Tugujatim.id – Thailand baru-baru mengumumkan ditemukannya beberapa sampel residu kimia atau pestisida pada anggur Shine Muscat impor yang telah beredar di pasaran. Pestisida yang ditemukan pada anggur tersebut sangat berbahaya karena melebihi batas tingkat maksimum yang diizinkan oleh Pemerintah Thailand.
Dilansir dari bangkokpost.com, informasi terkait kontaminasi bahan kimia tersebut telah ditemukan melalui tes laboratorium. Dewan Konsumen Thailand mencatat bahwa 23 dari 24 sampel anggur Shine Muscat yang telah diuji ditemukan residu bahan kimia berbahaya yang melampaui batas legal.
Ditemukan satu sampel anggur mengandung klorpirifos yang merupakan bahan kimia berbahaya tipe empat, dan 22 sampel anggur sisanya mengandung 14 jenis residu beracun yang melebihi batas standar.
“Ini cukup mengejutkan ketika kami menemukan 23 dari 24 sampel yang diuji mengandung residu melebihi batas yang diizinkan,” ucap Sekretaris Jenderal TCC, Saree Aongsomwang, mengutip dari bangkok.com pada Rabu (30/10/24).
Beberapa anggur yang telah diuji tersebut terkontaminasi dengan klorpirifo dan endrin aldehida yang dilarang berdasarkan Undang-Undang keamanan pangan di Thailand. Ditemukan terdapat 22 bahan kimia yang tidak tercantum dalam peraturan zat berbahaya di Thailand, termasuk triasulfuron, cyflumetofen, chlorantraniliprole, flonicamid, etoxazole, spirotetramat, dan lainnya.
Selain itu ditemukan juga adanya 37 dari 50 zat toksik merupakan pestisida sistemik, yang berarti mencakup sekitar 74% zat pestisida di dalam jaringan anggur sehingga sangat sulit untuk dibersihkan.
Dilansir dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), adanya kandungan pestisida pada makanan memang umum terjadi. Ada lebih dari 1.000 pestisida yang digunakan di seluruh dunia untuk memastikan makanan tidak rusak akibat adanya hama. Namun, pestisida juga memiliki sifat dan efek toksikologi yang berbeda. Jika makanan yang mengandung residu pestisida dikonsumsi dalam jangka panjang, akan mengakibatkan gangguan pencernaan.
Mengkonsumsi residu pestisida dalam tingkat tinggi dapat menyebabkan kematian. Tetapi jika hanya dikonsumsi dalam jangka pendek, residu pestisida dapat menyebabkan sakit perut dan muntah. Tidak hanya itu, ada juga resiko keracunan akut akibat mengonsumsi residu pestisida seperti paraestesia, tremor, sakit kepala, keletihan, perut mual, dan muntah. Selain itu, keracunan kronis terhadap residu pestisida dapat merusak sel-sel hati, ginjal, sistem saraf, sistem imunitas, dan juga sistem reproduksi.
Penggunaan residu pestisida pada makanan merupakan salah satu penyebab toksisitas dan penyebab utama penyakit manusia secara global. Menurut FAO pada tahun 2021, penggunaan pestisida meningkat sebesar 36% selama periode 2000-2019 di seluruh dunia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Penulis: Abidhah Jinan Salma Octavia/ Magang
Editor: Darmadi Sasongko








