Tugujatim.id — Beberapa dekade lalu, halaman-halaman koran masih setia hadir setiap pagi di teras rumah. Bunyi khas ketika kertas dibuka, aroma tinta cetak yang menempel di jari, hingga ritual menyeduh kopi sambil membaca berita menjadi bagian dari gaya hidup.
Namun, kini pemandangan itu makin jarang ditemui. Banyak keluarga, termasuk orang tua penulis, telah berhenti berlangganan koran karena harga yang terus melambung dan isi yang semakin tipis. Sebagai gantinya, berita digital hadir dengan akses cepat, gratis, dan praktis hanya melalui ponsel.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan penting: apakah pergeseran tersebut juga menandakan senjakala bagi buku fisik? Apakah novel, majalah, atau tabloid kelak hanya menjadi memorabilia di rak-rak koleksi, bukan lagi bagian dari keseharian?
Toko Buku yang Kian Sepi
Pengalaman sederhana dari interaksi dengan siswa SMK yang sedang praktik kerja lapangan memberi gambaran jelas. Dari 13 siswa, hanya tiga yang mengaku sempat mendatangi toko buku dalam setahun terakhir, dan ironisnya, tak satu pun membeli buku.
Fakta ini menegaskan bahwa berbelanja buku fisik bukan lagi kebiasaan umum, khususnya di kalangan generasi muda.
Memori tentang toko buku legendaris pun perlahan memudar. Sekitar tahun 2011, Toga Mas masih berdiri di Purwokerto dan menjadi tujuan favorit untuk berburu bacaan.Selain harga miring, pembeli kerap mendapat bonus sampul buku. Namun setahun berselang, toko tersebut berubah menjadi restoran steak.
Kisah serupa terjadi di banyak daerah: toko buku tutup, berganti fungsi menjadi tempat makan atau usaha lain yang lebih menjanjikan keuntungan.
Tekanan Harga Kertas dan Kompetisi E-Book
Selain perubahan gaya hidup, faktor ekonomi juga mempercepat penurunan daya tarik buku fisik. Kenaikan harga kertas dalam beberapa tahun terakhir menyebabkan harga buku melonjak tajam. Kondisi ini membuat pencinta literasi harus berpikir ulang sebelum membeli buku baru.
Sebaliknya, e-book hadir dengan tawaran yang sulit ditolak: harga lebih murah, mudah diakses, bahkan tersedia gratis di beberapa platform. Seseorang cukup bermodal ponsel atau tablet untuk membawa “Perpustakaan Mini” ke mana saja, tanpa beban berat di tas. Kemudahan inilah yang membuat banyak pembaca beralih, meski masih ada kerinduan tersendiri pada sensasi membalik halaman buku.
Dari Tabloid Bola hingga Gramedia Digital
Transformasi media cetak ke ranah digital bukan sekadar prediksi; ia telah nyata terjadi. Salah satu contoh mencolok adalah Tabloid Bola, yang resmi menghentikan produksi cetaknya pada 2018.
Media olahraga populer ini kemudian beralih ke platform online, bolasport.com. Keputusan tersebut bukan tanpa alasan: penurunan pendapatan dan menurunnya jumlah pembeli tabloid selama bertahun-tahun membuat bisnis cetak tak lagi layak dipertahankan.
Di ranah buku, jaringan besar seperti Gramedia pun mengantisipasi perubahan dengan menghadirkan
Gramedia Digital, sebuah layanan berlangganan e-book. Langkah ini menjadi sinyal bahwa penerbit besar pun membaca arah angin: masa depan literasi tidak bisa lepas dari digitalisasi.
Hilangkah Tradisi Membaca Fisik?
Meski digital semakin dominan, perlu dicatat bahwa buku fisik belum tentu benar-benar punah. Justru, ia bertransformasi menjadi barang bernilai sentimental dan eksklusif.
Bagi sebagian orang, memiliki buku fisik adalah simbol cinta terhadap literasi, bukan sekadar alat membaca. Ada kebanggaan tersendiri saat menatap rak penuh buku di rumah, atau ketika mencium aroma khas kertas baru.
Namun, di luar lingkaran pecinta buku sejati, realitas berbeda. Bagi mayoritas masyarakat, terutama generasi digital native, membaca melalui layar terasa lebih masuk akal: hemat biaya, hemat ruang, dan serba cepat. Maka, tantangan terbesar adalah bagaimana menjaga minat baca tetap tinggi, terlepas dari medium yang digunakan.
Masa Depan: Bukan Punah, Melainkan Berubah
Apakah buku fisik akan sirna? Tidak sepenuhnya. Kemungkinan besar, buku fisik akan menempati ruang khusus—mirip piringan hitam yang tetap eksis di tengah dominasi musik digital.
Ia akan hidup dalam komunitas tertentu: kolektor, akademisi, atau mereka yang menganggap membaca fisik sebagai pengalaman spiritual.
Sementara itu, dunia digital akan terus berkembang dengan fitur interaktif, kemudahan distribusi, dan akses lintas negara. Literasi tetap bertahan, hanya bentuknya yang bergeser. Yang lebih penting bukan lagi soal “fisik atau digital”, melainkan bagaimana masyarakat bisa tetap mencintai aktivitas membaca di tengah derasnya arus hiburan cepat saji.
Kita mungkin memang sedang menyaksikan senjakala buku fisik. Toko buku tutup satu per satu, harga kertas kian melambung, dan generasi muda lebih akrab dengan layar gawai ketimbang halaman kertas.
Namun, sama seperti koran yang kini berpindah ke portal berita online, buku fisik pun menemukan ruang baru di hati mereka yang menghargainya sebagai warisan budaya.
Buku tidak akan punah, hanya berganti cara kita merayakan kehadirannya. Yang lebih mendesak adalah memastikan semangat membaca tidak ikut tenggelam. Sebab tanpa minat baca, baik fisik maupun digital, literasi akan benar-benar memasuki masa senjanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Penulis: Safiruddin Jailani/ Magang
Editor: Darmadi Sasongko








