• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
ILY.

Novel ILY Trilogi Bumi. (Foto: Gramedia)

Review Novel Ke-15 Trilogi Bumi, ILY Karya Tere Liye: Perjuangan Raib dan Seli

Dwi Linda by Dwi Linda
2 years ago
in Sastra & Budaya
0
Share on FacebookShare on Twitter

Tugujatim.id – Kegelapan itu lawan selanjutnya. Ini merupakan review novel lanjutan dari trilogi Bumi-nya bang Tere Liye yang ke-15, Ily. Cerita di novel sebelumnya bersambung. Memang menggantung adalah karakteristik dari novel ini, sebelumnya (Matahari Minor) telah membuat penggemar ingin tahu lanjutannya. Tapi memang begitu trilogi Bumi ini, pasti di ending menambahkan masalah baru.

Lanjut ke review, dari judulnya saja kita tahu, menyelipkan tentang kisah bang Ily anak dari Ilo dan Vey, dan kakak dari Ou, jika nama sekeluarga digabung menjadi I Love You, nama yang unik bukan. Pergi ke Klan Matahari Minor, Raib dan Seli yang kali ini tidak bersama si biang kerok Ali. Mereka mencari sahabatnya Ily, mayat Ily yang diculik oleh sesosok bayangan hitam misterius. Si Ali kalian masih di SagaraS, tinggal di sana bersama ibu tercinta.

You might also like

Malang

Gali Sejarah Teater Malang, DKM Kembali Gelar “SERAT” untuk Jembatani Kreatifitas Lintas Generasi

21/05/2026 3:32 PM
Busana Khas Malang

Kajian Sejarah Busana Khas Malang

11/04/2026 3:25 AM

Kali ini masih menggunakan sudut pandang Seli untuk menjadi orang pertama di klan Matahari Minor. Berbeda dari sudut pandang Raib yang sedikit kaku, sudut pandang Seli terkesan lebih santai dan diselipi beberapa humor yang siap membuat kita tertawa.

Baca Juga: Bupati Tuban: Presiden Jokowi Adalah Contoh Pemimpin yang Mengerti Rakyat

Awal cerita Seli bahagia dapat bertemu dengan sahabatnya Ily yang disuka, dia bertemu di dalam hutan kegelapan. Dan akhirnya merasa kecewa sebab sahabatnya itu yang dulunya baik, dispilin, tampan, tidak sombong itu berubah 360 derajat menjadi jahat. Perasaan bingung Seli ini mencuat. Menciptakan kesan marah dan sentimental yang terus terpancar di dalam cerita.

Tidak sebatas itu, perasaannya menjadi semrawut ketika dia mengetahui bahwa Tazk, ayah Raib, berubah menjadi jahat pula. Ketegangan terus meningkat ketika fakta baru diketahui Seli, dia harus memilih salah satu dari sosok jahat, Ily atau Tazk.

Di sini, sosok dua itu sudah kehilangan kesadaran, kesadaran keduanya sudah diambil dan digantikan oleh Bunga Matahari Hitam. Keputusan ini menguji persahabatan Raib dan Seli. Karena keduanya harus memilih antara kedua orang yang dicintai itu, Ily atau Tazk.

Di lain sisi, Raib yang sedari kecil tidak pernah bertemu dengan ayahnya, yaitu Tazk, sangatlah terpukul dengan kehadiran Raja Hutan Kegelapan yang memakai jasad dari ayahnya itu. Tere Liye membawakan novel ini dengan kekelaman dan horor yang mencekam. Horor-horor ini berbeda dari horor sebelumnya yang pada umumnya melibatkan makhluk halus, tetapi ini horor yang kompleks.

Ada penambahan karater baru dalam novel ini, No.-u namanya seorang pengendali hewan yang melakukan bonding dengan Si Putih. Petualangan ini ditemani juga oleh Si Putih, kucing Raib. Ternyata kucing itu bukan kucing biasa, dia adalah kucing purba dunia paralel, semua tahu ketika Si Putih bertemu dengan paman Batozar.

Lha penantian panjang saya akhirnya tersampaikan, ketika membaca novel Si Putih dulu saya semakin penasaran, bagaimana kalau Bang No.-u bertemu dengan kawanan Raib? Dan akhirnya terjawabkan di novel ini.

