yang ditargetkan dalam Perjanjian Paris. Tanpa upaya global untuk mengurangi emisi dan melindungi lingkungan, fenomena seperti keterlambatan salju di Gunung Fuji bisa menjadi lebih umum dan merusak warisan alam serta budaya yang berharga.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Muhammad Abdul Majiid Al-Wahab/Magang
Editor: Dwi Lindawati








