Tugujatim.id – Hari Bumi yang diperingati setiap 22 April adalah salah satu kampanye lingkungan hidup terbesar di dunia. Namun, tidak banyak yang tahu sejarahnya berawal dari sebuah gerakan protes warga Amerika Serikat pada 1970.
Gerakan protes tersebut tumbuh menjadi peringatan global yang kini dirayakan di lebih dari 190 negara, termasuk Indonesia.
Melansir dari EarthDay.org, gagasan tentang Hari Bumi muncul dari keprihatinan Senator Gaylord Nelson dari Wisconsin, Amerika Serikat. Dia merasa prihatin dengan kondisi lingkungan yang semakin memburuk akibat aktivitas manusia, terutama setelah peristiwa tumpahan minyak besar di Santa Barbara, California, pada 1969.
Baca Juga: Komitmen Lestarikan Lingkungan, LPPM UM Gencar Tanam Pohon di Hari Bumi
Nelson ingin menyuarakan masalah lingkungan secara nasional dan mengajak masyarakat untuk terlibat aktif. Dia kemudian menggandeng Denis Hayes, seorang mahasiswa aktivis, untuk mengorganisasi aksi nasional yang akhirnya dilaksanakan pada 22 April 1970.
Tanggal ini dipilih karena berada di antara masa ujian mahasiswa dan musim liburan sehingga diperkirakan akan menarik banyak partisipasi dari kalangan muda.
Saat itu, sekitar 20 juta orang dari berbagai latar belakang turun ke jalan di seluruh Amerika Serikat. Mereka menuntut perubahan dalam kebijakan pemerintah untuk melindungi lingkungan hidup.
Demonstrasi ini juga digadang-gadang menjadi salah satu aksi lingkungan terbesar dalam sejarah, dan dinilai sukses besar karena berhasil mendorong lahirnya berbagai kebijakan lingkungan baru.
Beberapa kebijakan penting yang lahir setelah Hari Bumi pertama di antaranya pembentukan Environmental Protection Agency (EPA) pada tahun yang sama, serta pengesahan Undang-Undang Udara Bersih (Clean Air Act), Undang-Undang Air Bersih (Clean Water Act), dan Undang-Undang Spesies Terancam Punah (Endangered Species Act).
Merujuk National Geographic, dua dekade kemudian, pada 1990, Denis Hayes kembali memimpin penyelenggaraan Hari Bumi, namun kali ini dengan cakupan global.
Lebih dari 140 negara ikut serta dalam kampanye tersebut, menjadikan Hari Bumi sebagai momen internasional untuk menyuarakan perlindungan bumi. Sejak saat itu, peringatan Hari Bumi terus berkembang dan menjadi bagian penting dalam agenda lingkungan dunia.
Pada tahun-tahun berikutnya, Hari Bumi tidak hanya diperingati melalui aksi demonstrasi, tetapi juga lewat berbagai kegiatan seperti penanaman pohon, kampanye daur ulang, edukasi lingkungan, hingga peluncuran inisiatif teknologi ramah lingkungan.
Platform Online Ikut Merayakan
Di era digital saat ini, Hari Bumi turut dirayakan di platform online. Tema yang diusung oleh EarthDay.org adalah “Planet vs. Plastics”, menyoroti darurat sampah plastik yang mengancam kesehatan manusia dan lingkungan.
Google, misalnya, setiap tahun merilis kuis interaktif bertema lingkungan untuk memperingati Hari Bumi, menarik jutaan pengguna dari seluruh dunia. Tagar seperti #EarthDay, #InvestInOurPlanet, dan #HariBumi ramai digunakan di media sosial sebagai bentuk kampanye digital.
Google Doodle juga turut merayakan Hari Bumi 2025 dengan menampilkan foto udara dari Bumi, yang menyoroti 6 area yang telah berprogres menuju masa depan yang lebih baik.
Di huruf G dalam Google, adalah potret pulau unik yang berlokasi di kepulauan tropis Maladewa. Untuk huruf O, menampilkan pemadangan Côte-Nord yang berbatu di Quebec, Kanada.
Lalu huruf G merupakan potret dari Mendoza di Argentina barat, sebelah timur Pegunungan Andes. Huruf L, adalah potret wilayah tenggara Utah, Amerika Serikat, di bagian dari Dataran Tinggi Colorado ini dibentuk oleh aktivitas tektonik.
Sedangkan huruf, E, adalah wilayah pedalaman terpencil di bagian barat New South Wales, Australia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Feni Yusnia
Editor: Dwi Lindawati