Dengan pertemuan yang tidak terduga, ketika Raib, Seli, dan Si Putih diserang oleh Panglima Kegelapan yaitu Ily, saat menyelamatkan nenek Cwaz yang dipenjara oleh Hutan kegelapan. Perasaan dari Seli, Raib dipermainkan di sini, bukan tokoh dalam novel itu saja, tapi pembaca juga akan dipermainkan perasaannya.

Lanjut, Seli bertemu dengan kanselir atau pimpinan tertinggi dari klan Matahari Minor, dengan watak Seli yang gampang tersulut tantangan akhirnya dia mengiyakan tantangan dari kanselir itu, siapa pemilik sebenarnya dari sarung tangan matahari? Akhirnya sarung tangan terbang menuju kanselir serta cocok dengan tangannya. Diketahui sarung tangan itu memang pemilik hak patennya ialah kanselir.

Baca Juga: H-1 Jelang HUT Kemerdekaan RI, Kantor Gubernur Jatim Dihadiahi Penggeledahan KPK

Kehilangan sarung tangan kemudian Ily, sedangankan Raib, sudah kehilangan Si Putih karena telah menemukan teman bondingnya, dan bertemu dengan ayahnya yang dari kecil pun tidak pernah bertemu. Dijamin bakal sedih kalian membacanya.

Muncul fakta baru bahwa Tazk ayah Raib tidak pergi meninggalkan Raib seutuhnya. Dia selalu di samping Raib hingga dirasa anaknya sudah mandiri. Itu disampaikan oleh Tazk dalam mimpi dalam mimpi, atau pesan dalam pesan, yang dialami oleh Seli itu, yaitu mimpi buruk, yang dalam klan ini menjadi teknologi, dalam menyampaikan pesan adalah mimpi.

Kemudian Tazk menyelipkan itu dalam pesannya Bunga Matahari Hitam, yang tidak diketahui oleh Bunga itu sendiri. Aneh kan? Ya itulah novel ini, dunia paralel pasti berbeda dari dunia kita, yaitu klan bumi.

Sebagai rekomendasi, bacalah dari novel pertama Bumi karena cerita yang diangkat bersambung seperti film di Netflix, berepisode. Jika tidak ingin membaca dari awal, minimal dari novel Matahari.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id

Writer: Muhammad Wahib Ali/Magang

Editor: Dwi Lindawati

Tags: ILY Karya Tere LiyeNovel trilogi Tere LiyeTere Liye
Dwi Linda

Dwi Linda

Related Stories

Malang

Gali Sejarah Teater Malang, DKM Kembali Gelar “SERAT” untuk Jembatani Kreatifitas Lintas Generasi

by Mochamad Abdurrochim
21/05/2026 3:32 PM
0

MALANG, Tugujatim.id – Dewan Kesenian Kota Malang (DKM) kembali menghadirkan ruang diskusi santai bagi para pegiat seni teater lewat agenda...

Busana Khas Malang

Kajian Sejarah Busana Khas Malang

by Darmadi Sasongko
11/04/2026 3:25 AM
0

Tugujatim.id - Kajian Sejarah Busana Khas Malang ditulis oleh Dwi Cahyono, Yayasan Inggil. Identitas sebuah daerah tidak hanya tercermin dari...

DPRD Kota Malang Catat PR Krusial di HUT ke-112, Kemiskinan hingga Banjir Belum Tuntas

Klambi Indis dari Sudut Pandang Seni Kontemporer

by Darmadi Sasongko
10/04/2026 11:05 AM
0

Tugujatim.id - Klambi Indis, dari sudut pandang Seni Kontemporer ditulis oleh Dimas Novib S, Pengurus Dewan Kesenian Malang. Tulisan ini...

Perjalanan Menuju Pertaubatan

Perjalanan Menuju Pertaubatan

by Dwi Linda
22/02/2026 11:43 AM
0

Oleh: Muhammad Mufid, Cerpenis Difabel di Malang Tugujatim.id - Malam sudah larut dan jalanan Kota Jakarta tampak lengang. Lampu-lampu jalan...

Next Post
Kantor Gubernur Jatim.

Geledah Kantor Gubernur Jatim selama Lebih dari 7 Jam, KPK Sita 1 Koper Dokumen

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID