MALANG, Tugujatim.id — Kalau kamu orang Malang atau sering lewat daerah Pakis, pasti sudah nggak asing lagi sama Pasar Pakis. Pasar ini nggak cuma tempat belanja sayur dan sembako, tapi juga punya cerita panjang yang menarik. Pasar yang satu ini termasuk pasar tradisional yang sudah jadi bagian dari kehidupan warga sejak dulu. Tapi, kamu pernah kepikiran nggak, gimana sejarah pasar Pakis awal mula berdiri?
Yuk, kita ngobrol santai soal sejarah Pasar Pakis—dari yang dulunya cuma kumpulan pedagang di pinggir jalan, sampai jadi pasar yang selalu ramai sampai sekarang!
Awalnya Cuma Lapak Sederhana
Cerita soal Pasar Pakis dimulai dari sekitar tahun 1960-an. Waktu itu, belum terdapat konstruksi resmi seperti sekarang. Warga Pakisjajar dan sekitarnya mulai jualan hasil bumi mereka—sayuran, buah, beras—di lahan kosong pinggir jalan. Bukan pasar harian seperti sekarang, tapi biasanya hanya ada saat hari pasaran Jawa seperti Pon atau Kliwon.
Karena lokasinya strategis (di tengah-tengah antara Tumpang, Jabung, dan Wajak), makin lama makin banyak orang yang mampir untuk belanja atau jualan. Lama-lama, para pedagang jadi menetap, dan pemerintah desa pun mulai membangun lapak-lapak semi permanen buat mereka. Dari situlah benih-benih Pasar Pakis modern mulai tumbuh.
Mulai Ditata Serius Tahun 1980-an
Masuk era 1980-an, pemerintah daerah mulai melirik potensi Pasar Pakis. Karena makin ramai dan jadi titik ekonomi warga, akhirnya mulai dibangun los pasar, paving sederhana, dan fasilitas pendukung lainnya. Pasar pun mulai punya jadwal buka rutin tiap hari, bukan cuma hari pasaran.
Menurut catatan dari Dinas Perdagangan Kabupaten Malang, Pasar Pakis masuk dalam kategori pasar tradisional kelas menengah yang punya perputaran ekonomi stabil. Nggak heran, dari tahun ke tahun, jumlah penjual yang berdagang dan pengunjung pasarnya terus bertambah.
Lebih dari Sekadar Tempat Belanja
Pasar ini bukan cuma soal transaksi jual beli, tapi juga jadi tempat buat warga saling sapa, curhat, bahkan tukar kabar. Kalau kamu datang pagi-pagi, bukan cuma lihat sayur mayur segar, tapi juga bisa dengerin obrolan para ibu-ibu soal resep masakan sampai berita terbaru di kampung.
Menurut Dr. Eko Haryono, sosiolog dari Universitas Brawijaya, pasar tradisional seperti Pasar Pakis itu punya peran sosial yang besar. “Pasar rakyat itu tempat berkumpul, ngobrol, berbagi. Nggak tergantikan oleh toko modern,” katanya dalam salah satu forum diskusi soal pasar rakyat.
Bertahan di Tengah Gempuran Minimarket
Pasar tradisional kadang dianggap mulai kalah saing oleh kehadiran took modern atau minimarket. Tapi nyatanya, Pasar Pakis masih bertahan sampai sekarang. Kenapa? Karena suasana dan kedekatan antara pedagang dan pembeli nggak bisa diganti sama etalase toko yang rapi.
Apalagi, banyak pedagang yang mulai melek teknologi. Ada yang sekarang jualan lewat grup WhatsApp warga, ada juga yang terima pesanan dan antar langsung ke rumah pelanggan tetapnya. Jadi meskipun bentuknya tradisional, jiwa pedagangnya tetap adaptif dan lincah!
Masih Tersisa Jejak Tempo Dulu
Kalau kamu main ke pasar ini, coba perhatikan detail-detailnya. Los pasar yang sudah tua, kios yang masih pakai papan nama jadul, bahkan suara-suara tawar-menawar yang khas—semua itu jadi bagian dari sejarah yang terus hidup.
BACA JUGA: Lokasi Pasar Pakis yang Strategis Dekat Permukiman
Meski sekarang beberapa bagian pasar sudah direnovasi, tapi nuansa tradisionalnya tetap terasa. Inilah yang bikin banyak warga lebih suka belanja ke sini ketimbang ke tempat lain.
Pasar Pakis Bukan Sekadar Tempat Jualan
Jadi, kalau ditanya soal sejarah Pasar Pakis, jawabannya bukan cuma soal tanggal berdiri atau pembangunan fisik. Tapi juga soal bagaimana pasar ini tumbuh bareng warga, jadi bagian dari keseharian mereka, dan terus bertahan menghadapi perubahan zaman.
Dari lapak sayur di pinggir jalan, sampai jadi pasar yang nggak pernah sepi, Pasar Pakis sudah jadi ikon lokal yang patut dijaga. Nggak heran kalau banyak warga Malang, terutama di wilayah Pakis dan sekitarnya, merasa punya ikatan emosional sama tempat ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Penulis : Muhammad In’am Chairuzzidan Anwar/ Magang
Editor: Darmadi Sasongko








