TUBAN, Tugujatim.id – Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan 2026, suasana di sejumlah sudut Kota Tuban, Jatim, mulai berubah pada Rabu (18/02/2026). Di tepi jalan hingga dekat area pemakaman, pedagang bunga tabur bermunculan. Bagi mereka, momentum tradisi nyekar membawa berkah tersendiri.
Salah satu titik yang mulai ramai adalah di kawasan Jalan Pramuka, Tuban. Di sepanjang ruas jalan ini, lapak-lapak sederhana berdiri berjajar, menawarkan bunga tabur bagi warga yang hendak berziarah.
Seperti yang dirasakan Lilik, 60, warga Tuban yang sudah puluhan tahun menggeluti jualan bunga tabur. Bersama keluarganya, bapak tiga anak ini memanfaatkan momen tiga hari terakhir menjelang puasa untuk membuka lapak musiman di Jalan Pramuka.
Baca Juga: Musim Ziarah saat Lebaran, Pedagang Bunga Tabur di Jember Panen Cuan
Aroma harum bunga Kenanga, Mawar, Sampar Banyu, Gading Putih, Gading Kuning, hingga Pandan Wangi tercium kuat dari meja dagangannya. Bungkus-bungkus plastik berisi campuran bunga itu tersusun rapi, siap dibeli peziarah yang hendak nyekar.
“Sudah tiga hari ini mulai ramai. Biasanya memang menjelang puasa seperti ini,” tutur Lilik saat ditemui di lapaknya.
Menurut dia, sebagian stok bunga didatangkan dari Bojonegoro dan dalam daerah juga. Dia tidak selalu berjualan bunga tabur sepanjang tahun. Dagangan ini hanya muncul pada momentum tertentu yang sudah bisa ditebak.
“Ini jualan musiman. Biasanya jelang puasa, sambut Lebaran, sama Jumat Wage,” ujarnya.
Bisnis Musiman yang Menjanjikan
Meski hanya musiman, hasilnya cukup menjanjikan. Dalam sehari, Lilik mengaku mampu menjual hingga seribu bungkus bunga tabur. Harga per bungkus bervariasi, mulai Rp5 ribu hingga Rp10 ribu, tergantung ukuran dan jenis bunga.
“Kalau lagi ramai bisa sampai seribu bungkus sehari,” katanya sambil melayani pembeli.
Menariknya, usaha ini bukan hanya dijalankan sendiri. Lilik mengaku hampir seluruh anggota keluarganya ikut membuka lapak serupa ketika musim nyekar tiba. Istri dan anak-anaknya kompak berjualan di titik berbeda di sekitar Jalan Pramuka.

“Anak dan istri juga jualan. Jadi keluarga semua ikut,” ucap bapak tiga anak itu dengan senyum.
Dia bercerita, usaha bunga tabur sudah digelutinya sejak masih lajang. Dari tahun ke tahun, tradisi nyekar menjelang Ramadhan tetap bertahan sehingga dia selalu menyiapkan diri menyambut lonjakan pembeli.
Di luar musim tersebut, Lilik kembali ke rutinitas hariannya. Dia berjualan es dawet durian di kawasan Jalan Sunan Kalijaga. Namun begitu memasuki momentum ziarah, lapaknya langsung berganti wajah.
Baca Juga: Pedagang Lain Tutup Saat Lebaran, Lapak Bunga Tabur di Jember Tetap Buka setelah Salat Id
“Kalau hari biasa saya jualan es dawet durian. Ini khusus momen saja,” jelasnya.
Fenomena pedagang bunga tabur musiman memang menjadi pemandangan khas menjelang Ramadhan di Tuban, terutama di ruas Jalan Pramuka yang dikenal ramai aktivitas warga. Tradisi nyekar yang masih kuat di masyarakat membuat permintaan bunga meningkat tajam dalam waktu singkat.
Bagi Lilik dan keluarganya, momen ini bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi juga ladang rezeki yang selalu dinanti. Selama peziarah masih datang membawa doa untuk leluhur, selama itu pula aroma bunga tabur akan terus mewarnai sudut-sudut Tuban menjelang Ramadhan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Mochamad Abdurrochim
Editor: Dwi Lindawati








