SURABAYA, Tugujatim.id – Gedung Singa bukan sekadar bangunan tua yang berdiri kokoh di tengah kota, tetapi juga menyimpan jejak sejarah panjang yang sarat makna. Dari arsitekturnya yang khas hingga perannya di masa lalu, gedung ini menjadi saksi bisu perkembangan zaman yang menarik untuk ditelusuri. Lalu, bagaimana sebenarnya sejarah Gedung Singa Surabaya dan apa saja kisah yang tersembunyi di baliknya?
Di Surabaya, banyak sekali bekas-bekas peninggalan berupa barang hingga bangunan bersejarah. Salah satunya adalah Gedung Algemeene Maatschappij van Levensverzekering en Lijfrente atau masyarakat Surabaya lebih akrab menyebutnya Gedung Singa.
Baca Juga: Pasar Loak Gembong, Lokasi Populer Berburu Barang Bekas dan Antik di Surabaya
Keberadaan gedung ini semakin dikenal publik berkat kegiatan yang pernah diselenggarakan di dalamnya. Salah satunya adalah event Resonance of Lights yang tidak hanya menampilkan tata cahaya artistik, tetapi juga membuka akses bagi masyarakat untuk melihat lebih dekat interior gedung bersejarah tersebut.
Melalui pemanduan yang disediakan, pengunjung dapat mengetahui bagaimana setiap sudut dari luar hingga dalam gedung tersebut memiliki makna tersendiri.
Pertama-tama alasan mengapa gedung ini disebut gedung Singa adalah karena di depannya terdapat dua singa bersayap sebagai penanda dari keberadaannya. Gedung ini dibangun pada 1901 atau 125 tahun silam dan dirancang arsitek ternama bernama Hendrik Petrus Berlage.
Patung Simbol Keberanian dan Kebahagiaan

(Foto: Devi Ismayanti/Magang)
Tidak hanya dipasang di depan, tapi patung singa bersayap ini juga terpasang di beberapa ruang. Patung singa bukan hanya sebagai simbol penjaga dan simbol perlindungan saja, tetapi juga sebagai simbol keberanian dan kebahagiaan.
Patung singa bersayap ini dibuat oleh Joseph Da Costa, pematung yang menciptakan dua singa ikonik di depan gedung, lengkap dengan simbol matahari khas Mesir Kuno. Hal ini pernah diungkapkan oleh pemandu acara dalam event Resonance of Light.
Namun, ternyata bangunan ini tak hanya didesain oleh Hendrik Petrus Berlage dan Joseph Da Costa saja, terdapat satu lagi seniman yang turut andil dalam pembangunan gedung ini yaitu Jan Toorop yang ikut andil dalam mendesain karya porselen yang saat ini karya tersebut juga terpajang di bagian depan gedung.
Hingga kini, gedung yang berada di Jalan Jembatan Merah Nomor 19 tersebut tetap mempertahankan bentuk aslinya. Sentuhan-sentuhan khas arsitektur Eropa terlihat jelas, berpadu harmonis dengan elemen-elemen simbolik yang mewakili filosofi para perancangnya.
Uniknya lagi, gedung ini dulunya juga pernah digunakan sebagai kantor perusahaan umum asuransi jiwa dan tunjangan hari tua.
Dengan perencanaan pembangunan yang terencana dan filosofis, gedung ini tentunya perlu terus dijaga. Keberadaannya bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi juga pengingat bahwa identitas Surabaya dibangun dari perjalanan panjang yang meninggalkan jejak yang begitu penting.
Banyak sekali masyarakat yang mengagumi keindahan Gedung Singa Surabaya. Hal ini juga bisa dilihat dari ulasan Google mengenai keberadaan gedung.
Akun Najwa Alifiyah Azzahrah menuliskan jika tempat bersejarah ini begitu bagus dan bangunannya jadi ikon.
“Tempat bersejarah yang bagus dan vintage, mempunyai sejarah yang kuat tentang kisah pada zaman Belanda dan Indonesia pada masa lalu, bangunan yang merupakan ikon dari bagian kota lama heritage,” tulisnya.
Sementara itu, akun Nabila Tjandra menuliskan suasananya indah dengan ornamen-ornamen yang indah juga.
“Baru pertama kali masuk karena dibuka. Sungguh indah, kaca patri nan besar di jendela dan ornamen-ornamen yang indah. Namun sayang, sudah terbengkalai,” tulisnya.
Baca Juga: Rekomendasi Toko Buku di Surabaya, Rekomendasi Nomor 5 Bukan Toko Buku Biasa!
Sedangkan akun Keisha Jenskins menuliskan jika gedungnya cantik. Dia mengatakan, ini peninggalan yang memiliki kisah unik.
“Gedung yang cantik, setiap suduh bahkan detail kecil di dalamnya memiliki makna tersendiri. Benar-benar sebuah peninggalan yang memiliki kisah unik. Gedung ini harus terus berdiri kokoh dan dirawat,” tulisnya.
Sebagai salah satu bangunan bersejarah, Gedung Singa Surabaya tidak hanya merepresentasikan keindahan arsitektur masa lalu, tetapi juga menjadi pengingat akan perjalanan panjang sebuah kota dalam menghadapi perubahan zaman. Dengan mengenal sejarah Gedung Singa, masyarakat diharapkan semakin menghargai warisan budaya yang ada serta turut menjaga keberadaannya agar tetap lestari bagi generasi mendatang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Devi Ismayanti/Magang
Editor: Dwi Lindawati








